Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan

Kompas.com, 4 Juni 2026, 20:38 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Prof Irfan Syauqi Beik, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai sekitar 5,6 persen pada triwulan I 2026 belum sepenuhnya mampu mengatasi ketimpangan distribusi kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, menurut Irfan, Indonesia perlu menerapkan pendekatan growth through equity, yakni strategi pembangunan yang menempatkan pemerataan sebagai instrumen utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan Irfan dalam pemaparan catatan kritis terhadap kondisi perekonomian Indonesia pada peringatan Dies Natalis ke-25 FEM IPB University di Bogor.

Baca juga: Dorong Pembangunan Berkelanjutan, IKA Unpad Luncurkan Forum Ekonomi Hijau

"Selain itu, perlambatan sektor manufaktur berpotensi memicu deindustrialisasi dini dan mengurangi kapasitas penciptaan lapangan kerja formal. Penguatan sektor riil serta peningkatan keterkaitan antara industri besar dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu menjadi prioritas pembangunan ekonomi nasional," ujar dia dalam keterangan resmi, Kamis (4/6/2026).

Ia juga menilai kebijakan suku bunga yang relatif tinggi dapat menekan aktivitas usaha, terutama UMKM yang membutuhkan akses pembiayaan untuk mengembangkan bisnisnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Irfan mendorong pengembangan skema pembiayaan berbasis kemitraan dan bagi hasil, termasuk optimalisasi instrumen keuangan syariah guna memperkuat sektor produktif.

Sementara itu Plt. Rektor IPB University, Prof. drh. Deni Noviana menyatakan bahwa Indonesia harus menjalankan pembangunan sistem yang lebih inklusif, tangguh, dan berbasis ilmu pengetahuan.

"FEM memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan pemikiran dan solusi yang mampu menjawab berbagai persoalan bangsa. Beliau juga mengapresiasi berbagai capaian FEM selama 25 tahun terakhir yang terus menunjukkan kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat," jelasnya.

Mengoptimalkan ZISWAF

Dalam paparannya, Irfan turut menggarisbawahi pentingnya optimalisasi instrumen keuangan sosial Islam, seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF), sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan dan penguatan sistem perlindungan sosial.

Ia juga menyoroti tantangan ketahanan pangan nasional yang masih perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, transformasi sektor pertanian dan agribisnis harus terus didorong melalui modernisasi teknologi, peningkatan produktivitas, kepastian akses lahan, serta penyediaan pembiayaan yang adil bagi petani.

"Transformasi sektor pertanian dan agribisnis melalui modernisasi teknologi, peningkatan produktivitas, kepastian akses lahan, dan pembiayaan yang adil bagi petani perlu terus didorong guna mewujudkan kemandirian pangan nasional," kata Irfan.

Baca juga: Jatim Percepat Pembangunan Waste to Energy, Kelola 2.000 Ton Sampah per Hari

Lebih lanjut, Irfan menilai sistem keuangan nasional perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap dimensi sosial. Ia mengusulkan agar fungsi sosial perbankan dimasukkan ke dalam indikator penilaian tingkat kesehatan bank, baik bank konvensional maupun syariah.

Menurut dia, keberhasilan lembaga keuangan tidak seharusnya hanya diukur dari aspek profitabilitas dan stabilitas, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pemerataan ekonomi, inklusi keuangan, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan kesejahteraan sosial.

Acara dies natalis tersebut dihadiri oleh sivitas akademika, alumni, mitra, serta para pemangku kepentingan.

Rangkaian kegiatan meliputi sambutan pimpinan, penyampaian catatan kritis perekonomian Indonesia, peluncuran aransemen baru Mars FEM, penandatanganan kerja sama dengan Media Republika, peresmian ESPOLEA FEM x SSMI, peluncuran Orange Book FEM 2026, pemberian FEM Award, serta berbagai kegiatan apresiasi dan hiburan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
LSM/Figur
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
Pemerintah
Kualitas Udara Indonesia Memburuk Pasca-Larangan Impor Sampah Plastik China
Kualitas Udara Indonesia Memburuk Pasca-Larangan Impor Sampah Plastik China
Pemerintah
Dorong Konservasi dan Ekonomi, Masyarakat Kampung Salafen Uji Coba Wisata Buka Sasi
Dorong Konservasi dan Ekonomi, Masyarakat Kampung Salafen Uji Coba Wisata Buka Sasi
LSM/Figur
Biaya Tersembunyi Subsidi BBM Terus Membengkak, Hambat Transisi Energi
Biaya Tersembunyi Subsidi BBM Terus Membengkak, Hambat Transisi Energi
LSM/Figur
Aliansi Global Luncurkan Simbol Baru untuk Kemasan yang Bisa Dipakai Ulang
Aliansi Global Luncurkan Simbol Baru untuk Kemasan yang Bisa Dipakai Ulang
Pemerintah
TNFD Rilis Panduan Baru bagi Direktur Keuangan untuk Hadapi Risiko Kerusakan Alam
TNFD Rilis Panduan Baru bagi Direktur Keuangan untuk Hadapi Risiko Kerusakan Alam
Pemerintah
WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan
WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan
Pemerintah
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Pemerintah
Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?
Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?
LSM/Figur
Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
LSM/Figur
Saatnya Mengelaborasi Pasal 6.8 Perjanjian Paris
Saatnya Mengelaborasi Pasal 6.8 Perjanjian Paris
Pemerintah
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Pemerintah
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau