Meskipun ada masalah kurangnya pasokan bahan bakar ramah lingkungan, hasil survei penumpang yang dilakukan IATA pada April 2026 menunjukkan adanya dukungan yang sangat besar dari masyarakat agar industri penerbangan bebas dari polusi.
Hampir 89 persen penumpang percaya bahwa industri penerbangan harus terus mengurangi emisi, bahkan jika pemerintah di negara mereka mengurangi upaya kepedulian terhadap iklim.
Jumlah yang sama juga menganggap bahwa naik pesawat adalah kebutuhan yang sangat penting, sehingga penerbangan harus diubah menjadi lebih ramah lingkungan, bukannya malah dibatasi jumlahnya.
Dukungan tersebut juga memengaruhi kesiapan para penumpang dalam mengeluarkan uang. Sekitar 66 persen penumpang menyatakan rela membayar harga tiket lebih mahal untuk mengganti rugi polusi yang dihasilkan dari perjalanan mereka.
Selain itu, hampir 88 persen penumpang sudah menduga dan maklum bahwa harga tiket pesawat akan naik karena adanya investasi untuk lingkungan ramah lingkungan ini.
Para penumpang juga lebih memilih tindakan nyata untuk mengurangi polusi daripada sekadar ditarik pajak lingkungan oleh pemerintah. Sekitar 25 persen penumpang ingin uang mereka disalurkan langsung untuk membeli SAF, sementara 23 persen lebih memilih uang itu dipakai untuk mendanai teknologi pengurangan polusi. Hanya 10 persen penumpang yang menganggap urusan bayar pajak sebagai hal yang utama.
Baca juga: Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Kepedulian terhadap lingkungan ini juga sudah mulai memengaruhi cara orang memilih penerbangan. Hampir setengah dari total penumpang kini selalu mempertimbangkan jumlah polusi karbon yang dihasilkan saat memilih tiket pesawat.
Di antara penumpang yang peduli tersebut, lebih dari 85 persen menyatakan bahwa data jumlah polusi benar-benar memengaruhi keputusan akhir mereka dalam membeli tiket.
Selain itu, sekitar tiga perempat (75 persen) penumpang lebih memilih untuk terbang bersama maskapai yang memiliki reputasi menjaga lingkungan dengan baik.
Lebih lanjut, bagi jajaran direksi, investor, dan pembuat kebijakan, masalah paling mendasar yang harus diselesaikan adalah bagaimana merancang sistem pasar yang benar.
SAF tidak akan bisa diproduksi dalam jumlah besar hanya dengan modal membuat target di atas kertas saja. Industri ini sangat membutuhkan ketersediaan energi terbarukan, akses ke fasilitas pipa dan tangki di bandara, bantuan modal produksi, aturan hukum yang seragam di berbagai negara, serta jaminan bahwa pembeli akan terus ada dalam jangka panjang.
Taruhannya sangat besar bagi seluruh dunia. Sektor penerbangan adalah urat nadi yang menghubungkan perdagangan, pariwisata, dan rantai pasokan barang lintas negara.
Jika bahan bakar SAF tetap langka dan susah dicari, maka biaya untuk menghapus polusi akan semakin melonjak tinggi dan target penyelamatan iklim akan semakin sulit untuk diwujudkan.
Babak berikutnya akan menjadi pembuktian apakah pemerintah di berbagai negara bisa mengubah ambisi politik mereka menjadi aksi nyata dalam membangun industri yang sesungguhnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya