KOMPAS.com - Penelitian baru menunjukkan hutan tropis mendekati titik kritisnya seiring dengan makin sering dan meluasnya bencana kekeringan di wilayah tropis di seluruh dunia.
Penelitian tersebut menemukan pula bahwa ekosistem ini makin kesulitan untuk pulih dari kondisi kering yang berkepanjangan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa sebagian hutan nantinya bisa berubah fungsi, dari yang tadinya menyerap karbon dioksida menjadi malah melepaskannya kembali ke udara.
Melansir Phys, Senin (18/5/2026) studi yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters, mengamati catatan iklim dan hasil pantauan satelit selama hampir 40 tahun di wilayah tropis Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara.
Dr. Shuai Cheng dari Eastern Institute of Technology China bersama rekan-rekannya kemudian menemukan bahwa kekeringan yang merusak tumbuh-tumbuhan tropis terus meningkat sejak awal tahun 1980-an, di mana dampak paling parah terlihat di hutan tropis Afrika.
Para ilmuwan sudah lama tahu bahwa hutan tropis punya peran yang sangat penting dalam mengatur iklim bumi.
Pohon-pohon menyerap karbon dioksida saat memasak melakukan fotosintesis, lalu menyimpan karbon tersebut dalam jumlah yang sangat besar di dalam batang, dahan, akar, hingga ke dalam tanah.
Baca juga: Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Bersama-sama, ekosistem tropis ini membuang miliaran ton karbon dioksida dari udara setiap tahunnya, sehingga membantu memperlambat laju pemanasan global. Namun, sistem pelindung alami ini sangat bergantung pada kondisi hutan yang harus tetap sehat agar bisa terus tumbuh.
Seiring dengan suhu bumi yang semakin naik dan pola hujan yang berubah-ubah, stres akibat kekeringan menjadi ancaman yang terus membesar bagi keseimbangan tersebut.
Dalam studinya ini, peneliti tidak hanya mengandalkan catatan curah hujan melainkan membuat sebuah metode baru untuk melihat bagaimana tumbuh-tumbuhan itu sendiri merespons kondisi kekeringan.
Dengan menggunakan hasil pantauan satelit jangka panjang tentang aktivitas tanaman serta data iklim dari tahun 1982 hingga 2019, mereka berhasil menemukan periode-periode di mana tanaman tropis menunjukkan tanda-tanda stres fisik yang disebabkan oleh kurangnya air di dalam tanah dan kondisi udara yang kering.
Penelitian tersebut menemukan bahwa gabungan dari tekanan-tekanan ini semakin parah di sebagian besar wilayah tropis. Lebih dari setengah peningkatan kekeringan pada tanaman berhubungan dengan berkurangnya air di dalam tanah, yang sebagian besar disebabkan oleh suhu bumi yang semakin panas dan udara yang semakin kering.
Afrika menjadi wilayah yang mengalami perluasan kekeringan tanaman paling parah, meskipun peningkatan yang cukup besar juga terlihat di hutan Amazon dan Asia Tenggara.
Para peneliti mengatakan bahwa tren ini menunjukkan ekosistem tropis kini menghadapi masa-masa kekurangan air yang lebih lama dan lebih luas dibandingkan dengan dekade-dekade sebelumnya.
Bagi hutan tropis, kekeringan yang terjadi terus-menerus bisa menyebabkan efek domino yang merusak. Saat kekurangan air, pohon-pohon akan menutup lubang-lubang kecil pada daunnya demi menghemat air agar tidak kering.
Meskipun cara ini bisa menyelamatkan mereka dari kehabisan cairan, dampaknya pohon jadi tidak bisa menyerap banyak karbon dioksida untuk fotosintesis.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya