Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kualitas Udara Eropa Membaik tapi Masih Jauh dari Target 2030

Kompas.com, 26 Mei 2026, 18:09 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber France24

KOMPAS.com - Kualitas udara di Eropa semakin membaik, tetapi masih dibutuhkan usaha yang lebih keras lagi untuk bisa mencapai target tahun 2030 yang telah ditetapkan oleh Uni Eropa.

Hal ini diungkapkan oleh Badan Lingkungan Eropa (EEA) dalam laporan tahunan mereka.

"Standar yang ditetapkan Uni Eropa sebagian besar sudah berhasil dipenuhi di banyak wilayah di Eropa, khususnya untuk polusi partikel kecil yang berbahaya (PM2.5) dan gas nitrogen dioksida (NO2)," kata EEA dalam sebuah pernyataan resmi.

Namun, melansir France24, Kamis (30/4/2026) di sekitar 20 persen stasiun pemantau, polusi udara ternyata masih berada di atas standar aman Uni Eropa saat ini.

Itu terutama terjadi pada partikel kecil berdiameter 10 mikron atau kurang (PM10), ozon di permukaan tanah (O3), dan zat benzo(a)pirena (BaP).

Baca juga: Paparan Polusi Udara Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Demensia Parkinson

Laporan EEA ini mencakup 39 negara Eropa, yang terdiri dari 27 negara anggota Uni Eropa dan 12 negara lain yang ikut bekerja sama dengan badan tersebut, termasuk Swiss, Norwegia, dan Turki.

Komitmen untuk penuhi batas aman kualitas udara

Menurut EEA, negara-negara anggota Uni Eropa harus benar-benar menjalankan rencana kerja mereka jika ingin memenuhi batas aman kualitas udara tahun 2030 yang sudah ditetapkan pada tahun 2024 lalu.

"Untuk sebagian besar jenis polusi, jarak menuju target tahun 2030 masih sangat jauh dan kemungkinan besar membutuhkan aturan-aturan tambahan," tulis laporan tersebut, sambil menegaskan pentingnya usaha lebih keras untuk mengatasi polusi debu halus (PM2.5).

Namun, upaya-upaya seperti ini terkadang sulit diterima secara politik. Contoh nyatanya adalah Prancis yang baru-baru ini membatalkan aturan zona emisi rendah (LEZ) yang melarang kendaraan berpolusi tinggi masuk ke wilayah tertentu.

Terlebih lagi, target tahun 2030 yang dibuat oleh Uni Eropa sebenarnya masih jauh di bawah standar aman yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2021 lalu.

Badan Lingkungan Eropa juga menegaskan bahwa belum ada kemajuan berarti dalam menurunkan kadar ozon di permukaan tanah.

Baca juga: Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi

Jumlah polusi ozon belum berkurang secara signifikan dan telah menyebabkan kematian dini 63.000 orang di Uni Eropa pada tahun 2023.

"Perubahan iklim diperkirakan akan memperburuk polusi ozon di Eropa. Hal ini disebabkan oleh semakin sering dan kuatnya cuaca panas ekstrem, yang justru mempercepat proses terbentuknya ozon tersebut," kata EEA.

Badan tersebut memperingatkan bahwa tindakan di tingkat daerah maupun nasional mungkin tidak akan cukup karena ozon dan zat pembentuknya bisa terbang berpindah tempat dalam jarak yang sangat jauh.

"Pencegahan yang efektif juga sangat bergantung pada kerja sama yang lebih kuat antarnegara di Eropa dan internasional untuk mengatasi polusi udara yang melewati batas negara," kata badan tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Eropa Alami Suhu Panas Ekstrem, Perubahan Iklim Disebut Jadi Pemicunya
Eropa Alami Suhu Panas Ekstrem, Perubahan Iklim Disebut Jadi Pemicunya
Pemerintah
Bumi Makin Hangat, Eropa Bersiap Hadapi Ledakan Kasus Chikungunya
Bumi Makin Hangat, Eropa Bersiap Hadapi Ledakan Kasus Chikungunya
Pemerintah
Industri Kopi dan Olahan Susu Belum Punya Target Atasi Polusi Metana
Industri Kopi dan Olahan Susu Belum Punya Target Atasi Polusi Metana
Pemerintah
Serangan ke Fasilitas Minyak Iran Lepas Polusi Setara Gunung Berapi
Serangan ke Fasilitas Minyak Iran Lepas Polusi Setara Gunung Berapi
LSM/Figur
Krisis Iklim dan Pemotongan Bantuan AS Perparah Lonjakan Kasus Malaria di Afrika
Krisis Iklim dan Pemotongan Bantuan AS Perparah Lonjakan Kasus Malaria di Afrika
Pemerintah
Jangan Asal Buang, Limbah Hewan Kurban Bisa Disulap Jadi Pupuk Kompos
Jangan Asal Buang, Limbah Hewan Kurban Bisa Disulap Jadi Pupuk Kompos
LSM/Figur
Peneliti Denmark Perlihatkan Mulai Hilangnya Es di Puncak Jaya Papua
Peneliti Denmark Perlihatkan Mulai Hilangnya Es di Puncak Jaya Papua
LSM/Figur
Dilema Tempat Sampah yang Terpilah di Fasilitas Publik
Dilema Tempat Sampah yang Terpilah di Fasilitas Publik
LSM/Figur
Meski Ada Gerakan Ramah Lingkungan, Produksi Kakao Tetap Terancam Iklim
Meski Ada Gerakan Ramah Lingkungan, Produksi Kakao Tetap Terancam Iklim
Swasta
Ancaman Krisis Lingkungan, Populasi Dunia Diproyeksi Merosot pada 2064
Ancaman Krisis Lingkungan, Populasi Dunia Diproyeksi Merosot pada 2064
LSM/Figur
Mengulik Sisi Gelap Industri Fashion: Separuh Tekstil Terbuang Sebelum Dijual
Mengulik Sisi Gelap Industri Fashion: Separuh Tekstil Terbuang Sebelum Dijual
Pemerintah
Michelin Hapus Penghargaan Green Star untuk Restoran Ramah Lingkungan
Michelin Hapus Penghargaan Green Star untuk Restoran Ramah Lingkungan
Pemerintah
Pasar Utang Berkelanjutan Global Tembus Rp 124 Kuadriliun
Pasar Utang Berkelanjutan Global Tembus Rp 124 Kuadriliun
Pemerintah
Negara-negara di ASEAN Mulai Terapkan Standar 'Sustainability Report'
Negara-negara di ASEAN Mulai Terapkan Standar "Sustainability Report"
LSM/Figur
Meski Menjanjikan bagi Petani, Ekspor Sawit ke Eropa Masih Dibayangi Isu Deforestasi
Meski Menjanjikan bagi Petani, Ekspor Sawit ke Eropa Masih Dibayangi Isu Deforestasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau