Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 22 Mei 2026, 13:14 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Dalam panggung mitigasi iklim, perhatian publik sering kali tertuju pada reduksi karbon dioksida (CO2). Padahal, ada satu aktor antagonis lain jauh lebih agresif dalam memicu pemanasan global jangka pendek, yaitu gas metana (CH4).

Sebagai salah satu negara produsen emisi metana yang signifikan di Asia Tenggara, Indonesia kini berada di titik krusial untuk mengambil tindakan tegas terintegrasi dari hulu hingga ke hilir.

Data nasional menunjukkan sektor pengelolaan limbah dan sampah menempati posisi sebagai penyumbang emisi yang mengkhawatirkan. Di Indonesia, komposisi sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) masih didominasi oleh material organik mencapai angka 63 persen.

Akibat penumpukan sampah organik yang tidak terkelola dengan baik ini, potensi emisi metana nasional diperkirakan menyentuh angka fantastis, yakni sebesar 21 juta ton CO2 ekuivalen.

Angka ini menjadi alarm keras bahwa manajemen pembuangan akhir konvensional sudah tidak lagi memadai dan TPA di berbagai daerah telah melebihi batas waktu rencana desainnya (design lifetime).

Secara awam, masyarakat mungkin lebih familier dengan polusi knalpot atau asap pabrik yang menghasilkan CO2. Namun, metana adalah ancaman yang tak kasatmata namun jauh lebih merusak.

Peneliti BRIN, Prof. Irhan Febijanto menjelaskan, gas metana memiliki kemampuan memerangkap panas di atmosfer bumi secara instan dengan potensi pemanasan global mencapai 28 hingga 36 kali lebih kuat dibandingkan dengan karbon dioksida.

"Gas metana ini mempunyai dampak global warming potential 28 kali lebih besar dibandingkan emisi gas rumah kaca lainnya seperti karbon dioksida," ungkap Prof. Irhan.

Baca juga: Emisi Metana Bantargebang Peringkat 2 Global, Bisa Dimanfaatkan untuk EBT

Dia menjelaskan, sifat metana yang sangat reaktif dan mudah terbakar menjadi alasan utama mengapa TPA dengan sistem terbuka sering kali mengalami bencana kebakaran hebat dan sulit dipadamkan.

"Intervensi terhadap metana adalah cara tercepat dan paling efektif jika dunia ingin memperlambat laju kenaikan suhu bumi dalam jangka pendek," ujarnya.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target penurunan emisi dari 29 persen menjadi 31,89 persen dengan usaha sendiri (unconditional), dan dari 41 persen menjadi 43,2 persen dengan bantuan internasional (conditional) pada tahun 2030.

Meski pemerintah telah menetapkan target ambisius dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) penurunan emisi sektor limbah sebesar 40 juta ton, realitas lapangan menyisakan tantangan besar.

Sektor pengelolaan sampah selama ini kerap dikategorikan sebagai sektor yang tidak menghasilkan keuntungan (non-profitable), sehingga kapasitas fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tidak mampu mendanai infrastruktur pengolahan modern yang ideal.

Selain itu, penanganan secara sporadis dan sistem open dumping yang masih dominan membuat akumulasi gas metana di bawah tumpukan sampah terus membesar tanpa adanya sistem penangkapan gas (landfill gas recovery) yang terintegrasi.

Menyikapi hal ini, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) telah menyusun komitmen dan peta jalan aksi yang lebih agresif. Kebijakan nasional kini dipertegas dengan pelarangan pembuangan sampah organik langsung ke TPA.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau