Editor
KOMPAS.com – Malaysia semakin serius mengembangkan teknologi waste-to-energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus menghasilkan listrik dari limbah rumah tangga.
Salah satu proyek andalannya adalah fasilitas WtE 1 di Jeram, Kuala Selangor, yang mulai beroperasi pada Mei 2026. Pembangkit listrik tenaga sampah terbesar di Malaysia itu mampu mengolah sekitar 1.700 ton sampah padat setiap hari dan menghasilkan listrik berkapasitas 26 megawatt (MW).
Di dalam fasilitas tersebut, sampah rumah tangga terlebih dahulu dikeringkan selama tujuh hari sebelum dibakar di dalam insinerator bersuhu sekitar 1.000 derajat Celsius. Panas dari proses pembakaran digunakan untuk mengubah air menjadi uap yang kemudian menggerakkan turbin pembangkit listrik.
Baca juga: Jatim Percepat Pembangunan Waste to Energy, Kelola 2.000 Ton Sampah per Hari
Sebagian listrik yang dihasilkan digunakan untuk mengoperasikan fasilitas, sedangkan sisanya disalurkan ke jaringan listrik nasional.
Fasilitas ini melayani enam wilayah pemerintahan lokal di Selangor, yakni Shah Alam, Subang Jaya, Petaling Jaya, Klang, Kuala Selangor, dan Ampang Jaya. Sebelumnya, seluruh sampah dari kawasan tersebut dibuang ke TPA, termasuk lokasi pembuangan yang berada tepat di seberang fasilitas WtE 1.
Malaysia menilai teknologi WtE menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi peningkatan volume sampah seiring pertumbuhan penduduk. Selain mengurangi kebutuhan lahan baru untuk TPA, teknologi ini juga diharapkan mampu menekan emisi metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah organik di lokasi pembuangan.
Pemerintah Malaysia menargetkan pembangunan 18 fasilitas WtE hingga 2040. Seluruh proyek tersebut diproyeksikan mampu mengalihkan sekitar 85 persen sampah yang sebelumnya berakhir di TPA sekaligus menghasilkan listrik hingga 600 MW.
Selain Jeram, Malaysia juga mengembangkan sejumlah proyek serupa, antara lain di Ladang Tanah Merah, Negeri Sembilan, serta Sungai Udang, Melaka, yang ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 2029.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa WtE bukan solusi tunggal atas persoalan sampah.
Spesialis pengelolaan limbah, Dr Theng Lee Chong, mengatakan pengelolaan sampah terdiri dari berbagai tahapan, mulai dari pengurangan timbulan sampah, pengumpulan, pengangkutan, daur ulang, hingga pengolahan dan pembuangan akhir.
"Waste-to-Energy hanyalah salah satu dari banyak komponen menuju tahap pengolahan dan pembuangan akhir," ujarnya dalam keterangan resmi dikutip Rabu (1/7/2026).
Menurut dia, keberhasilan pengelolaan sampah tetap bergantung pada penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Kepala Operasional Worldwide Holdings, Danial Liew Jin Sheon, mengatakan pemisahan sampah justru akan meningkatkan efisiensi fasilitas WtE karena mengurangi material yang tidak dapat terbakar.
Ia menambahkan, setelah proses pembakaran selesai, material seperti logam masih dipisahkan untuk didaur ulang. Sementara abu sisa pembakaran (bottom ash) berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau material penutup TPA.
Baca juga: Pemerintah Lelang Proyek WtE di Medan-Bekasi, untuk Olah 7.000 Ton Per Hari
Dengan demikian, menurut Liew, WtE tidak menggantikan ekonomi sirkular, melainkan melengkapinya melalui proses pemulihan (recovery) terhadap sampah yang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya