KOMPAS.com - Sebuah studi global baru menemukan bahwa orang-orang yang tidak memiliki akses ke air minum bersih jauh lebih rentan mengalami kelaparan dan mengonsumsi makanan yang tidak sehat atau tercemar.
Hal ini menegaskan perlunya tindakan nyata yang kompak di tingkat dunia untuk mengatasi masalah-masalah tersebut secara bersamaan.
Studi ini diterbitkan dalam jurnal Nature Food oleh tim peneliti dari Universitas Southern California (USC) dan Lembaga Manajemen Air Internasional (IWMI) yang ahli di bidang air, pangan, dan kebijakan publik.
Melansir Phys, Selasa (2/6/2026) dalam studinya peneliti menganalisis data survei dari Lloyd's Register Foundation World Risk Poll, yang melibatkan 124.003 orang dari 121 negara dengan berbagai tingkat ekonomi.
Data tersebut mengungkap bahwa, di seluruh dunia, orang-orang yang kekurangan air minum bersih juga cenderung kesulitan mendapatkan makanan dan menjaga keamanan makanan mereka.
Baca juga: Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
"Bahkan jika Anda tinggal di negara yang kaya raya sekalipun, jika Anda kekurangan akses ke air minum bersih, Anda akan lebih rentan kekurangan akses ke makanan," kata Wändi Bruine de Bruin, penulis utama studi tersebut.
Temuan studi ini menunjukkan bahwa pemerintah, organisasi kemanusiaan, dan para pemimpin kesehatan masyarakat harus mengatasi masalah krisis air dan krisis pangan secara bersamaan, bukan sebagai masalah yang terpisah-pisah.
"Krisis air, krisis pangan, dan keamanan makanan terlalu sering dikotak-kotakkan sebagai tantangan yang berbeda dan keliru dianggap sebagai beban yang hanya ditanggung oleh negara-negara miskin dan berkembang saja," kata Rachael McDonnell, Wakil Direktur Jenderal Lembaga Manajemen Air Internasional (IWMI).
"Untuk mengatasi krisis yang saling berkaitan ini, lembaga-lembaga di tingkat global, nasional, maupun lokal harus menghancurkan sekat-sekat aturan dan politik yang selama ini membuat tindakan kerja sama antara sektor air dan pangan menjadi terpecah-pecah," katanya yang juga salah satu penulis pendamping dalam studi ini.
Lebih lanjut, para peneliti menjabarkan beberapa alasan mengapa orang-orang yang kekurangan air minum bersih juga mengalami masalah dalam mendapatkan makanan yang aman dan cukup.
Menurut mereka masalah air dan makanan bisa disebabkan oleh kondisi sekitar, seperti fasilitas umum yang buruk, perubahan iklim, kemiskinan, tidak punya rumah, dan perang.
Itu mengapa tanpa adanya air minum yang bersih, seseorang akan sangat kesulitan atau bahkan tidak bisa sama sekali untuk memasak dan menyiapkan makanan secara bersih dan aman.
Selain itu ketika seseorang harus menghabiskan lebih banyak uang dan waktu hanya untuk mencari makanan, maka sisa uang dan waktu yang mereka miliki untuk mendapatkan air bersih menjadi semakin berkurang.
Studi ini pun menyarankan untuk meningkatkan investasi pembangunan fasilitas air bersih, sistem sanitasi dan program kesehatan masyarakat berbasis komunitas, terutama di wilayah yang rawan dan kurang terlayani.
Baca juga: Studi: Cuaca Rusak Panen, Harga Pangan Naik 2 Kali Lipat Lebih Cepat
Para peneliti juga mengajak para pembuat kebijakan untuk memperkuat kerja sama antara sektor air, pangan, dan sektor lainnya agar bisa mengatasi masalah-masalah yang saling tumpang tindih dengan lebih baik.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya