Rencana itu memicu penolakan petani yang tergabung dalam GAPIT. Mereka khawatir pengambilan air untuk kebutuhan industri akan mengurangi pasokan air irigasi, terutama saat musim kemarau.
"Mereka akan mengurangi debit yang dibutuhkan petani. Faktanya, setiap musim kemarau tidak ada air limpasan. Apa jaminannya kalau mereka memaksakan intake di hulu saat musim kemarau?" kata Azmy.
Menurut dia, kawasan pertanian tersebut telah berstatus lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) sehingga semestinya memperoleh perlindungan dari alih fungsi maupun gangguan terhadap sumber air.
Ia mengusulkan agar industri memanfaatkan air di bagian hilir Sungai Karaopa sehingga tidak mengganggu kebutuhan irigasi petani.
"Daripada mengadu energi versus pangan, lebih baik berkolaborasi, tetapi jangan saling mengganggu," ujarnya.
Baca juga: El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani
Azmy juga berharap program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari industri nikel lebih diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian agar mampu memasok kebutuhan pangan kawasan industri.
"Perusahaan menyerap hasil pertanian masyarakat lokal, tetapi masih terbatas. Kebanyakan mengambil dari luar Morowali," katanya.
Perubahan juga dirasakan masyarakat pesisir. Ketua Perkumpulan Nelayan Morowali, Tasdik, mengatakan sejumlah kampung nelayan yang dahulu menjadi pusat aktivitas perikanan kini telah berubah menjadi pelabuhan khusus untuk mendukung industri nikel.
Menurut dia, pencemaran pesisir akibat aktivitas pertambangan dan industri pengolahan nikel turut menurunkan hasil tangkapan nelayan serta mematikan usaha budidaya tambak udang, bandeng, dan rumput laut.
"Dulu banyak kampung nelayan, sekarang menjadi pelabuhan khusus industri. Dulu juga ramai penjual ikan di pinggir jalan, sekarang sudah berubah," ujarnya.
Tasdik menilai nelayan menjadi kelompok yang paling terdampak karena harus melaut lebih jauh, sementara sebagian besar tidak memiliki kapasitas memenuhi persyaratan penangkapan ikan di atas 12 mil laut.
Ia juga mengkritik minimnya dukungan pemerintah terhadap nelayan yang kehilangan sumber penghidupan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Morowali, Hasyim, mengakui produksi sektor perikanan maupun pertanian mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Petani di Subang Was-was, Sawah Mengering dan Terancam Gagal Panen
Menurut dia, penurunan produksi perikanan dipengaruhi degradasi lingkungan yang mengubah ekosistem laut, sedangkan sektor pertanian terdampak oleh alih fungsi lahan.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Morowali menilai pertumbuhan ekonomi ke depan akan lebih banyak ditopang sektor jasa yang berkembang seiring hadirnya kawasan industri.
"Harapannya dengan adanya industri itu bisa menumbuhkan sektor-sektor jasa lainnya di Kabupaten Morowali. Contohnya UMKM yang setiap tahun terus mengalami peningkatan," ujar Hasyim.
Dengan berkembangnya sektor jasa, pemerintah daerah berharap perekonomian masyarakat tetap tumbuh meski struktur ekonomi Morowali bergeser dari sektor pertanian dan perikanan menuju kawasan industri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya