Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital

Kompas.com, 26 Juni 2026, 19:48 WIB
Sri Noviyanti

Editor


KOMPAS.com – Ketahanan kota di era digital tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas infrastruktur fisik. Gangguan siber, penyebaran disinformasi, hingga menurunnya kepercayaan publik menjadi tantangan baru yang dapat memengaruhi tata kelola perkotaan dan kemampuan kota dalam menghadapi berbagai krisis.

Menjawab tantangan tersebut, Cyfluence Research Center (CRC) memperkenalkan Urban Cyfluence Lab dan Urban Cyfluence Framework pada April 2026. Pendekatan ini mengintegrasikan aspek fisik, digital, dan kognitif untuk membantu pemerintah, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan memahami dan memitigasi risiko perkotaan yang semakin kompleks.

Director Urban Cyfluence Lab, Cyfluence Research Center, Nur Mawaddah, mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi kota saat ini tidak lagi berdiri sendiri. Perkembangan teknologi digital telah membuat ancaman terhadap kota turut merambah ruang informasi dan persepsi publik.

Baca juga: Perkotaan di Pulau Jawa Jadi Penyumbang Emisi Karbon Individu Tertinggi

"Kota saat ini tidak hanya menghadapi risiko pada infrastruktur fisik dan sistem digital, tetapi juga pada ruang persepsi dan kepercayaan publik. Urban Cyfluence Framework dikembangkan untuk membantu memahami bagaimana ketiga lapisan tersebut saling memengaruhi dan membentuk ketahanan kota di era digital," ujar Nur Mawaddah dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, membangun kota yang tangguh membutuhkan pendekatan yang mampu melihat keterkaitan antara ketiga aspek tersebut. Dengan demikian, pemerintah dapat menyusun kebijakan yang lebih adaptif dalam menghadapi berbagai bentuk risiko, mulai dari gangguan infrastruktur hingga disinformasi yang berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat.

Urban Cyfluence Framework mengintegrasikan tiga domain utama, yakni Physical (fisik), Digital, dan Cognitive (kognitif). Melalui pendekatan ini, CRC mendorong pengelolaan risiko perkotaan yang lebih komprehensif sehingga proses perencanaan dan pengambilan keputusan tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan dinamika ruang digital dan persepsi publik.

Sebagai bagian dari implementasi pendekatan tersebut, CRC juga meluncurkan Urban Cyfluence Blueprint Volume 1 yang melibatkan kontributor dari lebih dari 10 negara di Asia. Blueprint ini dirancang sebagai publikasi regional yang akan terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas negara, termasuk perluasan ke kawasan Oceania.

Baca juga: Green Property Jadi Solusi Atasi Perubahan Iklim di Perkotaan

Penyusunan blueprint melibatkan berbagai lembaga riset, perguruan tinggi, organisasi keamanan siber, dan institusi kebijakan publik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Binus, Hubungan Internasional Universitas Indonesia, CISSReC, National University Singapore, PR2Media, Facts Asia, Universitas Philippines Diliman, Nguyen Tat Thanh University Vietnam, Doublethink Lab Taiwan, University of Tokyo, SPARKCITY Korea Selatan, Malaysia Cybersecurity Community Organization, dan Universiti of Tunku Abdul Rahman Malaysia.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif sekaligus memperkuat pengembangan strategi ketahanan kota yang relevan dengan tantangan era digital.

CRC merupakan organisasi riset internasional yang berbasis di Berlin dan Jakarta yang berfokus pada isu digital hostile influence, information disorder, cyber-cognitive security, dan ketahanan institusi. Melalui pendekatan interdisipliner, CRC mengembangkan riset, pelatihan, serta kerangka kebijakan untuk mendukung pemerintah, akademisi, dan organisasi publik dalam memperkuat ketahanan digital dan tata kelola informasi.

Selain menghasilkan berbagai publikasi, CRC juga menyelenggarakan program capacity building serta mengembangkan framework dan proses asesmen untuk membantu mengukur sekaligus meningkatkan ketahanan kota dan institusi publik dalam menghadapi dinamika era digital.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital
CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital
Swasta
IPB University Pamerkan Inovasi Hasil Riset untuk Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo
IPB University Pamerkan Inovasi Hasil Riset untuk Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo
Pemerintah
Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Pemerintah
Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Pemerintah
Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Swasta
Kecepatan Adaptasi Tentukan Nasib Mahluk Hidup di Bumi, Kok Bisa?
Kecepatan Adaptasi Tentukan Nasib Mahluk Hidup di Bumi, Kok Bisa?
LSM/Figur
Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan
Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan
Pemerintah
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
LSM/Figur
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
LSM/Figur
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Pemerintah
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
LSM/Figur
Pemadaman Bergilir Dinilai Ungkap Rapuhnya Ketahanan Listrik Nasional
Pemadaman Bergilir Dinilai Ungkap Rapuhnya Ketahanan Listrik Nasional
LSM/Figur
PLTG Dinilai Paling Rentan Krisis Iklim, Kapasitas Berpotensi Turun hingga 4 Persen
PLTG Dinilai Paling Rentan Krisis Iklim, Kapasitas Berpotensi Turun hingga 4 Persen
LSM/Figur
Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Pemerintah
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau