KOMPAS.com - Para analis memperkirakan pembangkit listrik tenaga batu bara di China akan kembali meningkat tahun ini, setelah sempat turun untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun.
Kenaikan ini dipicu oleh dampak fenomena El Nino dan perang Iran, serta pasokan energi terbarukan yang belum mampu mengimbangi tingginya permintaan listrik.
Melansir Reuters, Rabu (24/6/2026) sebagai konsumen listrik terbesar di dunia, China mencatat kenaikan penggunaan pembangkit listrik termal yang mayoritas bersumber dari batu bara dan sebagian kecil dari gas sebesar 3,4 persen dari tahun lalu.
Berdasarkan data badan statistik setempat, konsumsinya mencapai 2,53 triliun kilowatt-jam (kWh) dalam lima bulan pertama tahun ini.
Lembaga konsultan S&P Global Energy dan Wood Mackenzie memperkirakan pembangkit listrik batu bara akan naik sekitar 1,5 persen hingga 2 persen, menjadi 5,4 triliun kWh pada tahun 2026 dibanding tahun lalu.
Baca juga: Polusi Batu Bara Tembus Pegunungan Paling Terpencil di Dunia
Sementara itu, perusahaan analisis data Kpler memperkirakan konsumsi batu bara di sektor listrik akan melonjak sekitar 3 persen menjadi 2,7 miliar ton.
Di sisi lain, China mulai mengurangi impor gas alam cair (LNG) demi menekan biaya tinggi akibat blokade di Selat Hormuz. S&P memprediksi penggunaan listrik dari gas akan merosot 12 persen menjadi 300 miliar kWh. Akibatnya, batu bara kembali diandalkan untuk menutupi kekurangan pasokan tersebut.
Sharon Feng, penasihat khusus di firma konsultan Azure International yang berbasis di Beijing, menambahkan bahwa lonjakan harga juga membuat fungsi gas beralih. Gas kini hanya akan digunakan sebagai cadangan saat permintaan listrik sedang mencapai puncak tertingginya.
Kenaikan penggunaan batu bara ini menunjukkan betapa sulitnya tantangan China dalam mengurangi emisi karbon di sektor listriknya. Meskipun China berkomitmen untuk lepas dari ketergantungan batu bara, kebutuhan listrik mereka justru terus melonjak akibat peralihan ke kendaraan listrik dan menjamurnya pusat data.
Menurut Feng, penggunaan AC juga semakin meningkat karena fenomena El Nino diperkirakan akan memicu suhu udara yang lebih panas dari biasanya pada musim panas ini. Selain itu, pulihnya aktivitas ekspor ikut mendongkrak kebutuhan listrik di sektor manufaktur.
Analis dari Wood Mackenzie, Yuxi Wang, menambahkan bahwa El Nino berpotensi mengurangi curah hujan di wilayah barat daya yang menjadi pusat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Kondisi ini akan memaksa provinsi-provinsi industri dengan permintaan listrik tinggi seperti Guangdong, Jiangsu, dan Zhejiang untuk beralih menggunakan lebih banyak bahan bakar fosil demi menutupi kekurangan pasokan listrik.
Ketergantungan China pada batu bara sebenarnya sempat menurun secara bertahap seiring pesatnya pembangunan pembangkit energi terbarukan sejak tahun 2020. Saat itu, Presiden Xi Jinping menargetkan China bebas emisi karbon pada tahun 2060.
Di tahun yang sama, China juga menargetkan kapasitas listrik dari angin dan surya sebesar 1.200 gigawatt (GW) pada tahun 2030, sebuah target yang justru berhasil mereka capai enam tahun lebih cepat, yaitu pada 2024.
Bahkan pada pertengahan 2023, kapasitas total pembangkit energi terbarukan sudah melampaui batu bara, mencakup lebih dari separuh total pembangkit listrik yang ada di China.
Pada tahun 2025, besarnya produksi listrik dari energi terbarukan ini berhasil menekan penggunaan batu bara hingga mengalami penurunan pertama dalam sepuluh tahun. Menurut lembaga think tank Agora Energy, porsi batu bara dalam bauran energi listrik China pun sempat turun menjadi 51,4 persen tahun lalu.
Secara hitung-hitungan, penurunan batu bara tahun lalu juga terbantu oleh pertumbuhan total permintaan listrik China yang melambat menjadi 5 persen pada tahun 2025. Angka ini turun dari tahun 2024 yang mencapai hampir 7 persen akibat lonjakan aktivitas ekonomi setelah pemulihan pandemi.
Baca juga: Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Matt Owen, seorang analis sistem energi dari lembaga think tank Ember, menjelaskan agar penggunaan bahan bakar fosil bisa turun tahun ini, pertumbuhan energi bersih harus lebih tinggi daripada pertumbuhan permintaan listrik yang diperkirakan akan naik lagi sebesar 5 persen atau lebih.
Namun, Owen menambahkan bahwa pertumbuhan produksi energi terbarukan justru melambat pada tahun 2026 dibandingkan tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh rendahnya produksi listrik dari angin, kurang optimalnya pemanfaatan tenaga surya di provinsi-provinsi bagian barat China, serta melambatnya pemasangan pembangkit listrik baru jika dibandingkan dengan tahun 2025.
"Selain itu, karena China terus membangun pembangkit listrik batu bara baru setiap tahun, negara ini secara tidak langsung tergantung pada sejumlah produksi listrik dari batu bara, ujar Qi Qin, analis dari Centre for Research on Energy and Clean Air yang berbasis di Helsinki.
"Banyak pembangkit listrik batu bara yang menggunakan kontrak jangka menengah dan panjang untuk menjamin volume produksi yang tinggi setiap tahunnya. Hal inilah yang membuat energi terbarukan semakin sulit untuk menggeser posisi batu bara," kata Qin.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya