KOMPAS.com - Lembaga riset MSCI Institute mengungkapkan ketergantungan wilayah Asia terhadap penggunaan pendingin ruangan (AC) untuk menghadapi cuaca panas ekstrem justru bisa makin memperburuk krisis iklim.
Mengapa demikian?
Melansir Eco Business, Kamis (25/6/2026) penggunaan AC itu sendiri diperkirakan dapat menyaingi besarnya kebutuhan listrik gedung pusat data untuk kecerdasan buatan.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan jumlah unit AC di seluruh dunia akan melonjak tiga kali lipat, dari sekitar 1,6 miliar unit pada tahun 2016 menjadi 5,6 miliar unit pada tahun 2050.
Lonjakan besar ini didorong oleh tingginya permintaan dari China, India, dan Indonesia.
Baca juga: AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?
Nah, mesin-mesin AC yang mendapatkan pasokan listrik dari pembangkit berbahan bakar batu bara atau gas yang kotor justru akan menghasilkan lebih banyak polusi gas rumah kaca.
Laporan itu menambahkan bahwa jumlah polusinya bahkan telah menembus lebih dari 1 miliar ton karbon dioksida dan gas berbahaya lainnya pada tahun 2022.
"Hasilnya adalah sebuah lingkaran setan yang menjadi contoh nyata dari kegagalan adaptasi lingkungan. Apakah penggunaan AC ini akan membantu manusia bertahan hidup atau malah merusak upaya penyelamatan bumi, semuanya sangat bergantung pada bagaimana risiko-risiko ini dikelola," tulis laporan MSCI Insights.
"Bagi para investor, tingginya permintaan AC menjadi dua tanda sekaligus yakni tanda seberapa besar kebutuhan manusia untuk bertahan hidup di dunia yang makin panas, sekaligus tanda adanya risiko kerugian bisnis dalam proses peralihan ke energi bersih jika masalah ini tidak diurus dengan benar," tambah laporan tersebut.
Wilayah Asia diperkirakan akan terus menjadi pengguna AC terbanyak di dunia. Lembaga MSCI Insights menjelaskan hal ini dengan mengutip data dari PBB yang menunjukkan bahwa suhu udara di Asia memanas dua kali lebih cepat daripada rata-rata kenaikan suhu di bagian bumi lainnya.
Selain itu, datangnya fenomena cuaca El Niño yang dipicu oleh memanasnya suhu air laut di Samudra Pasifik diperkirakan akan membuat suhu udara di seluruh dunia melonjak jauh lebih panas lagi mulai dari sekarang hingga bulan Agustus mendatang.
Baca juga: AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim
Peringatan tersebut disampaikan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).
Meskipun perusahaan-perusahaan di Asia memproduksi hampir separuh (48 persen) dari seluruh produk AC di dunia, mereka menyumbang penggunaannya lebih dari dua pertiga (68 persen) dari total perusahaan yang membangun bisnis AC sebagai jalan keluar untuk mengatasi kenaikan suhu panas. Hal ini ditunjukkan oleh riset dari MSCI.
Sebaliknya, jarang ada perusahaan di bagian dunia lain yang menganggap AC sebagai cara untuk bertahan hidup dari perubahan iklim. Di Amerika Serikat, perusahaan AC mereka menyumbang 22 persen dari total produsen dunia, tetapi hanya 9 persen dari perusahaan tersebut yang menyebut AC sebagai alat adaptasi cuaca panas.
Data statistik ini mencerminkan bahwa tingkat kekhawatiran terhadap risiko panas ekstrem di wilayah lain masih lebih rendah dibandingkan dengan wilayah Asia Pasifik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya