"Melihat para bos FIFA terbang setiap hari menggunakan jet pribadi yang sangat berpolusi sama sekali tidak menunjukkan bahwa FIFA paham penyebab perubahan iklim, ataupun tanggung jawab mereka untuk menjadi bagian dari solusi," tulisnya di akun Instagram.
Tidak hanya berhenti pada piala dunia 2026 saja. Tahun depan, hal yang sama akan terulang pada Piala Dunia Wanita di Brasil.
Pada tahun 2024 lalu, FIFA lebih memilih Brasil ketimbang paket tuan rumah bersama Belgia, Belanda, dan Jerman yang sebenarnya 100 persen bisa dijangkau hanya dengan naik kereta api.
Baca juga: Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Kondisi ini akan menjadi jauh lebih parah pada perayaan 100 tahun Piala Dunia pria di tahun 2030. Turnamen tersebut akan digelar di tiga negara sekaligus, yaitu Maroko, Portugal, dan Spanyol, ditambah dengan tiga pertandingan pembuka di Amerika Selatan. Apalagi, ada rencana yang belum diputuskan untuk menambah jumlah peserta menjadi 64 tim.
Lebih lanjut, mengingat Piala Dunia 2026 ini menarik perhatian banyak artis terkenal dan penonton kaya raya, penggunaan jet pribadi tidak hanya dilakukan oleh pimpinan FIFA saja. Hal ini membuat total polusi yang dihasilkan dari turnamen ini menjadi semakin besar.
Sebagai gambaran, Piala Dunia 2022 lalu mendatangkan 1.846 jet pribadi ke Qatar, seperti yang dicatat oleh jurnal ilmiah asal Inggris, Nature.
Jumlah pesawat pribadi itu jauh lebih banyak daripada gabungan jet yang datang ke acara Super Bowl, Festival Film Cannes, Forum Ekonomi Dunia di Davos, dan Konferensi Iklim COP28 sekalipun.
"Semua polusi yang dihasilkan dari Piala Dunia adalah polusi karena kemewahan, bukan karena kebutuhan pokok untuk bertahan hidup. Lagipula, turnamen ini sebenarnya tidak harus selalu diadakan," kata Tim Walters, seorang akademisi asal Amerika Serikat.
"Dalam situasi seperti ini, gaya hidup super mewah dan boros emisi dari orang-orang kaya raya tersebut terlihat sangat keterlaluan dan mengecilkan hati kita semua," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya