Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Paparan Polusi Udara Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Demensia Parkinson

Kompas.com, 18 Mei 2026, 14:40 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Paparan polutan udara dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko terkena demensia terkait penyakit Parkinson dan Lewy body.

‎Studi terbaru yang diterbitkan JAMA Network Open meneliti apakah paparan partikel halus di udara dan nitrogen dioksida terkait dengan demensia tersebut.

Temuan dari studi itu mengungkapkan bahwa paparan yang lebih tinggi terhadap salah satu polutan tersebut berkolerasi dengan peningkatan risiko demensia.

Baca juga: Gerakan Kota Di Dunia: Larang Iklan Produk Penyebab Polusi

‎Partikel halus (Particulate Matter/PM) adalah partikel kecil di udara yang tidak terlihat oleh mata telanjang, sebagian besar dihasilkan oleh pembakaran. Sedangkan nitrogen dioksida merujuk pada gas beracun berwarna coklat kemerahan yang paling sering dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil.

‎“Ini adalah polutan yang terpapar pada sebagian besar orang setiap hari. Mereka berasal dari hal-hal seperti lalu lintas, pengiriman barang, dan bentuk pembakaran lainnya," ujar Profesor Lauren dan Lee Fixel di Institut Norman Fixel untuk Penyakit Neurologis di University of Florida Health, Dimitry S. Davydow, dilansir dari laman resmi perguruan tinggi itu, Senin (18/5/2026).

‎Studi menggunakan data anonim dari lebih dari 2,1 juta orang di Denmark berusia antara 65 dan 95 tahun.

Studi mengidentifikasi orang-orang yang didiagnosis menderita demensia terkait Parkinson atau Lewy body atau demensia dan membandingkannya dengan subjek kontrol dengan usia maupun jenis kelamin serupa.

Tim, yang juga melibatkan peneliti dari Universitas Aarhus, memperkirakan paparan polusi udara setiap orang selama satu dekade sebelum mendiagnosis. Mereka menggunakan data registrasi nasional, alamat rumah, dan catatan dari perawatan kesehatan terpusat.

Paparan polusi

‎Temuan dari studi mengungkapkan bahwa peningkatan kecil dalam paparan polusi udara dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi. Untuk setiap peningkatan paparan polusi udara, risiko terkena demensia Lewy body hampir empat kali lebih tinggi.

Sedangkan risiko demensia terkait Parkinson lebih dari dua kali lebih tinggi setelah memperhitungkan faktor demografis, medis, dan sosioekonomi.

‎Nitrogen dioksida juga dikaitkan dengan peningkatan risiko dimensia, meskipun efeknya lebih kecil dibandingkan dengan risiko yang terkait dengan partikel halus.

Kendati demikian, paparan nitrogen dioksida lebih tinggi masih dikaitkan dengan hampir dua kali lipat risiko terkena demensia Lewy body, dengan peningkatan yang lebih moderat diamati untuk demensia terkait Parkinson.

‎Tim peneliti mencatat bahwa hubungan tersebut lebih kuat untuk demensia Lewy body ketimbang untuk Parkinson, meski kedua kondisi tersebut terkait erat dan menyebabkan perubahan serupa di otak.

‎“Meskipun penelitian ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat, penelitian ini menunjukkan adanya keterkaitan yang jelas antara paparan polusi udara dan peningkatan risiko demensia,” tutur Gregory Pontone, pemegang Jabatan Louis dan Roberta Fixel.

Baca juga: GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan

‎Menurut Pontone, studi tersebut merupakan langkah penting dalam memahami bagaimana faktor lingkungan dapat berkontribusi pada perkembangan penyakit. Polutan udara cukup kecil untuk terhirup jauh ke dalam paru-paru, tempat mereka memasuki aliran darah dan mencapai otak dengan melewati sawar darah-otak.

‎Di sana, polutan udara dapat berkontribusi pada kondisi lain, seperti peradangan, yang sedang diteliti potensi dampaknya pada otak. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa paparan polutan udara dapat memicu respons imun di otak atau memengaruhi protein yang terkait dengan penyakit Parkinson.

‎Tim peneliti dapat mengikuti individu dari waktu ke waktu dan memperhitungkan berbagai faktor, seperti pendapatan, pendidikan, riwayat medis, dan kondisi kejiwaan, karena studi ini mengakomodir data registrasi nasional.

‎Data tersebut mencakup diagnosis rumah sakit atau fasilitas perawatan khusus, yang dapat melewatkan kasus yang lebih ringan atau belum terdiagnosis.

Namun, studi ini tidak mencakup detail tentang faktor gaya hidup atau paparan pekerjaan yang dapat memengaruhi risiko. Terlepas dari itu, temuan studi menunjukkan adanya potensi hubungan antara paparan polusi udara jangka panjang dan kesehatan otak. Khususnya, untuk penyakit yang melibatkan α-synuclein (alpha sin-YOO-klee-uhn), protein yang terkait dengan penyakit Parkinson dan demensia Lewy body lainnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Praktik Baik Rumah Maggot, dari Sampah Jadi Penggerak Ekonomi Sirkular
Praktik Baik Rumah Maggot, dari Sampah Jadi Penggerak Ekonomi Sirkular
Swasta
IBCSD: Minimnya Transparansi Risiko Lingkungan Hambat Investasi Berkelanjutan di Indonesia
IBCSD: Minimnya Transparansi Risiko Lingkungan Hambat Investasi Berkelanjutan di Indonesia
Swasta
PBB Soroti Ancaman Sampah Antariksa yang Makin Mengkhawatirkan
PBB Soroti Ancaman Sampah Antariksa yang Makin Mengkhawatirkan
Pemerintah
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
Pemerintah
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Swasta
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Pemerintah
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Pemerintah
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
LSM/Figur
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Pemerintah
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
LSM/Figur
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
BUMN
 Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau