Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kekeringan Parah Dorong Hutan Tropis ke Ambang Kehancuran

Kompas.com, 19 Mei 2026, 19:01 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

Jika kekeringan tidak kunjung berhenti, pertumbuhan pohon akan melambat, daun-daun akan gugur lebih cepat, dan jumlah pohon yang mati bisa semakin meningkat. Kekeringan yang parah juga membuat hutan menjadi lebih rapuh dan mudah terserang kebakaran, penyakit, serta kerusakan akibat badai. Lama-kelamaan, semua tekanan ini akan memperlemah kemampuan hutan untuk menjalankan tugasnya sebagai penyerap polusi karbon.

Para ilmuwan semakin khawatir tentang kemungkinan terjadinya "titik kritis" pada beberapa ekosistem tropis. Titik kritis adalah sebuah ambang batas di mana jika terlewati, ekosistem tersebut akan berubah dengan sangat cepat dan bakal sangat sulit untuk kembali ke kondisi semula.

Baca juga: Menhut Serukan Penyelamatan Hutan di Tengah Kondisi Geopolitik Global

Di hutan Amazon contohnya, para peneliti telah memperingatkan bahwa pemanasan yang meluas, kekeringan, dan penebangan hutan lama-kelamaan bisa mengubah sebagian wilayah hutan hujan tersebut menjadi kawasan padang rumput yang gersang.

Penelitian baru ini tidak menyatakan bahwa hutan tropis sudah melewati ambang batas berbahaya tersebut. Namun, para penulis berpendapat bahwa semakin sering dan meluasnya kekeringan pada tanaman menunjukkan bahwa beberapa wilayah hutan mungkin sudah mulai mendekati batas maksimal dari kemampuan mereka untuk menahan tekanan cuaca ekstrem.

Hal ini sangat penting karena hutan tropis memengaruhi iklim lewat beberapa cara yang saling berkaitan. Selain menyimpan karbon, pohon-pohon di hutan juga melepaskan uap air ke udara melalui proses penguapan dari daun mereka.

Proses ini sangat membantu menciptakan hujan, baik di daerah sekitar hutan itu sendiri maupun di wilayah tetangganya. Saat kondisi hutan semakin melemah, sistem kerja alami ini bisa mulai rusak, yang akhirnya berpotensi membuat kondisi cuaca menjadi semakin kering lagi.

Masa depan yang tidak pasti

Peneliti juga membandingkan temuan mereka dengan simulasi model iklim saat ini. Namun, banyak model masih kesulitan untuk secara akurat menangkap interaksi kompleks antara vegetasi, kelembaban tanah, dan kondisi atmosfer di wilayah tropis, sehingga lebih sulit untuk memprediksi secara tepat bagaimana hutan tropis akan merespons perubahan iklim di masa depan.

Beberapa daerah mungkin terbukti lebih tangguh daripada yang diperkirakan, sementara yang lain dapat memburuk lebih cepat di bawah pemanasan yang berkelanjutan.

Penelitian terbaru menunjukkan tanda-tanda bahwa sebagian wilayah hutan Amazon sudah mulai kurang efektif dalam menyimpan karbon, terutama selama tahun-tahun terjadinya kekeringan ekstrem. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa suhu yang semakin panas, badai, dan pola hujan yang berubah-ubah ikut mempercepat kematian pohon di beberapa hutan tropis.

Baca juga: PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global

Meskipun begitu, para ilmuwan menegaskan bahwa kehancuran hutan secara meluas bukanlah hal yang tidak bisa dihindari.

Masa depan ekosistem tropis akan sangat bergantung pada seberapa cepat kita bisa mengurangi pembuangan gas rumah kaca dan seberapa efektif kita bisa mengendalikan penebangan hutan.

Melindungi hutan yang masih utuh juga bisa membantu menjaga daya tahan tubuh hutan tersebut. Hutan yang sehat dan tidak diganggu oleh manusia umumnya jauh lebih kuat menghadapi kekeringan dibandingkan dengan area hutan yang sudah terpotong-potong dan melemah akibat penebangan liar, lahan pertanian, atau kebakaran.

Temuan-temuan ini menambah bukti nyata bahwa perubahan iklim tidak hanya merusak hutan tropis lewat kejadian-kejadian sesaat saja, melainkan sudah mengubah kondisi dasar yang dibutuhkan hutan ini untuk bertahan hidup.

Apakah hutan-hutan ini nantinya tetap bisa terus menjalankan tugasnya melindungi bumi di dunia yang semakin panas dan kering, masih menjadi salah satu pertanyaan besar yang belum terjawab dalam ilmu sains iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau