Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancaman Krisis Lingkungan, Populasi Dunia Diproyeksi Merosot pada 2064

Kompas.com, 28 Mei 2026, 13:51 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Jumlah penduduk dunia bisa anjlok 50 persen paling cepat pada tahun 2064 jika krisis lingkungan global semakin parah. Hal ini merupakan hipotesis dari seorang ahli fisika di Universitas Milan, Italia.

Tulisan ilmiah dari Alessio Zaccone yang berjudul Global population crisis scenarios predicted by a general nonlinear dynamical model ini, ditulis bersama mendiang rekannya, Kostya Trachenko dari Queen Mary University of London.

Melansir Down to Earth, Selasa (26/5/2026) tulisan ilmiah tersebut dibuat menggunakan sebuah rumus matematika nonlinear yang mengejutkan karena sangat sederhana.

Rumus tersebut mampu menyatukan data pertumbuhan populasi manusia selama 12.000 tahun terakhir, sekaligus menunjukkan masa depan yang suram jika krisis lingkungan global semakin parah.

Baca juga: Studi: Mayoritas Penduduk Dunia Prioritaskan Lingkungan ketimbang Ekonomi

"Berbagai jenis pola pertumbuhan manusia sejak zaman batu hingga saat ini dapat dipahami lewat satu rumus matematika yang sama. Rumus ini juga mencakup teori pertumbuhan yang sudah terkenal, seperti hukum Malthus (pertumbuhan cepat/eksponensial) dan Verhulst (pertumbuhan logistik), serta pertumbuhan hiperbolik tipe von Foerster," tulis Zaccone dalam artikelnya.

Lebih lanjut, kerangka kerja yang diusulkan ini menyediakan cara perhitungan yang ringkas untuk mempelajari berbagai skenario masa depan.

Itu termasuk sebuah contoh kasus terburuk di mana populasi dunia bisa berkurang hingga setengahnya paling cepat pada tahun 2064, jika alam rusak dan batas kemampuan bumi dalam menampung manusia anjlok ke angka 2 miliar manusia saja.

Jika itu terjadi, maka bencana demografi akan dimulai. Sebagai informasi saat ini populasi bumi sekitar 8 miliar.

"Di bawah asumsi kasus terburuk yang dihitung secara hati-hati yaitu jika kemampuan bumi untuk menampung manusia secara aman tiba-tiba turun drastis menjadi hanya sekitar 2 miliar orang saja, maka model hitungan kami memprediksi terjadinya penurunan populasi global yang sangat cepat, di mana jumlah manusia berpotensi berkurang setengahnya sekitar tahun 2064," tulis Zaccone.

Baca juga: Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut

Menariknya, rumus matematika nonlinear yang sederhana ini awalnya digunakan oleh Zaccone dan Trachenko ini bukan rumus buatan baru. Kedua ilmuwan tersebut menggunakan rumus itu meneliti ilmu fisika khususnya tentang bagaimana atom atau zat-zat bergerak secara acak dan tidak teratur.

"Di dalam artikel ini, kami menegaskan bahwa ini bukanlah sebuah ramalan pasti, melainkan sebuah contoh skenario matematika untuk menunjukkan betapa bergantungnya pertumbuhan manusia pada kesehatan alam," terang Zaccone.

"Jika alam rusak parah, dampaknya ke manusia akan sangat instan. Namun, saat ini kondisi bumi dan pertumbuhan manusia masih relatif stabil dan tidak berarti akan langsung kiamat dalam waktu dekat," pungkasnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau