JAKARTA, KOMPAS.com - Kelompok Perempuan Zakan Day dan masyarakat Kampung Salafen, Misool Utara, Raja Ampat, Papua Barat Daya, menggelar kegiatan buka sasi pada 20-22 Mei 2026.
Tujuannya, mendorong pengembangan wisata minat khusus yang mengangkat praktik pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal di Raja Ampat.
Sasi adalah tradisi pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang telah lama diterapkan masyarakat adat di Papua dan Maluku.
Melalui mekanisme buka-tutup kawasan secara adat, masyarakat mengatur pemanfaatan sumber daya secara terukur untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut sekaligus memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.
Ketua Kelompok Perempuan Zakan Day, Yermina Rumayom menyampaikan kegiatan buka sasi bukan sekadar atraksi wisata, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan nilai-nilai adat dan praktik pengelolaan laut berbasis masyarakat.
Baca juga: Startup AS dan Portugal Kembangkan Teknologi Pemantauan Wilayah Konservasi RI
“Buka sasi adalah bagian dari cara masyarakat menjaga laut dan sumber daya alam secara bersama-sama. Melalui kegiatan ini kami ingin memperkenalkan nilai-nilai tersebut kepada pengunjung sekaligus membuka peluang ekonomi yang dikelola langsung oleh masyarakat,” jelasnya.
Di Kampung Salafen, wilayah sasi yang dikelola Kelompok Perempuan Zakan Day mencapai 497,85 hektare. Komoditas utama yang diatur antara lain teripang dan lobster.
Dalam kegiatan ini, peserta mengikuti berbagai aktivitas budaya dan pembelajaran, mulai dari ritual adat buka sasi, panen hasil laut, hingga diskusi mengenai siklus pengelolaan sasi dan pencatatan hasil panen. Selama kegiatan, peserta tinggal bersama masyarakat untuk merasakan langsung kehidupan masyarakat pesisir.
Sementara itu, tokoh adat Kampung Salafen, Agustinus Day memandang sasi sebagai warisan pengetahuan yang tidak hanya memiliki makna budaya, tetapi juga menjadi pedoman dalam menjaga keseimbangan alam.
“Sasi mengajarkan masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam dan mengambil hasilnya secara bijaksana. Nilai-nilai ini penting untuk terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda maupun pengunjung yang datang ke kampung,” kata Agustinus.
Baca juga: Sampah Plastik Makanan dan Minuman Dominasi Laut Indonesia
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo mengungkapkan pengembangan wisata berbasis budaya dan konservasi sejalan dengan arah pembangunan pariwisata berkelanjutan di Papua Barat Daya.
“Wisata berbasis masyarakat seperti buka sasi di Salafen memiliki nilai penting karena menghubungkan pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan penguatan ekonomi lokal. Pendekatan ini menjadi salah satu potensi pengembangan pariwisata berkelanjutan di Papua Barat Daya,” ujar Yusdi dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).
Masyarakat Raja Ampat, lanjut dia, telah lama hidup berdampingan dengan alam dan menjadikan sasi sebagai bagian penting dari kehidupan mereka. Menurut Yusdi, praktik ini merupakan bentuk kesepakatan bersama guna menjaga keberlanjutan sumber daya laut agar terus dimanfaatkan generasi mendatang.
“Kelompok Perempuan Zakan Day menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berperan dalam keluarga, tetapi juga menjadi penjaga ekosistem. Apa yang mereka lakukan hari ini menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian Raja Ampat,” jelas dia.
Melalui uji coba, masyarakat Kampung Salafen juga menghimpun masukan peserta untuk pengembangan paket wisata, terutama terkait pelayanan, konservasi, keselamatan perjalanan, dan penguatan budaya
Direktur Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Muhammad Ilman menyebutkan praktik pengelolaan berbasis kearifan lokal seperti sasi merupakan bagian penting dalam mendukung konservasi laut yang efektif.
“YKAN mendukung pengembangan ekowisata berbasis masyarakat seperti di Kampung Salafen karena manfaat ekonomi dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian budaya dan sumber daya alam,” papar Ilman.
Kelompok Perempuan Zakan Day bersama masyarakat Kampung Salafen berharap pengembangan ekowisata buka sasi dapat menjadi model wisata berbasis masyarakat yang mendukung konservasi, pelestarian budaya lokal, dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya