Editor
KOMPAS.com – Ketahanan kota di era digital tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas infrastruktur fisik. Gangguan siber, penyebaran disinformasi, hingga menurunnya kepercayaan publik menjadi tantangan baru yang dapat memengaruhi tata kelola perkotaan dan kemampuan kota dalam menghadapi berbagai krisis.
Menjawab tantangan tersebut, Cyfluence Research Center (CRC) memperkenalkan Urban Cyfluence Lab dan Urban Cyfluence Framework pada April 2026. Pendekatan ini mengintegrasikan aspek fisik, digital, dan kognitif untuk membantu pemerintah, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan memahami dan memitigasi risiko perkotaan yang semakin kompleks.
Director Urban Cyfluence Lab, Cyfluence Research Center, Nur Mawaddah, mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi kota saat ini tidak lagi berdiri sendiri. Perkembangan teknologi digital telah membuat ancaman terhadap kota turut merambah ruang informasi dan persepsi publik.
Baca juga: Perkotaan di Pulau Jawa Jadi Penyumbang Emisi Karbon Individu Tertinggi
"Kota saat ini tidak hanya menghadapi risiko pada infrastruktur fisik dan sistem digital, tetapi juga pada ruang persepsi dan kepercayaan publik. Urban Cyfluence Framework dikembangkan untuk membantu memahami bagaimana ketiga lapisan tersebut saling memengaruhi dan membentuk ketahanan kota di era digital," ujar Nur Mawaddah dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, membangun kota yang tangguh membutuhkan pendekatan yang mampu melihat keterkaitan antara ketiga aspek tersebut. Dengan demikian, pemerintah dapat menyusun kebijakan yang lebih adaptif dalam menghadapi berbagai bentuk risiko, mulai dari gangguan infrastruktur hingga disinformasi yang berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat.
Urban Cyfluence Framework mengintegrasikan tiga domain utama, yakni Physical (fisik), Digital, dan Cognitive (kognitif). Melalui pendekatan ini, CRC mendorong pengelolaan risiko perkotaan yang lebih komprehensif sehingga proses perencanaan dan pengambilan keputusan tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan dinamika ruang digital dan persepsi publik.
Sebagai bagian dari implementasi pendekatan tersebut, CRC juga meluncurkan Urban Cyfluence Blueprint Volume 1 yang melibatkan kontributor dari lebih dari 10 negara di Asia. Blueprint ini dirancang sebagai publikasi regional yang akan terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas negara, termasuk perluasan ke kawasan Oceania.
Baca juga: Green Property Jadi Solusi Atasi Perubahan Iklim di Perkotaan
Penyusunan blueprint melibatkan berbagai lembaga riset, perguruan tinggi, organisasi keamanan siber, dan institusi kebijakan publik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Binus, Hubungan Internasional Universitas Indonesia, CISSReC, National University Singapore, PR2Media, Facts Asia, Universitas Philippines Diliman, Nguyen Tat Thanh University Vietnam, Doublethink Lab Taiwan, University of Tokyo, SPARKCITY Korea Selatan, Malaysia Cybersecurity Community Organization, dan Universiti of Tunku Abdul Rahman Malaysia.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif sekaligus memperkuat pengembangan strategi ketahanan kota yang relevan dengan tantangan era digital.
CRC merupakan organisasi riset internasional yang berbasis di Berlin dan Jakarta yang berfokus pada isu digital hostile influence, information disorder, cyber-cognitive security, dan ketahanan institusi. Melalui pendekatan interdisipliner, CRC mengembangkan riset, pelatihan, serta kerangka kebijakan untuk mendukung pemerintah, akademisi, dan organisasi publik dalam memperkuat ketahanan digital dan tata kelola informasi.
Selain menghasilkan berbagai publikasi, CRC juga menyelenggarakan program capacity building serta mengembangkan framework dan proses asesmen untuk membantu mengukur sekaligus meningkatkan ketahanan kota dan institusi publik dalam menghadapi dinamika era digital.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya