KOMPAS.com - Survei dari lembaga World Business Council for Sustainable Development mengungkapkan mayoritas pemimpin bisnis merasa khawatir perpindahan menuju ekonomi rendah polusi akan berjalan semrawut.
Lembaga tersebut mencatat sebanyak 68 persen pemimpin bisnis menilai bahwa transisi iklim yang kacau kini jauh lebih mungkin terjadi dibandingkan tahun lalu.
Bahkan, bagi para bos perusahaan di wilayah Amerika Utara, tingkat kecemasan tersebut melonjak drastis hingga mencapai 94 persen.
Angka kekhawatiran ini didapat dari survei tahunan terhadap lebih dari 500 pemimpin dan manajer senior perusahaan di 50 negara, dengan total gabungan pendapatan mencapai sekitar 2 triliun dolar AS.
Sebagai informasi transisi iklim sendiri merupakan proses perpindahan besar-besaran cara hidup dan cara berbisnis manusia menjadi ramah lingkungan.
Baca juga: Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia
Melansir ESG Dive, Selasa (23/6/2026) hampir separuh (47 persen) pemimpin bisnis melaporkan bahwa dalam setahun terakhir perusahaan mereka mengalami pembengkakan biaya akibat perubahan iklim, seperti cuaca ekstrem, panas menyengat, banjir, kekeringan, atau kelangkaan air.
Selain itu, 49 persen dari mereka memperkirakan biaya-biaya ini akan terus naik dalam 12 bulan ke depan.
Hampir seluruh pemimpin bisnis (98 persen) menyatakan bahwa transisi iklim yang berantakan adalah ancaman bagi bisnis mereka, di mana 40 persen di antaranya menganggap hal ini sebagai ancaman yang "sangat besar" atau "kritis".
Namun, hanya 15 persen dari total peserta survei yang mengaku perusahaan mereka sudah benar-benar siap menghadapi transisi yang kacau tersebut. Oleh karena itu, 85 persen pemimpin bisnis lebih memilih aturan pemerintah yang berubah sejak awal secara bertahap, dibanding hanya 4 persen yang memilih untuk menunda-nunda aturan.
Menurut lembaga WBCSD, transisi iklim yang berantakan bisa mengakibatkan perubahan aturan pemerintah yang mendadak, kerusakan alam yang tidak bisa diperbaiki lagi, lonjakan harga barang secara tiba-tiba, hingga kekacauan di masyarakat.
Para pemimpin bisnis mengaku sudah mulai menanggung pembengkakan biaya akibat beberapa masalah nyata berikut.
Misalnya saja gangguan pada jalur pengiriman barang atau pasokan bahan baku (54 persen pengusaha), naik-turunnya harga bahan baku yang tidak pasti (38 persen), kerusakan pada bangunan pabrik atau fasilitas fisik (38 persen) serta biaya asuransi yang makin mahal atau bahkan penolakan jaminan dari perusahaan asuransi (38 persen).
"Tanda-tanda transisi yang kacau ini makin kuat. Kami khawatir jika tidak ada kerja sama yang lebih kompak dan aturan yang konsisten dari pemerintah, tekanan ini akan makin parah. Ujung-ujungnya, biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan dan konsumen akan menjadi jauh lebih mahal," kata Peter Bakker, Presiden dan CEO WBCSD.
Meskipun menghadapi banyak tantangan, 89 persen pemimpin bisnis menyatakan mereka tetap mempertahankan atau bahkan menaikkan investasi di bidang lingkungan selama setahun terakhir. Selain itu, jumlah pemimpin yang memperkuat target iklim mereka pada tahun 2025 (38 persen) melonjak dua kali lipat dibanding hasil survei tahun lalu.
Melalui wawancara dalam laporan tersebut, para pemimpin perusahaan mengaku bahwa mereka memperluas penggunaan listrik bersih, sistem serba listrik, daur ulang, dan pertanian ramah lingkungan bukan sekadar untuk menyelamatkan bumi, melainkan karena cara-cara tersebut adalah pilihan paling menguntungkan, aman, dan tahan banting saat ini.
Baca juga: WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
Ditambah lagi, 92 persen pemimpin yakin bahwa bisnis yang ramah lingkungan akan menjadi kunci utama untuk memenangkan persaingan pasar dalam 5 hingga 10 tahun ke depan.
Sebanyak 52 persen pengusaha menyatakan bahwa alasan utama mereka menjalankan strategi ramah lingkungan adalah untuk mengelola risiko bisnis serta mematuhi aturan pemerintah.
Sementara itu, 46 persen pengusaha melakukannya karena melihat adanya peluang pertumbuhan bisnis di masa depan. Khusus di wilayah Amerika Utara, 68 persen pemimpin bisnis menyebutkan bahwa permintaan dari pelanggan adalah pendorong utama mereka beralih ke sistem yang ramah lingkungan.
Para peserta survei menilai bahwa bisnis di bidang lingkungan kini makin menguntungkan secara ekonomi. Sebanyak 80 persen pemimpin bisnis melihat bahwa sektor pembuatan dan penyimpanan listrik bersih menjadi jauh lebih menarik dalam setahun terakhir.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya