KOMPAS.com-Dua studi terbaru yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Institut Nasional untuk Riset Antariksa Brasil (INPE) mengungkapkan bahwa hutan Amazon di Brasil sudah mulai mengalami kondisi buruk yang sebenarnya baru diprediksi akan terjadi beberapa puluh tahun ke depan.
Melansir Phys, Kamis (28/5/2026) kondisi tersebut meliputi musim kemarau yang berlangsung lebih lama dan perubahan pola curah hujan.
Tanpa adanya aturan dan tindakan nyata yang kompak untuk mengatasi perubahan iklim, situasi ini bisa memburuk dengan sangat cepat, sehingga mengancam kelestarian biodiversitas, pengisian kembali cadangan air alami, serta fungsi utama dari hutan itu sendiri.
Salah satu studi menunjukkan bahwa musim kemarau di Amazon kini semakin panjang, dari yang tadinya empat bulan menjadi enam bulan, dengan kekurangan air mencapai lebih dari -150 milimeter (mm) selama periode tersebut.
Baca juga: Tingginya Konsumsi Daging Sapi Dunia jadi Penyebab Utama Kerusakan Hutan Amazon
Studi yang diterbitkan dalam International Journal of Climatology ini menunjukkan adanya ketidakstabilan iklim yang lebih besar, munculnya lebih banyak cuaca ekstrem di luar musimnya, serta meningkatnya kerusakan hutan yang disebabkan oleh kebakaran.
Sementara studi lainnya, yang dimuat dalam jurnal Perspectives in Ecology and Conservation, menganalisis bencana kekeringan yang terjadi di Amazon antara tahun 2023 dan 2024, di mana saat itu Brasil terkena dampak parah dari El Niño.
Hasil penelitian mengungkap adanya kenaikan sebesar 9 persen pada area yang terbakar dan kenaikan 19 persen pada peringatan kerusakan hutan, dengan hingga 4,2 juta hektare lahan terkena dampak api saat puncak kekeringan.
Hasil-hasil ini membuktikan bahwa lingkaran setan antara kekeringan, kebakaran, dan kerusakan hutan kini semakin parah serta memperlemah kemampuan hutan untuk pulih kembali.
"Beberapa tahun lalu, ketika kami mulai membahas perkiraan cuaca untuk Amazon, masa depan yang buruk itu sering kali terasa masih sangat jauh dan hanya ada di bayangan yang paling suram. Namun, sekarang kita justru melihat ramalan yang paling buruk itu benar-benar terjadi di masa kini. Saat kita membandingkan data hari ini dengan perkiraan masa lalu, kita bisa melihat betapa gentingnya situasi sekarang karena ramalan buruk tersebut sudah menjadi kenyataan dalam analisis iklim kita," kata Débora Dutra, seorang insinyur lingkungan dan sanitasi, calon doktor di INPE, sekaligus penulis utama dari kedua studi tersebut.
Studi ini dilakukan oleh peneliti di Amazon bagian barat daya, mencakup negara bagian Acre serta sebagian wilayah dari negara bagian Amazonas dan Rondônia.
Wilayah tersebut merupakan area yang memiliki lebih dari 90 persen tutupan hutan, namun saat ini sedang menghadapi tekanan yang sangat berat akibat penebangan hutan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perkiraan kondisi di mana emisi gas rumah kaca sangat tinggi, kekurangan air akan semakin parah selama musim kemarau di Amazon, khususnya di bagian barat daya hutan tersebut.
Perkiraan cuaca menunjukkan bahwa musim kemarau akan berlangsung lebih lama dan lebih kering dengan peningkatan krisis air antara bulan Juni dan September. Kekurangan air ini bahkan bisa menembus angka di bawah -21 mm per bulan pada akhir abad nanti jika menggunakan perkiraan yang paling buruk.
Tren yang semakin memburuk ini kemungkinan besar akan berdampak langsung pada hutan, termasuk meningkatnya kematian pohon, kerusakan hutan, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Baca juga: Kekeringan Parah Dorong Hutan Tropis ke Ambang Kehancuran
Hal ini juga akan mengurangi kemampuan Amazon untuk bertindak sebagai penyerap karbon, yang akan memperkuat lingkaran setan antara kerusakan hutan dan pemanasan global.
Untuk memperbaiki perkiraan masa depan dan penilaian risiko iklim di wilayah tersebut, para peneliti menyarankan untuk menggunakan analisis menyeluruh yang memasukkan perubahan penggunaan lahan, kelainan perputaran udara di atmosfer, serta interaksi antara kebakaran dan kekeringan, di antara langkah-langkah lainnya.
Mereka juga menyimpulkan bahwa kekeringan membuat hubungan antara kekurangan air, kebakaran, dan kerusakan hutan menjadi semakin parah. Kebakaran kini lebih sering terjadi karena kondisi hutan yang semakin melemah, bukan hanya karena penebangan hutan saja.
Penebangan hutan menghabiskan seluruh tanaman di lahan, sedangkan kerusakan degradasi hanya memperlemah kondisi hutan tanpa menghancurkannya secara total.
Hasil studi ini pun menegaskan perlunya sistem pengelolaan kebakaran yang menyeluruh, yang menggabungkan tanda-tanda iklim dengan sistem peringatan dini serta memperkuat kerja sama antarlembaga.
Sistem pengelolaan ini juga harus memasukkan masalah kerusakan hutan ke dalam strategi penyelamatan dan pencegahan bencana.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya