Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Malaysia Andalkan Waste-to-Energy untuk Kurangi Sampah dan Hasilkan Listrik

Kompas.com, 1 Juli 2026, 15:02 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com – Malaysia semakin serius mengembangkan teknologi waste-to-energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus menghasilkan listrik dari limbah rumah tangga.

Salah satu proyek andalannya adalah fasilitas WtE 1 di Jeram, Kuala Selangor, yang mulai beroperasi pada Mei 2026. Pembangkit listrik tenaga sampah terbesar di Malaysia itu mampu mengolah sekitar 1.700 ton sampah padat setiap hari dan menghasilkan listrik berkapasitas 26 megawatt (MW).

Di dalam fasilitas tersebut, sampah rumah tangga terlebih dahulu dikeringkan selama tujuh hari sebelum dibakar di dalam insinerator bersuhu sekitar 1.000 derajat Celsius. Panas dari proses pembakaran digunakan untuk mengubah air menjadi uap yang kemudian menggerakkan turbin pembangkit listrik.

Baca juga: Jatim Percepat Pembangunan Waste to Energy, Kelola 2.000 Ton Sampah per Hari

Sebagian listrik yang dihasilkan digunakan untuk mengoperasikan fasilitas, sedangkan sisanya disalurkan ke jaringan listrik nasional.

Fasilitas ini melayani enam wilayah pemerintahan lokal di Selangor, yakni Shah Alam, Subang Jaya, Petaling Jaya, Klang, Kuala Selangor, dan Ampang Jaya. Sebelumnya, seluruh sampah dari kawasan tersebut dibuang ke TPA, termasuk lokasi pembuangan yang berada tepat di seberang fasilitas WtE 1.

Malaysia menilai teknologi WtE menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi peningkatan volume sampah seiring pertumbuhan penduduk. Selain mengurangi kebutuhan lahan baru untuk TPA, teknologi ini juga diharapkan mampu menekan emisi metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah organik di lokasi pembuangan.

Pemerintah Malaysia menargetkan pembangunan 18 fasilitas WtE hingga 2040. Seluruh proyek tersebut diproyeksikan mampu mengalihkan sekitar 85 persen sampah yang sebelumnya berakhir di TPA sekaligus menghasilkan listrik hingga 600 MW.

Selain Jeram, Malaysia juga mengembangkan sejumlah proyek serupa, antara lain di Ladang Tanah Merah, Negeri Sembilan, serta Sungai Udang, Melaka, yang ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 2029.

Tidak gantikan sistem pengelolaan sampah

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa WtE bukan solusi tunggal atas persoalan sampah.

Spesialis pengelolaan limbah, Dr Theng Lee Chong, mengatakan pengelolaan sampah terdiri dari berbagai tahapan, mulai dari pengurangan timbulan sampah, pengumpulan, pengangkutan, daur ulang, hingga pengolahan dan pembuangan akhir.

"Waste-to-Energy hanyalah salah satu dari banyak komponen menuju tahap pengolahan dan pembuangan akhir," ujarnya dalam keterangan resmi dikutip Rabu (1/7/2026).

Menurut dia, keberhasilan pengelolaan sampah tetap bergantung pada penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Kepala Operasional Worldwide Holdings, Danial Liew Jin Sheon, mengatakan pemisahan sampah justru akan meningkatkan efisiensi fasilitas WtE karena mengurangi material yang tidak dapat terbakar.

Ia menambahkan, setelah proses pembakaran selesai, material seperti logam masih dipisahkan untuk didaur ulang. Sementara abu sisa pembakaran (bottom ash) berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau material penutup TPA.

Baca juga: Pemerintah Lelang Proyek WtE di Medan-Bekasi, untuk Olah 7.000 Ton Per Hari

Dengan demikian, menurut Liew, WtE tidak menggantikan ekonomi sirkular, melainkan melengkapinya melalui proses pemulihan (recovery) terhadap sampah yang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau