Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Mayoritas Penduduk Dunia Prioritaskan Lingkungan ketimbang Ekonomi

Kompas.com, 21 Maret 2026, 11:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sebuah studi baru dari para peneliti di University of Vermont di AS menemukan bahwa mayoritas orang di seluruh dunia lebih memilih melindungi lingkungan daripada pertumbuhan ekonomi ketika kedua tujuan tersebut bertentangan.

Penelitian ini, yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Ecological Economics, menganalisis data dari dua survei internasional besar yang mencakup jawaban dari penduduk di 92 negara.

Melansir Phys, Rabu (18/3/2026) secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa hampir 58 persen orang di seluruh dunia lebih mementingkan perlindungan lingkungan daripada pertumbuhan ekonomi ketika kedua tujuan tersebut saling berbenturan.

"Pembicaraan politik sering kali terlalu fokus pada tujuan pertumbuhan ekonomi, padahal hasil penelitian kami menunjukkan bahwa hal itu sebenarnya bukan prioritas masyarakat," kata Jukka Kilgus, mahasiswa magister studi sumber daya alam di Rubenstein School sekaligus penulis utama laporan tersebut.

Baca juga: Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan

Gambaran Global yang Kompleks

Studi-studi sebelumnya sebagian besar hanya fokus pada penduduk di negara-negara maju (Global North) dan telah memetakan ciri-ciri umum orang yang lebih memilih perlindungan lingkungan daripada pertumbuhan ekonomi.

Mereka cenderung berpendidikan tinggi, memiliki pandangan politik beraliran kiri, berusia lebih muda, dan berjenis kelamin perempuan.

Studi saat ini kemudian menunjukkan dukungan terkuat untuk perlindungan lingkungan dibandingkan pertumbuhan ekonomi ditemukan di Eropa Barat, Asia Tenggara, Amerika, Australia, dan Selandia Baru.

Namun analisis ini juga menunjukkan adanya penurunan dukungan terhadap perlindungan lingkungan dibandingkan pertumbuhan ekonomi di beberapa negara yang kurang makmur atau negara yang baru saja memulai industrinya.

Dukungan lebih rendah ini misalnya ditemukan di Eropa Timur, Asia Tengah, Afrika, dan Timur Tengah. Menurut peneliti itu terjadi karena mungkin tingkat kemakmuran yang lebih rendah di wilayah-wilayah ini dan, akibatnya, permintaan yang lebih kuat untuk pertumbuhan ekonomi guna meningkatkan kondisi kehidupan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa di banyak negara non-Barat, ciri-ciri umum seperti tingkat pendidikan, jenis kelamin, usia, pendapatan, dan pandangan politik tidak berjalan sesuai dugaan.

Dalam beberapa kasus, dukungan yang lebih kuat terhadap lingkungan justru ditemukan di kalangan laki-laki, orang tua, kelompok berpenghasilan rendah, atau mereka yang berhaluan politik kanan.

Hal ini mempertegas betapa kuatnya pengaruh budaya, politik, dan kondisi ekonomi setempat dalam membentuk opini masyarakat.

Baca juga: Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat

"Ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun faktor yang berlaku sama di mana-mana yang memengaruhi mengapa orang lebih mengutamakan lingkungan daripada ekonomi," tulis para penulis tersebut.

Peneliti juga mengingatkan dukungan terhadap perlindungan lingkungan di atas pertumbuhan ekonomi tidak boleh dianggap sebagai persetujuan penuh terhadap sistem ekonomi "pasca-pertumbuhan" (post-growth) atau "penurunan pertumbuhan" (degrowth).

Itu merupakan gagasan ekonomi ekstrem yang menyarankan agar negara berhenti mengejar kenaikan PDB secara terus-menerus agar alam bisa pulih.

Terlepas dari itu, temuan ini menunjukkan bahwa berbagai kelompok orang yang berbeda-beda di tiap negara, mendukung pengurangan penekanan pada pertumbuhan ekonomi dan lebih fokus pada lingkungan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau