Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pertama Kali, Tenaga Angin dan Surya Jadi Sumber Listrik Terbesar Dunia

Kompas.com, 22 Mei 2026, 14:35 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Gabungan pembangkit listrik tenaga angin dan surya berhasil menghasilkan lebih banyak listrik daripada gas di seluruh dunia untuk pertama kalinya pada bulan April lalu, menurut hasil analisis terbaru dari lembaga pemikir asal Inggris Ember.

Melansir Edie, Kamis (21/5/2026) lembaga tersebut menemukan bahwa selama bulan tersebut, tenaga angin dan surya menyumbang 22 persen dari total produksi listrik dunia, unggul di atas gas yang berada di angka 20 persen.

Pergeseran ini mencerminkan pertumbuhan yang stabil dari kapasitas energi terbarukan, dan bukan sekadar reaksi jangka pendek akibat melonjaknya harga bahan bakar fosil setelah perang antara AS dan Iran.

Baca juga: Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan

Bulan April biasanya memang menjadi waktu yang sangat bagus untuk menghasilkan energi terbarukan.

Hal ini karena cuaca musim semi di belahan bumi bagian utara sangat mendukung peningkatan tiupan angin serta produksi sinar matahari. Kebanyakan panel surya yang terpasang di dunia memang menumpuk di wilayah tersebut.

"Krisis energi yang terjadi saat ini semakin memperkuat alasan ekonomi mengapa kita harus beralih ke energi terbarukan dibandingkan terus membeli gas impor. Selain itu, situasi ini juga membuat pemerintah merasa semakin mendesak untuk mempercepat pemasangan pembangkit listrik ramah lingkungan tersebut," kata Kostantsa Rangelova, seorang analis listrik global dari Ember.

Produksi listrik naik

Lembaga Ember memperkirakan bahwa produksi listrik dari tenaga angin dan surya di seluruh dunia naik 13 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

China mencatat kenaikan sebesar 14 persen, sementara produksi listrik ramah lingkungan ini naik 13 persen di Uni Eropa dan melonjak 35 persen di Inggris. Negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Australia, Cile, dan Brasil juga mencatat kenaikan produksi.

Analisis ini dibuat berdasarkan data laporan listrik resmi dari 36 negara, serta menggunakan perkiraan angka untuk negara-negara yang belum mengeluarkan data resmi mereka untuk bulan April.

Hasil temuan ini muncul di saat pemerintah berbagai negara dan para investor sedang menghitung ulang keamanan energi mereka. Hal ini dipicu oleh kacaunya pasar bahan bakar fosil akibat konflik yang terjadi di Iran.

Investor beralih ke energi terbarukan

Sebuah survei oleh Asosiasi Investasi Berkelanjutan dan Keuangan Inggris (UKSIF) di Inggris menemukan bahwa para investor memperkirakan krisis saat ini akan mempercepat pemberian dana untuk proyek-proyek energi terbarukan.

Survei ini melibatkan perusahaan-perusahaan investasi yang mengelola dana sangat besar, sekitar 5,5 triliun pond sterling.

Hampir 9 dari 10 investor yang mengisi survei mengatakan mereka yakin investasi dunia maupun investasi di Inggris untuk energi terbarukan akan semakin meningkat setelah pecahnya perang.

Selain itu, lebih dari tiga perempat peserta survei mengatakan bahwa berinvestasi di sektor energi terbarukan sekarang terlihat tidak begitu berisiko jika dibandingkan dengan proyek minyak dan gas.

Banyak dari mereka juga merasa lebih yakin dengan masa depan jangka panjang dari sektor energi ramah lingkungan ini.

Baca juga: Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam

"Perusahaan-perusahaan minyak dan gas mungkin memang sedang menikmati keuntungan besar yang datang mendadak akibat guncangan pasokan dunia saat ini," ungkap James Alexander, Kepala Eksekutif UKSIF.

Namun, risiko-risiko baru yang muncul akibat krisis ini kemungkinan besar akan mendorong pemerintah berbagai negara untuk mempercepat langkah mereka agar bisa segera lepas dari ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Joe Crehan, direktur investasi dari Greenbank menambahkan, sama seperti krisis minyak kembar pada tahun 1970-an yang mempercepat perubahan strategi menuju kemandirian energi, konflik Iran saat ini kini mendorong percepatan kebutuhan akan energi terbarukan sebagai jalur paling aman untuk masa depan.

Hasil survei ini senada dengan pernyataan terbaru dari Fatih Birol, kepala Badan Energi Internasional (IEA). Ia mengatakan bahwa konflik saat ini bisa memberikan dorongan besar bagi perkembangan energi terbarukan, karena negara-negara mulai memikirkan kembali bahayanya terus bergantung pada impor minyak dan gas.

Di saat yang sama, IEA juga telah memperingatkan bahwa cadangan minyak mentah dunia saat ini sedang merosot turun dengan kecepatan yang memecahkan rekor.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau