“Tidak heran jika para investor masuk ke peluang bisnis ini melalui sektor dan pasar yang sudah mereka pahami. Memang begitulah cara sebuah bidang bisnis baru berkembang,” kata Jennifer Morris, CEO dari lembaga The Nature Conservancy.
“Kami juga melihat munculnya cara-cara dan sistem baru untuk memenuhi keinginan para investor yang kemudian berubah menjadi aksi investasi yang nyata. Untuk memperbesar skala bisnis ini, kita butuh dukungan aturan hukum yang lebih tegas dari pemerintah serta permintaan pasar yang lebih kuat terhadap produk-produk ramah lingkungan, seperti sertifikat karbon berkualitas tinggi dan bahan pangan yang diproduksi secara berkelanjutan,” tambahnya.
Wilayah yang tarik investasi terbanyak
Dari segi lokasi, wilayah Benua Amerika masih menjadi tempat yang paling banyak menarik modal swasta. Wilayah Amerika Latin sendiri berhasil menarik dana lebih dari 15 miliar dolar AS dalam sepuluh tahun terakhir.
Baca juga: Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Sebaliknya, laporan tersebut menyoroti bahwa wilayah Asia dan Afrika masih sangat kekurangan dana bantuan, padahal kedua wilayah ini memiliki peran alam yang sangat penting bagi bumi. Afrika, misalnya, hanya berhasil menarik dana sebesar 2,3 miliar dolar AS dalam 10 tahun terakhir.
Menurut laporan itu, ketimpangan dana ini tetap terjadi meskipun Afrika menghadapi risiko kerusakan alam yang sangat parah. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa takut dari investor terkait risiko kerugian bisnis, masih minimnya infrastruktur pendukung, serta sedikitnya jumlah pengelola investasi berpengalaman yang bisa mengurusi proyek langsung di lapangan.
Selain mendukung wilayah-wilayah yang masih kekurangan dana, investasi untuk alam harus terus dipercepat secara lebih luas demi mencapai target penyelamatan keanekaragaman hayati.
Hal ini mencakup modal dari perusahaan swasta, sumbangan pemerintah, hingga dana dari lembaga amal.
Menurut penilaian dari lembaga Indufor, untuk mencapai target alam bernama "30 by 30" yaitu melindungi minimal 30 persen lahan dan lautan di bumi pada tahun 2030, dunia membutuhkan dana gabungan dari pemerintah dan lembaga amal sebesar 6 miliar dolar AS setiap tahunnya menjelang 2030.
Sayangnya, dengan kecepatan pemberian dana saat ini, dunia diperkirakan hanya mampu mengumpulkan sekitar 4 miliar dolar AS saja.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya