Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengembangan SAF dari Limbah Pertanian Terkendala Teknologi dan Keekonomian

Kompas.com, 11 Juni 2026, 09:24 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

BOGOR , KOMPAS.com - Teknologi menjadi kendala dalam mengoptimalkan potensi pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) di Indonesia.

SAF bisa diproduksi dari limbah kehutanan dan pertanian, yang salah satunya dari limbah kelapa sawit (Oil Palm Batang/OPT) yang dihasilkan dari peremajaan (penanaman kembali) tanaman berusia di atas 25 tahun.

“Nah, itu bisa berpotensi menjadi SAF, tapi kembali tantangannya adalah teknologi,” ujar Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas H. Pamungkas dalam media briefing di Bogor, Rabu (10/6/2026).

Baca juga: SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori

Di  sisi lain, aspek keekonomian juga menjadi kendala pengembangan SAF, mulai dari biaya logistik, pengumpulan, sampai proses fermentasi nira.

Selain mengambil niranya untuk diolah menjadi bioetanol sebagai bahan baku SAF, OPT juga bisa diproses dengan jalur lain. Yaitu, melalui proses pirolisis dan gasifikasi, yang mana produksi SAF dengan jalur ini masih dalam proses diskusi di The International Civil Aviation Organization (ICAO) nanti.

Harga diakomodasi

Harga  per liter SAF dari limbah tersebut harus bisa diakomodasi oleh maskapai jika ingin diekspor maupun dipakai di dalam negeri.

Menurut Dimas, penerapan SAF untuk campuran avtur dalam strategi berbagai negara tidak ditampilkan secara vulgar, karena harganya tergolong mahal.

Peningkatan persentase campuran SAF ke avtur yang terlalu tinggi dapat menyebabkan maskapai penerbangan di suatu negara menjadi tidak kompetitif. Oleh karena itu, pengambil kebijakan perlu meninjau persentase penerapan SAF untuk campuran avtur, sehingga memperlambat kemajuan peningkatan baurannya.

Peningkatan  bauran SAF berisiko mengerek harga tiket pesawat, mengingat 40 persen biaya maskapai berasal dari bahan bakar.

Jika harga bahan bakar terlalu mahal, maka maskapai tidak akan kompetitif dalam penjualan tiket pesawat. Kenaikan harga tiket akibat peningkatan bauran SAF juga mempengaruhi strategi pasar bagi konsumen pesawat terbang.

Baca juga: Avtur Berkelanjutan Diprediksi Melonjak, Pertumbuhan SAF Global Capai 64 Persen per Tahun

Kendati demikian, pengembangan SAF di Indonesia potensial ke depannya karena Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyebut, produksi bioavtur ini secara global masih jauh di bawah jumlah yang dibutuhkan untuk membawa industri penerbangan menuju jalur bebas emisi GRK. ‎

Diketahui, IATA memperkirakan produksi SAF hanya akan sekitar 2,4 juta ton pada 2026 atau 0,8 persen dari total seluruh penggunaan bahan bakar pesawat di dunia.

"Kenaikan harga tiket ini juga tidak kompetitif bagi persaingan internasional. Tapi, ini (SAF) berpotensi ke depan. Sekarang memang mahalnya harga SAF ini karena memang masih tahap awal. Biodiesel juga pada tahap awal itu juga mahal," tutur Dimas.

Seperti  biodiesel, biaya produksi SAF ke depannya akan menurun dan persentase campurannya ke avtur berpotensi meningkat.

CPO sebagai bahan baku SAF

Dalam pengembangan SAF, Indonesia perlu mendiversifikasi bahan baku, dengan lebih banyak mengandalkan limbah. Oleh karena itu, limbah dari PFAD (Palm Fatty Acid Distillate), POME (Palm Oil Mill Effluent), minyak jelantah (minyak jelantah) juga perlu dikembangkan mekanisme pengumpulannya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau