Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Google Klaim Berhasil Kurangi Emisi Meski Konsumsi Listrik AI Meningkat

Kompas.com, 6 Juli 2026, 14:05 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Google berhasil memangkas emisi operasionalnya pada tahun 2025, meskipun kebutuhan listrik untuk kecerdasan buatan (AI) melonjak tajam.

Melansir ESG News, Rabu (1/7/2026) dalam Laporan Lingkungan Tahunan ke-11, raksasa teknologi ini menyatakan telah menandatangani kesepakatan untuk menyediakan lebih dari 12 GW energi bersih baru pada tahun 2025.

Namun, Google sendiri mengakui adanya dilema karena harus menghadapi tantangan antara pertumbuhan AI yang sangat cepat dengan tanggung jawab menjaga lingkungan, sekaligus membuktikan komitmen jangka panjang demi masa depan yang lebih ramah lingkungan.

"Di Google, kami sangat berkomitmen untuk mengelola dampak lingkungan dari operasional kami secara bertanggung jawab, sekaligus memanfaatkan potensi AI untuk bumi," terang Google.

Google menyebut jalan untuk mencapai target iklim memang tidak akan mudah mengingat pembangunan infrastruktur AI saat ini berjalan lebih cepat daripada peralihan jaringan listrik ke energi bersih.

Baca juga: Google Gandeng American Airlines Borong 132 Juta Liter Avtur Berkelanjutan

Akan tetapi mereka tetap fokus untuk memperluas energi bersih yang melimpah dan terjangkau di seluruh dunia, serta mengembangkan inovasi teknologi guna menekan emisi di operasional kami maupun industri yang lebih luas.

Pembelian energi bersih capai rekor baru

Google tetap menjadi salah satu perusahaan pembeli energi bersih terbesar di dunia. Dari tahun 2010 hingga 2025, Google telah menandatangani lebih dari 240 kesepakatan untuk membeli hampir 35 GW energi bersih baru.

Pada tahun 2025, Google juga berhasil memenuhi 100 persen kebutuhan listriknya menggunakan energi terbarukan selama sembilan tahun berturut-turut. Menurut laporan tersebut, infrastruktur pusat data Google mengonsumsi energi tambahan 83 persen lebih hemat daripada rata-rata industri.

Efisiensi tersebut sangatlah penting. Tahun lalu, Google mencatat lonjakan beban listrik terbesar dalam sejarahnya, dengan permintaan listrik yang naik hingga 37 persen. Meski begitu, Google tetap berhasil memangkas emisi operasionalnya sebesar 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Bagi para pembeli di tingkat perusahaan, pesannya sudah sangat jelas. Pengadaan energi kini menjadi urusan penting di tingkat direksi. Pertumbuhan AI sekarang sangat bergantung pada akses listrik yang andal, terjangkau, dan rendah karbon.

Energi bersih masuk ke dalam strategi perusahaan

Google juga menyatakan sedang berinvestasi pada penyediaan energi bersih di jaringan listrik lokal yang menyokong pusat data mereka. Perusahaan ini juga berupaya mendorong penggunaan sumber energi canggih, termasuk nuklir dan geotermal tingkat lanjut.

Selain itu, Google juga melakukan investasi jangka panjang pada energi fusi.

Pendekatan ini mencerminkan perubahan besar dalam strategi iklim perusahaan. Perusahaan-perusahaan teknologi besar kini tidak lagi sekadar membeli sertifikat energi terbarukan.

Mereka sekarang menggunakan perjanjian pembelian langsung, kemitraan dengan penyedia listrik, dan kontrak energi bersih jangka panjang untuk mengarahkan investasi pada jaringan listrik.

Google menyatakan bahwa mereka mengatur kesepakatan energinya untuk menutupi seluruh biaya listrik yang digunakannya. Perusahaan juga menyebutkan bahwa strategi pertumbuhannya berfokus pada perluasan akses ke energi yang terjangkau, andal, dan bersih bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau