Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan

Kompas.com, 4 Maret 2026, 15:25 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Grup bisnis Nyanyi Bali bekerja sama dengan perusahaan cokelat asal Prancis, Valrhona, mengembangkan kebun kakao berkelanjutan bernama Valrhona Cocoa Forest di Tabanan, Bali.

Kawasan seluas sekitar satu hektare ini dirancang sebagai pusat pembelajaran kolaboratif pertama Valrhona di Asia yang berbasis perkebunan kakao. Kebun tersebut dikembangkan menyerupai kebun kakao tradisional dengan pendekatan agroforestri dan metode pertanian agroekologis.

Pengembangan area ini dilakukan selama sekitar tiga tahun dengan pendekatan regeneratif untuk menjaga kesehatan tanah dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.

Baca juga: Kisah Kakao Kampung Merasa di Berau, Dulu Dilarang Dimakan Kini Jadi Cuan

Di kawasan tersebut ditanam sekitar 10 varietas kakao yang dipadukan dengan berbagai pohon serta tanaman endemik Indonesia. Pendekatan ini bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung praktik budidaya kakao yang lebih ramah lingkungan.

Managing Director Nyanyi Bali, Made Ariani Siswanto, mengatakan kolaborasi tersebut juga berkaitan dengan upaya mengembangkan program edukasi kuliner yang telah dijalankan Nyanyi Bali dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut dia, program tersebut menekankan pentingnya pengetahuan mengenai alam dan bahan pangan sebagai bagian dari pengembangan gastronomi.

Selain pengembangan kebun kakao, kemitraan ini juga diarahkan untuk memperkuat rantai nilai kakao dan cokelat. Valrhona akan mendukung pengembangan pasokan biji kakao fermentasi agar produsen lokal dapat menjangkau pasar cokelat premium.

Program Edukasi

Di sisi lain, program edukasi juga akan diperluas melalui kegiatan pembelajaran bagi pelajar serta pelatihan bagi chef melalui program École Valrhona.

Head of Strategic Growth & New Ventures Valrhona, Emmanuelle Brun, mengatakan pusat pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang kakao, mulai dari proses budidaya hingga pengolahan cokelat.

Ia menilai pendekatan tersebut dapat membantu melibatkan berbagai pihak, termasuk petani, pelaku industri kuliner, hingga konsumen, dalam pengembangan industri kakao yang lebih berkelanjutan.

Berdasarkan data industri, Indonesia saat ini merupakan produsen kakao terbesar ketujuh di dunia dengan kontribusi sekitar 4 persen terhadap produksi global.

Baca juga: Strategi Coklat Cau Bikin Petani Kakao di Bali Sejahtera

Penguatan sektor hulu serta peningkatan kesejahteraan petani dinilai menjadi faktor penting dalam pengembangan industri kakao nasional di masa depan.

Direktur Nyanyi Bali, Nyoman Astari Siswanto, mengatakan keberadaan Valrhona Cocoa Forest diharapkan dapat menjadi ruang belajar terbuka yang menghubungkan praktik budidaya kakao, edukasi, dan pengembangan kuliner.

Menurut dia, inisiatif ini juga diharapkan dapat memperkenalkan kakao sebagai bagian dari pengalaman gastronomi Bali, sekaligus mendukung keberlanjutan mata pencaharian petani kakao lokal.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas
Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas
LSM/Figur
Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Swasta
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia? Ini Kata BMKG
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia? Ini Kata BMKG
Pemerintah
Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap
Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap
LSM/Figur
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
LSM/Figur
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Pemerintah
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Swasta
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah
Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
Pemerintah
Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Alarm Transisi Energi di Indonesia, Mengapa?
Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Alarm Transisi Energi di Indonesia, Mengapa?
LSM/Figur
Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?
Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?
LSM/Figur
PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
Pemerintah
Ada 3 Bibit Siklon Tropis di Sekitar Indonesia, Waspada Angin Kencang
Ada 3 Bibit Siklon Tropis di Sekitar Indonesia, Waspada Angin Kencang
Pemerintah
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau