Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Grup bisnis Nyanyi Bali bekerja sama dengan perusahaan cokelat asal Prancis, Valrhona, mengembangkan kebun kakao berkelanjutan bernama Valrhona Cocoa Forest di Tabanan, Bali.
Kawasan seluas sekitar satu hektare ini dirancang sebagai pusat pembelajaran kolaboratif pertama Valrhona di Asia yang berbasis perkebunan kakao. Kebun tersebut dikembangkan menyerupai kebun kakao tradisional dengan pendekatan agroforestri dan metode pertanian agroekologis.
Pengembangan area ini dilakukan selama sekitar tiga tahun dengan pendekatan regeneratif untuk menjaga kesehatan tanah dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.
Baca juga: Kisah Kakao Kampung Merasa di Berau, Dulu Dilarang Dimakan Kini Jadi Cuan
Di kawasan tersebut ditanam sekitar 10 varietas kakao yang dipadukan dengan berbagai pohon serta tanaman endemik Indonesia. Pendekatan ini bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung praktik budidaya kakao yang lebih ramah lingkungan.
Managing Director Nyanyi Bali, Made Ariani Siswanto, mengatakan kolaborasi tersebut juga berkaitan dengan upaya mengembangkan program edukasi kuliner yang telah dijalankan Nyanyi Bali dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut dia, program tersebut menekankan pentingnya pengetahuan mengenai alam dan bahan pangan sebagai bagian dari pengembangan gastronomi.
Selain pengembangan kebun kakao, kemitraan ini juga diarahkan untuk memperkuat rantai nilai kakao dan cokelat. Valrhona akan mendukung pengembangan pasokan biji kakao fermentasi agar produsen lokal dapat menjangkau pasar cokelat premium.
Di sisi lain, program edukasi juga akan diperluas melalui kegiatan pembelajaran bagi pelajar serta pelatihan bagi chef melalui program École Valrhona.
Head of Strategic Growth & New Ventures Valrhona, Emmanuelle Brun, mengatakan pusat pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang kakao, mulai dari proses budidaya hingga pengolahan cokelat.
Ia menilai pendekatan tersebut dapat membantu melibatkan berbagai pihak, termasuk petani, pelaku industri kuliner, hingga konsumen, dalam pengembangan industri kakao yang lebih berkelanjutan.
Berdasarkan data industri, Indonesia saat ini merupakan produsen kakao terbesar ketujuh di dunia dengan kontribusi sekitar 4 persen terhadap produksi global.
Baca juga: Strategi Coklat Cau Bikin Petani Kakao di Bali Sejahtera
Penguatan sektor hulu serta peningkatan kesejahteraan petani dinilai menjadi faktor penting dalam pengembangan industri kakao nasional di masa depan.
Direktur Nyanyi Bali, Nyoman Astari Siswanto, mengatakan keberadaan Valrhona Cocoa Forest diharapkan dapat menjadi ruang belajar terbuka yang menghubungkan praktik budidaya kakao, edukasi, dan pengembangan kuliner.
Menurut dia, inisiatif ini juga diharapkan dapat memperkenalkan kakao sebagai bagian dari pengalaman gastronomi Bali, sekaligus mendukung keberlanjutan mata pencaharian petani kakao lokal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya