Sebaiknya, kata dia, Indonesia tidak mengandalkan minyak kelapa sawit (minyak sawit mentah/CPO) sebagai bahan baku untuk produksi SAF. Penggunaan CPO untuk SAF terkendala emisi gas rumah kaca (GRK) yang disematkan pada produk turunan utama kelapa sawit ini.
"Jadi kami berencana di ICAO itu ingin mengajukan revisi ILUC (Induksi Perubahan Penggunaan Lahan). Karena ILUC ini memberikan kontribusi besar kepada total emisi CPO saat ini, sebesar 39 gram CO2 per megajoule itu.Tetapi kami kekurangan orang yang mengetahui metodologi yang dipakai di ICAO," ucapnya.
Baca juga: Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Terdapat dua metodologi yang dipakai di ICAO. Pertama, Global Biosphere Management Model (GLOBIOM) yang dikembangkan oleh Amerika Serikat di Purdue University. Kedua, Gas Rumah Kaca, Emisi Teregulasi, dan Penggunaan Energi dalam Teknologi (GREET-BIO) yang dikembangkan oleh Uni Eropa.
"Nanti pertemuan di Bali tanggal 6 sampai 10 Juli 2026 nanti, kami akan mengajukan kertas kerja kepada Sekretariat ICAO bahwasanya Indonesia meminta agar pelatihan diberikan bagaimana menghitung ILUC untuk bahan baku yang akan diusulkan di ICAO," ujar Dimas.
CPO Pasokan dalam negeri juga sudah 'tidak terkunci' untuk ditempatkan pada program mandatori biodiesel, serta kepentingan pangan dan oleokimia. Dengan meningkatnya bauran biodiesel seiring diperkenalkannya B50, kebutuhan CPO juga akan meningkat dan Indonesia pun masih perlu meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawitnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya