KOMPAS.com - Paparan polutan udara dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko terkena demensia terkait penyakit Parkinson dan Lewy body.
Studi terbaru yang diterbitkan JAMA Network Open meneliti apakah paparan partikel halus di udara dan nitrogen dioksida terkait dengan demensia tersebut.
Temuan dari studi itu mengungkapkan bahwa paparan yang lebih tinggi terhadap salah satu polutan tersebut berkolerasi dengan peningkatan risiko demensia.
Baca juga: Gerakan Kota Di Dunia: Larang Iklan Produk Penyebab Polusi
Partikel halus (Particulate Matter/PM) adalah partikel kecil di udara yang tidak terlihat oleh mata telanjang, sebagian besar dihasilkan oleh pembakaran. Sedangkan nitrogen dioksida merujuk pada gas beracun berwarna coklat kemerahan yang paling sering dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil.
“Ini adalah polutan yang terpapar pada sebagian besar orang setiap hari. Mereka berasal dari hal-hal seperti lalu lintas, pengiriman barang, dan bentuk pembakaran lainnya," ujar Profesor Lauren dan Lee Fixel di Institut Norman Fixel untuk Penyakit Neurologis di University of Florida Health, Dimitry S. Davydow, dilansir dari laman resmi perguruan tinggi itu, Senin (18/5/2026).
Studi menggunakan data anonim dari lebih dari 2,1 juta orang di Denmark berusia antara 65 dan 95 tahun.
Studi mengidentifikasi orang-orang yang didiagnosis menderita demensia terkait Parkinson atau Lewy body atau demensia dan membandingkannya dengan subjek kontrol dengan usia maupun jenis kelamin serupa.
Tim, yang juga melibatkan peneliti dari Universitas Aarhus, memperkirakan paparan polusi udara setiap orang selama satu dekade sebelum mendiagnosis. Mereka menggunakan data registrasi nasional, alamat rumah, dan catatan dari perawatan kesehatan terpusat.
Temuan dari studi mengungkapkan bahwa peningkatan kecil dalam paparan polusi udara dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi. Untuk setiap peningkatan paparan polusi udara, risiko terkena demensia Lewy body hampir empat kali lebih tinggi.
Sedangkan risiko demensia terkait Parkinson lebih dari dua kali lebih tinggi setelah memperhitungkan faktor demografis, medis, dan sosioekonomi.
Nitrogen dioksida juga dikaitkan dengan peningkatan risiko dimensia, meskipun efeknya lebih kecil dibandingkan dengan risiko yang terkait dengan partikel halus.
Kendati demikian, paparan nitrogen dioksida lebih tinggi masih dikaitkan dengan hampir dua kali lipat risiko terkena demensia Lewy body, dengan peningkatan yang lebih moderat diamati untuk demensia terkait Parkinson.
Tim peneliti mencatat bahwa hubungan tersebut lebih kuat untuk demensia Lewy body ketimbang untuk Parkinson, meski kedua kondisi tersebut terkait erat dan menyebabkan perubahan serupa di otak.
“Meskipun penelitian ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat, penelitian ini menunjukkan adanya keterkaitan yang jelas antara paparan polusi udara dan peningkatan risiko demensia,” tutur Gregory Pontone, pemegang Jabatan Louis dan Roberta Fixel.
Baca juga: GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
Menurut Pontone, studi tersebut merupakan langkah penting dalam memahami bagaimana faktor lingkungan dapat berkontribusi pada perkembangan penyakit. Polutan udara cukup kecil untuk terhirup jauh ke dalam paru-paru, tempat mereka memasuki aliran darah dan mencapai otak dengan melewati sawar darah-otak.
Di sana, polutan udara dapat berkontribusi pada kondisi lain, seperti peradangan, yang sedang diteliti potensi dampaknya pada otak. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa paparan polutan udara dapat memicu respons imun di otak atau memengaruhi protein yang terkait dengan penyakit Parkinson.
Tim peneliti dapat mengikuti individu dari waktu ke waktu dan memperhitungkan berbagai faktor, seperti pendapatan, pendidikan, riwayat medis, dan kondisi kejiwaan, karena studi ini mengakomodir data registrasi nasional.
Data tersebut mencakup diagnosis rumah sakit atau fasilitas perawatan khusus, yang dapat melewatkan kasus yang lebih ringan atau belum terdiagnosis.
Namun, studi ini tidak mencakup detail tentang faktor gaya hidup atau paparan pekerjaan yang dapat memengaruhi risiko. Terlepas dari itu, temuan studi menunjukkan adanya potensi hubungan antara paparan polusi udara jangka panjang dan kesehatan otak. Khususnya, untuk penyakit yang melibatkan α-synuclein (alpha sin-YOO-klee-uhn), protein yang terkait dengan penyakit Parkinson dan demensia Lewy body lainnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya