Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Isu Sosial Jadi Kendala Investasi Panas Bumi di Indonesia

Kompas.com, 22 Mei 2026, 10:32 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Iklim usaha dan investasi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Indonesia dinilai masih belum kondusif. Pemerintah mengakui pengembangan proyek panas bumi di sejumlah daerah masih menghadapi tantangan sosial berupa penolakan masyarakat.

Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Priatin Hadi Wijaya mengatakan, salah satu pekerjaan rumah terbesar dalam pengembangan energi panas bumi adalah meningkatkan pemahaman masyarakat terkait proyek PLTP.

Menurut dia, protes masyarakat terhadap proyek panas bumi kerap dipicu ketidaktahuan dan kekhawatiran yang tidak tepat. Misalnya, masyarakat mengaitkan aktivitas PLTP dengan risiko gempa bumi maupun bencana lumpur seperti kasus Lumpur Lapindo di Sidoarjo.

Baca juga: Dari Berkah ke Bencana, Suara Warga Sumut Hidup Dekat Proyek Panas Bumi

“Masalah gempa bumi dikaitkan dengan panas bumi, padahal saya juga mitigasi bencana geologi, saya bilang enggak ada kaitannya gempa bumi dengan PLTP,” ujar Hadi dalam webinar, Kamis (21/5/2026).

Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) itu menjelaskan, aktivitas pemboran dalam proyek panas bumi memang perlu memperhatikan aspek mitigasi bencana, terutama terkait gerakan tanah. Namun, hal tersebut harus dipahami secara proporsional.

Karena itu, Hadi menilai pemerintah pusat dan daerah, perusahaan pengembang PLTP, serta para pemangku kepentingan lainnya perlu lebih aktif berdialog dengan masyarakat. Sosialisasi dinilai penting agar masyarakat memahami manfaat proyek panas bumi yang dinilai lebih besar dibandingkan risikonya.

Tantangan sosial

Ia mencontohkan, persoalan sosial turut memengaruhi proses tata guna lahan dan perizinan proyek PLTP. Padahal, sebagian besar potensi panas bumi Indonesia berada di kawasan hutan lindung dan hutan konservasi.

Menurut Hadi, tantangan sosial serupa juga terjadi dalam pengembangan proyek panas bumi di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“NTT itu, mohon maaf, sampai Uskup Larantuka pun itu juga sering protes. Ini memang kami perlu sosialisasikan secara masif agar masyarakat tahu secara seimbang bagaimana kemanfaatan dari panas bumi,” katanya.

Di sisi lain, Hadi menilai proyek panas bumi berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi daerah melalui penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Dari skema bagi hasil PNBP panas bumi, pemerintah pusat hanya memperoleh 20 persen, sedangkan 80 persen sisanya dialokasikan untuk daerah.

Ia menjelaskan, sebanyak 16 persen bagian daerah diberikan kepada pemerintah provinsi, 32 persen untuk kabupaten penghasil, dan 32 persen lainnya dibagikan merata kepada seluruh kabupaten di provinsi terkait.

Baca juga: Produksi Listrik Panas Bumi KS Orka Renewables Lampaui 1 Juta MWh

“Makanya gubernur dan bupati itu berlomba-lomba untuk membangun suasana yang kondusif investasi dalam panas bumi,” ujar Hadi.

Selain tantangan sosial, pengembangan investasi PLTP juga masih menghadapi persoalan regulasi dan tarif listrik bersama PT PLN (Persero).

Padahal, Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar. Hadi menyebutkan, kapasitas panas bumi Indonesia mencapai 24 gigawatt (GW), terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Namun, pemanfaatan panas bumi untuk sektor ketenagalistrikan baru mencapai 2,7 GW atau sekitar 11,8 persen dari total potensi tersebut.

Menurut dia, panas bumi berpotensi menjadi tulang punggung sistem ketenagalistrikan nasional sekaligus mendukung target penghentian bertahap penggunaan batu bara menuju net zero emission (NZE) pada 2060.

Selain untuk pembangkit listrik, energi panas bumi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk sektor wisata, agribisnis, industri hidrogen, hingga ekstraksi mineral.

“Kalau kita bisa bergerak ke 20 persen saja itu sudah luar biasa. Harapannya nanti 2030 bisa mencapai di atas 4 GW,” tutur Hadi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Isu Sosial Jadi Kendala Investasi Panas Bumi di Indonesia
Isu Sosial Jadi Kendala Investasi Panas Bumi di Indonesia
Pemerintah
Hari Keanekaragaman Hayati 2026: PBB Tekankan Peran Anak Muda hingga Masyarakat Adat
Hari Keanekaragaman Hayati 2026: PBB Tekankan Peran Anak Muda hingga Masyarakat Adat
Pemerintah
Belantara Foundation Dorong Bioprospeksi Jadi Motor Bioekonomi Berkelanjutan
Belantara Foundation Dorong Bioprospeksi Jadi Motor Bioekonomi Berkelanjutan
LSM/Figur
Anak Usaha SIG Kelola Limbah yang Dihasilkan Industri Migas
Anak Usaha SIG Kelola Limbah yang Dihasilkan Industri Migas
Swasta
Studi: Cuaca Rusak Panen, Harga Pangan Naik 2 Kali Lipat Lebih Cepat
Studi: Cuaca Rusak Panen, Harga Pangan Naik 2 Kali Lipat Lebih Cepat
Pemerintah
AI Permudah Pekerjaan, tapi Bisa Gerus Kemampuan Berpikir Kritis
AI Permudah Pekerjaan, tapi Bisa Gerus Kemampuan Berpikir Kritis
Swasta
PLN Resmikan SPKLU Center Tanjung Priok, Perluas Infrastruktur Kendaraan Listrik
PLN Resmikan SPKLU Center Tanjung Priok, Perluas Infrastruktur Kendaraan Listrik
BUMN
Nelayan di Pesisir Aceh hingga NTT Keluhkan Kesulitan BBM
Nelayan di Pesisir Aceh hingga NTT Keluhkan Kesulitan BBM
LSM/Figur
Sumber Daya Nonkonvensional Jadi Harapan Baru Pemenuhan Energi Nasional
Sumber Daya Nonkonvensional Jadi Harapan Baru Pemenuhan Energi Nasional
Swasta
Efek Domino Penutupan Hormuz: Inflasi Meningkat, Mata Uang Melemah
Efek Domino Penutupan Hormuz: Inflasi Meningkat, Mata Uang Melemah
Pemerintah
Sampah Plastik Makanan dan Minuman Dominasi Laut Indonesia
Sampah Plastik Makanan dan Minuman Dominasi Laut Indonesia
Pemerintah
AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim
AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim
Pemerintah
Kontrol Negara atas Filantropi Masih Kuat, Hambat Solidaritas Warga
Kontrol Negara atas Filantropi Masih Kuat, Hambat Solidaritas Warga
LSM/Figur
Saat Mangrove Menjadi Penopang Ekonomi dan Harapan Baru Warga Pesisir
Saat Mangrove Menjadi Penopang Ekonomi dan Harapan Baru Warga Pesisir
BrandzView
Startup AS dan Portugal Kembangkan Teknologi Pemantauan Wilayah Konservasi RI
Startup AS dan Portugal Kembangkan Teknologi Pemantauan Wilayah Konservasi RI
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau