KOMPAS.com - Kualitas udara di Eropa semakin membaik, tetapi masih dibutuhkan usaha yang lebih keras lagi untuk bisa mencapai target tahun 2030 yang telah ditetapkan oleh Uni Eropa.
Hal ini diungkapkan oleh Badan Lingkungan Eropa (EEA) dalam laporan tahunan mereka.
"Standar yang ditetapkan Uni Eropa sebagian besar sudah berhasil dipenuhi di banyak wilayah di Eropa, khususnya untuk polusi partikel kecil yang berbahaya (PM2.5) dan gas nitrogen dioksida (NO2)," kata EEA dalam sebuah pernyataan resmi.
Namun, melansir France24, Kamis (30/4/2026) di sekitar 20 persen stasiun pemantau, polusi udara ternyata masih berada di atas standar aman Uni Eropa saat ini.
Itu terutama terjadi pada partikel kecil berdiameter 10 mikron atau kurang (PM10), ozon di permukaan tanah (O3), dan zat benzo(a)pirena (BaP).
Baca juga: Paparan Polusi Udara Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Demensia Parkinson
Laporan EEA ini mencakup 39 negara Eropa, yang terdiri dari 27 negara anggota Uni Eropa dan 12 negara lain yang ikut bekerja sama dengan badan tersebut, termasuk Swiss, Norwegia, dan Turki.
Menurut EEA, negara-negara anggota Uni Eropa harus benar-benar menjalankan rencana kerja mereka jika ingin memenuhi batas aman kualitas udara tahun 2030 yang sudah ditetapkan pada tahun 2024 lalu.
"Untuk sebagian besar jenis polusi, jarak menuju target tahun 2030 masih sangat jauh dan kemungkinan besar membutuhkan aturan-aturan tambahan," tulis laporan tersebut, sambil menegaskan pentingnya usaha lebih keras untuk mengatasi polusi debu halus (PM2.5).
Namun, upaya-upaya seperti ini terkadang sulit diterima secara politik. Contoh nyatanya adalah Prancis yang baru-baru ini membatalkan aturan zona emisi rendah (LEZ) yang melarang kendaraan berpolusi tinggi masuk ke wilayah tertentu.
Terlebih lagi, target tahun 2030 yang dibuat oleh Uni Eropa sebenarnya masih jauh di bawah standar aman yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2021 lalu.
Badan Lingkungan Eropa juga menegaskan bahwa belum ada kemajuan berarti dalam menurunkan kadar ozon di permukaan tanah.
Baca juga: Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Jumlah polusi ozon belum berkurang secara signifikan dan telah menyebabkan kematian dini 63.000 orang di Uni Eropa pada tahun 2023.
"Perubahan iklim diperkirakan akan memperburuk polusi ozon di Eropa. Hal ini disebabkan oleh semakin sering dan kuatnya cuaca panas ekstrem, yang justru mempercepat proses terbentuknya ozon tersebut," kata EEA.
Badan tersebut memperingatkan bahwa tindakan di tingkat daerah maupun nasional mungkin tidak akan cukup karena ozon dan zat pembentuknya bisa terbang berpindah tempat dalam jarak yang sangat jauh.
"Pencegahan yang efektif juga sangat bergantung pada kerja sama yang lebih kuat antarnegara di Eropa dan internasional untuk mengatasi polusi udara yang melewati batas negara," kata badan tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya