BOGOR , KOMPAS.com - Teknologi menjadi kendala dalam mengoptimalkan potensi pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) di Indonesia.
SAF bisa diproduksi dari limbah kehutanan dan pertanian, yang salah satunya dari limbah kelapa sawit (Oil Palm Batang/OPT) yang dihasilkan dari peremajaan (penanaman kembali) tanaman berusia di atas 25 tahun.
“Nah, itu bisa berpotensi menjadi SAF, tapi kembali tantangannya adalah teknologi,” ujar Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas H. Pamungkas dalam media briefing di Bogor, Rabu (10/6/2026).
Baca juga: SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
Di sisi lain, aspek keekonomian juga menjadi kendala pengembangan SAF, mulai dari biaya logistik, pengumpulan, sampai proses fermentasi nira.
Selain mengambil niranya untuk diolah menjadi bioetanol sebagai bahan baku SAF, OPT juga bisa diproses dengan jalur lain. Yaitu, melalui proses pirolisis dan gasifikasi, yang mana produksi SAF dengan jalur ini masih dalam proses diskusi di The International Civil Aviation Organization (ICAO) nanti.
Harga per liter SAF dari limbah tersebut harus bisa diakomodasi oleh maskapai jika ingin diekspor maupun dipakai di dalam negeri.
Menurut Dimas, penerapan SAF untuk campuran avtur dalam strategi berbagai negara tidak ditampilkan secara vulgar, karena harganya tergolong mahal.
Peningkatan persentase campuran SAF ke avtur yang terlalu tinggi dapat menyebabkan maskapai penerbangan di suatu negara menjadi tidak kompetitif. Oleh karena itu, pengambil kebijakan perlu meninjau persentase penerapan SAF untuk campuran avtur, sehingga memperlambat kemajuan peningkatan baurannya.
Peningkatan bauran SAF berisiko mengerek harga tiket pesawat, mengingat 40 persen biaya maskapai berasal dari bahan bakar.
Jika harga bahan bakar terlalu mahal, maka maskapai tidak akan kompetitif dalam penjualan tiket pesawat. Kenaikan harga tiket akibat peningkatan bauran SAF juga mempengaruhi strategi pasar bagi konsumen pesawat terbang.
Baca juga: Avtur Berkelanjutan Diprediksi Melonjak, Pertumbuhan SAF Global Capai 64 Persen per Tahun
Kendati demikian, pengembangan SAF di Indonesia potensial ke depannya karena Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyebut, produksi bioavtur ini secara global masih jauh di bawah jumlah yang dibutuhkan untuk membawa industri penerbangan menuju jalur bebas emisi GRK.
Diketahui, IATA memperkirakan produksi SAF hanya akan sekitar 2,4 juta ton pada 2026 atau 0,8 persen dari total seluruh penggunaan bahan bakar pesawat di dunia.
"Kenaikan harga tiket ini juga tidak kompetitif bagi persaingan internasional. Tapi, ini (SAF) berpotensi ke depan. Sekarang memang mahalnya harga SAF ini karena memang masih tahap awal. Biodiesel juga pada tahap awal itu juga mahal," tutur Dimas.
Seperti biodiesel, biaya produksi SAF ke depannya akan menurun dan persentase campurannya ke avtur berpotensi meningkat.
Dalam pengembangan SAF, Indonesia perlu mendiversifikasi bahan baku, dengan lebih banyak mengandalkan limbah. Oleh karena itu, limbah dari PFAD (Palm Fatty Acid Distillate), POME (Palm Oil Mill Effluent), minyak jelantah (minyak jelantah) juga perlu dikembangkan mekanisme pengumpulannya.
Sebaiknya, kata dia, Indonesia tidak mengandalkan minyak kelapa sawit (minyak sawit mentah/CPO) sebagai bahan baku untuk produksi SAF. Penggunaan CPO untuk SAF terkendala emisi gas rumah kaca (GRK) yang disematkan pada produk turunan utama kelapa sawit ini.
"Jadi kami berencana di ICAO itu ingin mengajukan revisi ILUC (Induksi Perubahan Penggunaan Lahan). Karena ILUC ini memberikan kontribusi besar kepada total emisi CPO saat ini, sebesar 39 gram CO2 per megajoule itu.Tetapi kami kekurangan orang yang mengetahui metodologi yang dipakai di ICAO," ucapnya.
Baca juga: Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Terdapat dua metodologi yang dipakai di ICAO. Pertama, Global Biosphere Management Model (GLOBIOM) yang dikembangkan oleh Amerika Serikat di Purdue University. Kedua, Gas Rumah Kaca, Emisi Teregulasi, dan Penggunaan Energi dalam Teknologi (GREET-BIO) yang dikembangkan oleh Uni Eropa.
"Nanti pertemuan di Bali tanggal 6 sampai 10 Juli 2026 nanti, kami akan mengajukan kertas kerja kepada Sekretariat ICAO bahwasanya Indonesia meminta agar pelatihan diberikan bagaimana menghitung ILUC untuk bahan baku yang akan diusulkan di ICAO," ujar Dimas.
CPO Pasokan dalam negeri juga sudah 'tidak terkunci' untuk ditempatkan pada program mandatori biodiesel, serta kepentingan pangan dan oleokimia. Dengan meningkatnya bauran biodiesel seiring diperkenalkannya B50, kebutuhan CPO juga akan meningkat dan Indonesia pun masih perlu meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawitnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya