KOMPAS.com - Saat China melarang impor sampah plastik pada tahun 2018, negara-negara seperti Amerika Serikat, Belanda, Australia, dan Jepang tidak berhenti mengekspor sampah plastik mereka.
Negara-negara tersebut justru mengalihkan pengiriman sampah tersebut ke negara-negara di Asia Tenggara, salah satunya Indonesia.
Melansir Phys, Rabu (3/6/2026) penelitian baru yang dipimpin oleh Ellen Considine, seorang peneliti di Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences (CIRES) di University of Colorado Boulder, menunjukkan bahwa polusi udara di Indonesia memburuk pada tahun 2018 dan 2019.
Itu terjadi ketika Indonesia mulai menerima sebagian sampah plastik yang dulunya dikirim ke China. Sementara sistem pengangkutan sampah pemerintah daerah masih terbatas, dan kebiasaan membakar sampah padat di ruang terbuka masih menjadi hal yang umum dilakukan.
Baca juga: PBB: Plastik Daur Ulang untuk Bungkus Makanan Butuh Regulasi Ketat
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the Royal Statistical Society—Series C: Applied Statistics, menyoroti masalah keadilan lingkungan yang terus berulang ke negara-negara kaya mengekspor polusi beserta dampaknya ke negara-negara berpenghasilan lebih rendah yang tidak punya cukup kekuatan untuk menolak atau mengelolanya.
"Ketika negara-negara berpenghasilan tinggi mengirimkan sampah plastik ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, sampah plastik yang dibakar cenderung menjadi lebih banyak," kata Considine.
"Hal ini melepaskan polutan ke udara yang dapat menyebabkan penyakit pernapasan, kanker, atau bahkan kematian bagi warga sekitar," katanya yang juga merupakan asisten profesor Geografi di CU Boulder.
Dalam studinya, Considine dan rekan penulisnya, Rachel Nethery dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, memanfaatkan data satelit untuk menilai perubahan partikel debu halus di 356 lokasi tempat pembuangan sampah terbuka di Indonesia, sebelum dan sesudah China melarang impor sampah plastik.
Partikel debu halus merupakan zat polusi udara yang paling mengkhawatirkan bagi kesehatan manusia karena ukurannya sangat kecil, sehingga mampu menembus paru-paru dan masuk ke dalam aliran darah manusia.
"Penelitian-penelitian sebelumnya tentang dampak pembakaran sampah plastik terhadap kualitas udara sifatnya lebih lokal, misalnya dengan memasang alat pemantau kualitas udara di beberapa lokasi saja selama beberapa bulan," kata Considine.
"Pendekatan kami sangat kuat karena memungkinkan kami untuk melihat perubahan polusi udara di wilayah penelitian yang luas dan dalam jangka waktu yang lama, serta menemukan hubungannya dengan impor sampah plastik," terangnya.
Tim peneliti lantas menggunakan metode statistik yang canggih untuk menentukan seberapa besar peningkatan polusi udara yang benar-benar disebabkan oleh perubahan kebijakan China dan pembakaran sampah, dibandingkan dengan faktor lain yang berubah-ubah seiring waktu, seperti cuaca.
Baca juga: Sampah Plastik Makanan dan Minuman Dominasi Laut Indonesia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kebijakan tersebut dan pembakaran sampah menyebabkan rata-rata peningkatan sebesar 3,3 persen pada partikel debu halus di lokasi-lokasi pembuangan sampah terbuka di Indonesia pada tahun 2018 dan 2019, jika dibandingkan dengan periode tahun 2012 hingga 2017.
Dampak potensial terhadap kesehatan sangatlah besar; peningkatan partikel debu halus ini berkaitan dengan perkiraan kenaikan risiko kematian akibat kanker paru-paru sebesar 1,9 persen dan kenaikan risiko kematian akibat infeksi saluran pernapasan bawah sebesar 3,5 persen.
Analisis tersebut mengungkap adanya potensi efek domino setelah larangan dari China di mana sebagian sampah plastik yang dulunya dikirim ke China dialihkan ke Indonesia, sehingga menyebabkan lebih banyak penumpukan sampah terbuka dan pembakaran sampah plastik, yang akhirnya menghasilkan lebih banyak polusi udara berupa partikel debu halus.
Penelitian ini pun mendukung keputusan terbaru dari Indonesia dan Malaysia, negara lain yang juga terkena dampak dari kebijakan China untuk melarang impor sampah plastik.
Metode yang digunakan oleh tim peneliti ini dapat dipakai untuk menilai seberapa efektif kebijakan tersebut, serta kebijakan-kebijakan masa depan yang berkaitan dengan sampah plastik dan pembakaran terbuka.
"Upaya seperti yang kami lakukan ini membantu mengisi kekurangan bukti-bukti penting di tempat-tempat dan untuk penerapan yang datanya lebih terbatas," tambah
Considine.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya