Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau

Kompas.com, 24 Juni 2026, 20:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Survei dari lembaga World Business Council for Sustainable Development mengungkapkan mayoritas pemimpin bisnis merasa khawatir perpindahan menuju ekonomi rendah polusi akan berjalan semrawut.

Lembaga tersebut mencatat sebanyak 68 persen pemimpin bisnis menilai bahwa transisi iklim yang kacau kini jauh lebih mungkin terjadi dibandingkan tahun lalu.

Bahkan, bagi para bos perusahaan di wilayah Amerika Utara, tingkat kecemasan tersebut melonjak drastis hingga mencapai 94 persen.

Angka kekhawatiran ini didapat dari survei tahunan terhadap lebih dari 500 pemimpin dan manajer senior perusahaan di 50 negara, dengan total gabungan pendapatan mencapai sekitar 2 triliun dolar AS.

Sebagai informasi transisi iklim sendiri merupakan proses perpindahan besar-besaran cara hidup dan cara berbisnis manusia menjadi ramah lingkungan.

Baca juga: Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia

Dampak kacaunya transisi iklim

Melansir ESG Dive, Selasa (23/6/2026) hampir separuh (47 persen) pemimpin bisnis melaporkan bahwa dalam setahun terakhir perusahaan mereka mengalami pembengkakan biaya akibat perubahan iklim, seperti cuaca ekstrem, panas menyengat, banjir, kekeringan, atau kelangkaan air.

Selain itu, 49 persen dari mereka memperkirakan biaya-biaya ini akan terus naik dalam 12 bulan ke depan.

Hampir seluruh pemimpin bisnis (98 persen) menyatakan bahwa transisi iklim yang berantakan adalah ancaman bagi bisnis mereka, di mana 40 persen di antaranya menganggap hal ini sebagai ancaman yang "sangat besar" atau "kritis".

Namun, hanya 15 persen dari total peserta survei yang mengaku perusahaan mereka sudah benar-benar siap menghadapi transisi yang kacau tersebut. Oleh karena itu, 85 persen pemimpin bisnis lebih memilih aturan pemerintah yang berubah sejak awal secara bertahap, dibanding hanya 4 persen yang memilih untuk menunda-nunda aturan.

Menurut lembaga WBCSD, transisi iklim yang berantakan bisa mengakibatkan perubahan aturan pemerintah yang mendadak, kerusakan alam yang tidak bisa diperbaiki lagi, lonjakan harga barang secara tiba-tiba, hingga kekacauan di masyarakat.

Para pemimpin bisnis mengaku sudah mulai menanggung pembengkakan biaya akibat beberapa masalah nyata berikut.

Misalnya saja gangguan pada jalur pengiriman barang atau pasokan bahan baku (54 persen pengusaha), naik-turunnya harga bahan baku yang tidak pasti (38 persen), kerusakan pada bangunan pabrik atau fasilitas fisik (38 persen) serta biaya asuransi yang makin mahal atau bahkan penolakan jaminan dari perusahaan asuransi (38 persen).

"Tanda-tanda transisi yang kacau ini makin kuat. Kami khawatir jika tidak ada kerja sama yang lebih kompak dan aturan yang konsisten dari pemerintah, tekanan ini akan makin parah. Ujung-ujungnya, biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan dan konsumen akan menjadi jauh lebih mahal," kata Peter Bakker, Presiden dan CEO WBCSD.

Tetap investasi di bidang lingkungan

Meskipun menghadapi banyak tantangan, 89 persen pemimpin bisnis menyatakan mereka tetap mempertahankan atau bahkan menaikkan investasi di bidang lingkungan selama setahun terakhir. Selain itu, jumlah pemimpin yang memperkuat target iklim mereka pada tahun 2025 (38 persen) melonjak dua kali lipat dibanding hasil survei tahun lalu.

Melalui wawancara dalam laporan tersebut, para pemimpin perusahaan mengaku bahwa mereka memperluas penggunaan listrik bersih, sistem serba listrik, daur ulang, dan pertanian ramah lingkungan bukan sekadar untuk menyelamatkan bumi, melainkan karena cara-cara tersebut adalah pilihan paling menguntungkan, aman, dan tahan banting saat ini.

Baca juga: WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim

Ditambah lagi, 92 persen pemimpin yakin bahwa bisnis yang ramah lingkungan akan menjadi kunci utama untuk memenangkan persaingan pasar dalam 5 hingga 10 tahun ke depan.

Sebanyak 52 persen pengusaha menyatakan bahwa alasan utama mereka menjalankan strategi ramah lingkungan adalah untuk mengelola risiko bisnis serta mematuhi aturan pemerintah.

Sementara itu, 46 persen pengusaha melakukannya karena melihat adanya peluang pertumbuhan bisnis di masa depan. Khusus di wilayah Amerika Utara, 68 persen pemimpin bisnis menyebutkan bahwa permintaan dari pelanggan adalah pendorong utama mereka beralih ke sistem yang ramah lingkungan.

Para peserta survei menilai bahwa bisnis di bidang lingkungan kini makin menguntungkan secara ekonomi. Sebanyak 80 persen pemimpin bisnis melihat bahwa sektor pembuatan dan penyimpanan listrik bersih menjadi jauh lebih menarik dalam setahun terakhir.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau