KOMPAS.com - Gabungan pembangkit listrik tenaga angin dan surya berhasil menghasilkan lebih banyak listrik daripada gas di seluruh dunia untuk pertama kalinya pada bulan April lalu, menurut hasil analisis terbaru dari lembaga pemikir asal Inggris Ember.
Melansir Edie, Kamis (21/5/2026) lembaga tersebut menemukan bahwa selama bulan tersebut, tenaga angin dan surya menyumbang 22 persen dari total produksi listrik dunia, unggul di atas gas yang berada di angka 20 persen.
Pergeseran ini mencerminkan pertumbuhan yang stabil dari kapasitas energi terbarukan, dan bukan sekadar reaksi jangka pendek akibat melonjaknya harga bahan bakar fosil setelah perang antara AS dan Iran.
Bulan April biasanya memang menjadi waktu yang sangat bagus untuk menghasilkan energi terbarukan.
Hal ini karena cuaca musim semi di belahan bumi bagian utara sangat mendukung peningkatan tiupan angin serta produksi sinar matahari. Kebanyakan panel surya yang terpasang di dunia memang menumpuk di wilayah tersebut.
"Krisis energi yang terjadi saat ini semakin memperkuat alasan ekonomi mengapa kita harus beralih ke energi terbarukan dibandingkan terus membeli gas impor. Selain itu, situasi ini juga membuat pemerintah merasa semakin mendesak untuk mempercepat pemasangan pembangkit listrik ramah lingkungan tersebut," kata Kostantsa Rangelova, seorang analis listrik global dari Ember.
Lembaga Ember memperkirakan bahwa produksi listrik dari tenaga angin dan surya di seluruh dunia naik 13 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
China mencatat kenaikan sebesar 14 persen, sementara produksi listrik ramah lingkungan ini naik 13 persen di Uni Eropa dan melonjak 35 persen di Inggris. Negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Australia, Cile, dan Brasil juga mencatat kenaikan produksi.
Analisis ini dibuat berdasarkan data laporan listrik resmi dari 36 negara, serta menggunakan perkiraan angka untuk negara-negara yang belum mengeluarkan data resmi mereka untuk bulan April.
Hasil temuan ini muncul di saat pemerintah berbagai negara dan para investor sedang menghitung ulang keamanan energi mereka. Hal ini dipicu oleh kacaunya pasar bahan bakar fosil akibat konflik yang terjadi di Iran.
Sebuah survei oleh Asosiasi Investasi Berkelanjutan dan Keuangan Inggris (UKSIF) di Inggris menemukan bahwa para investor memperkirakan krisis saat ini akan mempercepat pemberian dana untuk proyek-proyek energi terbarukan.
Survei ini melibatkan perusahaan-perusahaan investasi yang mengelola dana sangat besar, sekitar 5,5 triliun pond sterling.
Hampir 9 dari 10 investor yang mengisi survei mengatakan mereka yakin investasi dunia maupun investasi di Inggris untuk energi terbarukan akan semakin meningkat setelah pecahnya perang.
Selain itu, lebih dari tiga perempat peserta survei mengatakan bahwa berinvestasi di sektor energi terbarukan sekarang terlihat tidak begitu berisiko jika dibandingkan dengan proyek minyak dan gas.
Banyak dari mereka juga merasa lebih yakin dengan masa depan jangka panjang dari sektor energi ramah lingkungan ini.
Baca juga: Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
"Perusahaan-perusahaan minyak dan gas mungkin memang sedang menikmati keuntungan besar yang datang mendadak akibat guncangan pasokan dunia saat ini," ungkap James Alexander, Kepala Eksekutif UKSIF.
Namun, risiko-risiko baru yang muncul akibat krisis ini kemungkinan besar akan mendorong pemerintah berbagai negara untuk mempercepat langkah mereka agar bisa segera lepas dari ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Joe Crehan, direktur investasi dari Greenbank menambahkan, sama seperti krisis minyak kembar pada tahun 1970-an yang mempercepat perubahan strategi menuju kemandirian energi, konflik Iran saat ini kini mendorong percepatan kebutuhan akan energi terbarukan sebagai jalur paling aman untuk masa depan.
Hasil survei ini senada dengan pernyataan terbaru dari Fatih Birol, kepala Badan Energi Internasional (IEA). Ia mengatakan bahwa konflik saat ini bisa memberikan dorongan besar bagi perkembangan energi terbarukan, karena negara-negara mulai memikirkan kembali bahayanya terus bergantung pada impor minyak dan gas.
Di saat yang sama, IEA juga telah memperingatkan bahwa cadangan minyak mentah dunia saat ini sedang merosot turun dengan kecepatan yang memecahkan rekor.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya