KOMPAS.com-Jamur air merupakan makhluk hidup super kecil atau mikroorganisme yang punya peran sangat penting dalam menjaga keseimbangan alam di sungai.
Mereka membantu membusukkan bahan organik, membersihkan zat pencemar, serta menjadi bagian dari siklus makanan dan energi di ekosistem air tawar.
Meskipun peran mereka sangat penting bagi alam, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Freshwater Biology memperingatkan bahwa keanekaragaman dan fungsi dari makhluk kecil ini sedang terancam bahaya.
Penyebabnya adalah suhu bumi yang semakin panas, musim kemarau yang semakin panjang, dan hilangnya tumbuhan di pinggiran sungai akibat krisis iklim.
Penelitian ini dipimpin oleh University of Barcelona dan Institut Penelitian Perubahan Global di Rey Juan Carlos University (IICG-URJC).
Baca juga: El Nino Bisa Surutkan Sungai Mahakam-Barito dan Ganggu Rantai Pasok Batu Bara
Melansir Phys, Minggu (21/6/2026), studi ini memeriksa bagaimana jamur air dan tugas-tugas yang mereka lakukan bereaksi terhadap aktivitas manusia, dengan tujuan agar kita bisa lebih memahami cara kerja ekosistem sungai dan merawatnya dengan lebih baik.
"Hilangnya hutan di pinggiran sungai berdampak buruk bagi jamur, karena hal itu membuat dasar sungai semakin terpapar terik matahari dan suhunya menjadi lebih panas," kata Aida Viza, peneliti dari Departemen Biologi Evolusioner, Ekologi, dan Ilmu Lingkungan di University of Barcelona, serta Institut Ilmu Lingkungan di RPTU University Kaiserslautern-Landau di Jerman.
Hal ini menunjukkan pemanasan global dan musim kemarau yang semakin parah bisa merusak keanekaragaman hayati serta fungsi dari makhluk hidup super kecil di ekosistem air tawar.
Tetapi di sisi lain, peneliti juga menemukan peningkatan zat kimia seperti nitrat dan fosfat yang biasanya berasal dari limbah pertanian atau perkotaan ternyata hampir tidak memengaruhi keanekaragaman atau fungsi dari jamur air ini.
Hal tersebut mungkin terjadi karena lumpur di dasar sungai menyediakan kondisi suhu dan kelembapan yang lebih stabil, sehingga sungai bisa tetap menjaga kehidupan dan menjalankan fungsinya.
"Hasil penelitian ini memberikan kabar yang cukup melegakan untuk masa depan sungai. Namun, kita harus tetap ingat bahwa akibat krisis iklim, kondisi sulit ini akan berlangsung semakin lama, dan kemampuan lumpur dasar sungai untuk menjadi tempat perlindungan bagi mikroba itu ada batasnya," tambah Viza.
Penelitian ini, yang dilakukan di bawah payung Lembaga Pengamat Sungai Iberia (IberRios), melibatkan 19 peneliti dari berbagai universitas dan lembaga riset di Spanyol, Portugal, Jerman, dan Swiss.
Baca juga: Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar
Secara keseluruhan, para peneliti mengumpulkan data dari 62 sungai di tujuh wilayah Semenanjung Iberia yang memiliki jenis tanah dan iklim yang sangat beragam.
"Metode kami memungkinkan kami untuk memanfaatkan sungai-sungai di Semenanjung Iberia sebagai laboratorium alam. Kami menggunakannya untuk menguji bagaimana krisis iklim dan ulah manusia bisa merusak keanekaragaman hayati di ekosistem ini, serta mengancam manfaat yang biasa didapatkan oleh masyarakat," kata Cayetano Gutiérrez, seorang peneliti di IICG-URJC.
Kesimpulan dari penelitian ini sangat penting untuk diterapkan dalam merawat dan mengawasi kesehatan sungai di tengah krisis iklim. Selama ini, perawatan sungai sering kali hanya fokus pada pengurangan limbah zat kimia. Padahal, cara itu saja tidak akan cukup untuk menyelamatkan keanekaragaman dan fungsi penting yang diberikan oleh jamur air.
"Penelitian baru ini menunjukkan bahwa kita harus bertindak cepat dan mengambil langkah nyata untuk mengurangi dampak buruk krisis iklim pada sungai. Salah satu tindakan yang bisa dilakukan adalah memperbanyak area teduh dengan cara menanam kembali hutan di pinggiran sungai, serta melarang pengambilan air sungai secara berlebihan, terutama saat musim kemarau," pungkas Gutiérrez.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya