Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 28 Juni 2026, 15:42 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketika berbicara tentang pelestarian pesisir, mangrove hampir selalu menjadi jawaban pertama. Padahal, bagi banyak pantai berpasir di Indonesia, benteng alami yang paling sesuai justru bukan mangrove, melainkan cemara laut (Casuarina equisetifolia).

Di sepanjang pesisir berpasir, seperti di sebagian wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi, pohon berdaun menyerupai jarum ini telah lama menjadi pelindung alami pantai.

Berbeda dengan mangrove yang tumbuh optimal di kawasan berlumpur, cemara laut mampu bertahan di tanah berpasir yang miskin unsur hara, tahan terhadap semprotan garam, serta kuat menghadapi angin laut. Karakter inilah yang membuat cemara laut banyak dimanfaatkan sebagai sabuk hijau di kawasan pantai terbuka.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hutan pelindung pantai (coastal protection forests), termasuk tegakan cemara laut, memiliki peran yang jauh lebih luas dari sekadar penghijauan.
jurnal Ocean and Coastal Management (2024), misalnya, menyebut hutan pelindung pantai sebagai komponen penting dalam menjaga kualitas, jasa ekosistem, dan ketahanan kawasan pesisir.

Baca juga: Merawat Ekosistem Pesisir Malili lewat Transplantasi Karang dan Restorasi Mangrove

Vegetasi pantai tidak hanya membantu mengurangi dampak abrasi, angin laut, dan badai, tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati, meningkatkan kualitas lingkungan, serta mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Di tengah meningkatnya tekanan akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia, pengelolaan hutan pelindung pantai yang berkelanjutan juga dinilai menjadi bagian penting dari strategi adaptasi berbasis alam (nature-based solutions).

Kemampuan tersebut juga didukung oleh karakter biologis cemara laut. Sistem perakarannya mampu mengikat pasir sehingga membantu mengurangi erosi. Sementara itu, tajuknya yang rapat memecah embusan angin laut sekaligus menangkap butiran pasir yang terbawa angin.

Seiring waktu, proses ini membantu membentuk gumuk pasir yang lebih stabil sehingga garis pantai menjadi lebih terlindungi. Temuan ini juga diperkuat oleh berbagai penelitian mengenai restorasi gumuk pasir yang menunjukkan bahwa vegetasi pantai berperan penting dalam menstabilkan bentang alam pesisir.

Tidak semua pantai cocok ditanami mangrove

Karena karakteristik tersebut, pemilihan jenis vegetasi menjadi kunci dalam rehabilitasi kawasan pesisir. Sebab, tidak semua pantai membutuhkan pendekatan yang sama.

Prinsip itu menjadi dasar bagi LindungiHutan saat memulai rehabilitasi pesisir di Pantai Karangmalang, Desa Kartika Jaya, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Pantai tersebut memiliki garis pantai yang relatif sempit serta berada sangat dekat dengan permukiman warga, tambak, dan lahan pertanian. Gelombang tinggi saat musim angin barat terus mengikis daratan.

Baca juga: Akademisi UI: Giant Sea Wall Bakal Ubah Ekosistem Pesisir Pantura

Dalam kondisi seperti itu, memilih jenis vegetasi yang tepat menjadi langkah penting agar upaya rehabilitasi benar-benar efektif. Hingga kini, LindungiHutan telah menanam belasan ribu cemara laut di kawasan tersebut.

Menurut Operational Manager LindungiHutan Aminul Ichsan, alasan memilih cemara laut bukan sekadar karena jenis pohonnya mudah diperoleh, melainkan karena karakteristik lahannya memang tidak cocok untuk mangrove.

"Mangrove, seperti Rhizophora, membutuhkan substrat berlumpur atau lumpur berpasir. Sementara di Karangmalang, kondisi tanahnya didominasi pasir. Kalau dipaksakan menanam mangrove muda langsung di bibir pantai, peluang bertahannya sangat kecil karena mudah diterjang ombak," ujarnya saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.

Sebaliknya, cemara laut mampu tumbuh pada pantai berpasir yang sedikit lebih tinggi. Keberadaan rerumputan di sekitar lokasi juga membantu menjaga kelembapan tanah sehingga bibit memiliki peluang hidup yang lebih baik.

Baca juga: Wujudkan Pantai Pesisir Yang Lestari, Lanal Tegal Tanam 1500 Pohon Cemara Laut

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Benarkah 'Remote Working' Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Benarkah "Remote Working" Bisa Kurangi Emisi Karbon?
Pemerintah
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
LSM/Figur
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami 'Burnout' pada Tahun 2026
Tim CSR Perusahaan Banyak yang Alami "Burnout" pada Tahun 2026
Swasta
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Tanpa Aturan Ketat, Inggris Berisiko Bangun Gedung Tak Tahan Perubahan Iklim
Pemerintah
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh 'Pion'
Eks Pimpinan KPK: Penegakan Hukum Kejahatan SDA Dinilai Hanya Menyentuh "Pion"
LSM/Figur
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Perubahan Iklim Sebabkan Waktu Tidur Warga Dunia Berkurang Seminggu Dalam Setahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau