Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekspansi Industri Nikel Gerus Lahan Pertanian dan Kampung Nelayan di Morowali

Kompas.com, 2 Juli 2026, 19:49 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Rencana itu memicu penolakan petani yang tergabung dalam GAPIT. Mereka khawatir pengambilan air untuk kebutuhan industri akan mengurangi pasokan air irigasi, terutama saat musim kemarau.

"Mereka akan mengurangi debit yang dibutuhkan petani. Faktanya, setiap musim kemarau tidak ada air limpasan. Apa jaminannya kalau mereka memaksakan intake di hulu saat musim kemarau?" kata Azmy.

Menurut dia, kawasan pertanian tersebut telah berstatus lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) sehingga semestinya memperoleh perlindungan dari alih fungsi maupun gangguan terhadap sumber air.

Ia mengusulkan agar industri memanfaatkan air di bagian hilir Sungai Karaopa sehingga tidak mengganggu kebutuhan irigasi petani.

"Daripada mengadu energi versus pangan, lebih baik berkolaborasi, tetapi jangan saling mengganggu," ujarnya.

Baca juga: El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani

Azmy juga berharap program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari industri nikel lebih diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian agar mampu memasok kebutuhan pangan kawasan industri.

"Perusahaan menyerap hasil pertanian masyarakat lokal, tetapi masih terbatas. Kebanyakan mengambil dari luar Morowali," katanya.

Kampung nelayan berubah menjadi pelabuhan industri

Perubahan juga dirasakan masyarakat pesisir. Ketua Perkumpulan Nelayan Morowali, Tasdik, mengatakan sejumlah kampung nelayan yang dahulu menjadi pusat aktivitas perikanan kini telah berubah menjadi pelabuhan khusus untuk mendukung industri nikel.

Menurut dia, pencemaran pesisir akibat aktivitas pertambangan dan industri pengolahan nikel turut menurunkan hasil tangkapan nelayan serta mematikan usaha budidaya tambak udang, bandeng, dan rumput laut.

"Dulu banyak kampung nelayan, sekarang menjadi pelabuhan khusus industri. Dulu juga ramai penjual ikan di pinggir jalan, sekarang sudah berubah," ujarnya.

Tasdik menilai nelayan menjadi kelompok yang paling terdampak karena harus melaut lebih jauh, sementara sebagian besar tidak memiliki kapasitas memenuhi persyaratan penangkapan ikan di atas 12 mil laut.

Ia juga mengkritik minimnya dukungan pemerintah terhadap nelayan yang kehilangan sumber penghidupan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Morowali, Hasyim, mengakui produksi sektor perikanan maupun pertanian mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Petani di Subang Was-was, Sawah Mengering dan Terancam Gagal Panen

Menurut dia, penurunan produksi perikanan dipengaruhi degradasi lingkungan yang mengubah ekosistem laut, sedangkan sektor pertanian terdampak oleh alih fungsi lahan.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Morowali menilai pertumbuhan ekonomi ke depan akan lebih banyak ditopang sektor jasa yang berkembang seiring hadirnya kawasan industri.

"Harapannya dengan adanya industri itu bisa menumbuhkan sektor-sektor jasa lainnya di Kabupaten Morowali. Contohnya UMKM yang setiap tahun terus mengalami peningkatan," ujar Hasyim.

Dengan berkembangnya sektor jasa, pemerintah daerah berharap perekonomian masyarakat tetap tumbuh meski struktur ekonomi Morowali bergeser dari sektor pertanian dan perikanan menuju kawasan industri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau