Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekspansi Industri Nikel Gerus Lahan Pertanian dan Kampung Nelayan di Morowali

Kompas.com, 2 Juli 2026, 19:49 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

MOROWALI, KOMPAS.com - Ekspansi industri pengolahan nikel di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dinilai telah mengubah wajah wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai sentra pertanian dan perikanan.

Lahan sawah beralih fungsi menjadi kawasan industri, sementara sejumlah kampung nelayan kehilangan ruang tangkap akibat pencemaran pesisir dan pembangunan pelabuhan khusus.

Sekretaris Gerakan Petani Indonesia Menggugat (GAPIT), Muhammad Azmy, mengatakan enam dari sembilan kecamatan di Morowali pernah menjadi sentra pertanian pada dekade 1990-an.

Baca juga: Ketika Desa-Desa di Lingkar Industri Nikel Morowali Berubah jadi Sentra Kos

Keenam kecamatan itu meliputi Bahodopi, Bungku Timur, Bungku Tengah, Bungku Barat, Bumi Raya, dan Witaponda.

Kini, menurut dia, hanya Kecamatan Bumi Raya dan Witaponda yang masih bertahan sebagai sentra produksi pertanian. Bahkan, kedua wilayah tersebut mulai dikelilingi kawasan izin usaha pertambangan (IUP).

"Lahan persawahan di Bahodopi sudah habis menjadi kawasan industri. Sebagian sawah di Bungku Barat juga telah beralih fungsi menjadi kawasan industri IHIP," kata Azmy kepada Kompas.com, Selasa (16/6/2026).

Meski demikian, ia mengaku dapat memahami perubahan fungsi lahan di Bahodopi karena wilayah tersebut sebelumnya didominasi rawa dan lahan yang kurang produktif untuk pertanian.

"Sebagian Bungku Barat masih aktif sawahnya. Kalau Bahodopi betul-betul mati. Kami mewajarkan Bahodopi menjadi kawasan industri waktu itu karena memang lahannya tidak produktif, gersang, rawa-rawa, hutan rawa," ujarnya.

Azmy menuturkan, kawasan pertanian di Bungku Timur dahulu tersebar di Desa Ululere dan Bahomoahi, sedangkan di Bungku Tengah berada di Desa Bahomante dan Lanona yang merupakan kawasan transmigrasi.

Menurut dia, keberadaan sawah tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah terbentuknya Morowali modern melalui program transmigrasi dari Jawa dan Bali.

Karena itu, ia menilai Bumi Raya dan Witaponda merupakan benteng terakhir identitas pertanian Morowali yang perlu dipertahankan di tengah pesatnya ekspansi industri nikel.

"Kami memang bukan lumbung pangan provinsi atau nasional, tetapi ada hal lain yang harus diperhatikan, identitas kemorowalian itu yang berkaitan dengan sejarah terbentuknya Morowali. Jika ini hilang, maka identitas kita juga ikut hilang," tutur Azmy.

Baca juga: Nilai Tambah Hilirisasi Nikel RI Dinikmati Negara Lain

Ia berharap kawasan pertanian yang masih tersisa tetap dipertahankan melalui peningkatan produktivitas lahan, bukan dengan membuka lahan baru.

Konflik air irigasi

Kekhawatiran petani kembali muncul ketika pada 2025 salah satu perusahaan di kawasan ini berencana membangun saluran penyadap air (intake) dari Sungai Karaopa.

Sungai tersebut menjadi sumber irigasi bagi sekitar 2.000 hektar sawah di Kecamatan Bumi Raya dan Witaponda.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau