KOMPAS.com - Jumlah penduduk dunia bisa anjlok 50 persen paling cepat pada tahun 2064 jika krisis lingkungan global semakin parah. Hal ini merupakan hipotesis dari seorang ahli fisika di Universitas Milan, Italia.
Tulisan ilmiah dari Alessio Zaccone yang berjudul Global population crisis scenarios predicted by a general nonlinear dynamical model ini, ditulis bersama mendiang rekannya, Kostya Trachenko dari Queen Mary University of London.
Melansir Down to Earth, Selasa (26/5/2026) tulisan ilmiah tersebut dibuat menggunakan sebuah rumus matematika nonlinear yang mengejutkan karena sangat sederhana.
Rumus tersebut mampu menyatukan data pertumbuhan populasi manusia selama 12.000 tahun terakhir, sekaligus menunjukkan masa depan yang suram jika krisis lingkungan global semakin parah.
Baca juga: Studi: Mayoritas Penduduk Dunia Prioritaskan Lingkungan ketimbang Ekonomi
"Berbagai jenis pola pertumbuhan manusia sejak zaman batu hingga saat ini dapat dipahami lewat satu rumus matematika yang sama. Rumus ini juga mencakup teori pertumbuhan yang sudah terkenal, seperti hukum Malthus (pertumbuhan cepat/eksponensial) dan Verhulst (pertumbuhan logistik), serta pertumbuhan hiperbolik tipe von Foerster," tulis Zaccone dalam artikelnya.
Lebih lanjut, kerangka kerja yang diusulkan ini menyediakan cara perhitungan yang ringkas untuk mempelajari berbagai skenario masa depan.
Itu termasuk sebuah contoh kasus terburuk di mana populasi dunia bisa berkurang hingga setengahnya paling cepat pada tahun 2064, jika alam rusak dan batas kemampuan bumi dalam menampung manusia anjlok ke angka 2 miliar manusia saja.
Jika itu terjadi, maka bencana demografi akan dimulai. Sebagai informasi saat ini populasi bumi sekitar 8 miliar.
"Di bawah asumsi kasus terburuk yang dihitung secara hati-hati yaitu jika kemampuan bumi untuk menampung manusia secara aman tiba-tiba turun drastis menjadi hanya sekitar 2 miliar orang saja, maka model hitungan kami memprediksi terjadinya penurunan populasi global yang sangat cepat, di mana jumlah manusia berpotensi berkurang setengahnya sekitar tahun 2064," tulis Zaccone.
Baca juga: Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Menariknya, rumus matematika nonlinear yang sederhana ini awalnya digunakan oleh Zaccone dan Trachenko ini bukan rumus buatan baru. Kedua ilmuwan tersebut menggunakan rumus itu meneliti ilmu fisika khususnya tentang bagaimana atom atau zat-zat bergerak secara acak dan tidak teratur.
"Di dalam artikel ini, kami menegaskan bahwa ini bukanlah sebuah ramalan pasti, melainkan sebuah contoh skenario matematika untuk menunjukkan betapa bergantungnya pertumbuhan manusia pada kesehatan alam," terang Zaccone.
"Jika alam rusak parah, dampaknya ke manusia akan sangat instan. Namun, saat ini kondisi bumi dan pertumbuhan manusia masih relatif stabil dan tidak berarti akan langsung kiamat dalam waktu dekat," pungkasnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya