KOMPAS.com - Google berhasil memangkas emisi operasionalnya pada tahun 2025, meskipun kebutuhan listrik untuk kecerdasan buatan (AI) melonjak tajam.
Melansir ESG News, Rabu (1/7/2026) dalam Laporan Lingkungan Tahunan ke-11, raksasa teknologi ini menyatakan telah menandatangani kesepakatan untuk menyediakan lebih dari 12 GW energi bersih baru pada tahun 2025.
Namun, Google sendiri mengakui adanya dilema karena harus menghadapi tantangan antara pertumbuhan AI yang sangat cepat dengan tanggung jawab menjaga lingkungan, sekaligus membuktikan komitmen jangka panjang demi masa depan yang lebih ramah lingkungan.
"Di Google, kami sangat berkomitmen untuk mengelola dampak lingkungan dari operasional kami secara bertanggung jawab, sekaligus memanfaatkan potensi AI untuk bumi," terang Google.
Google menyebut jalan untuk mencapai target iklim memang tidak akan mudah mengingat pembangunan infrastruktur AI saat ini berjalan lebih cepat daripada peralihan jaringan listrik ke energi bersih.
Baca juga: Google Gandeng American Airlines Borong 132 Juta Liter Avtur Berkelanjutan
Akan tetapi mereka tetap fokus untuk memperluas energi bersih yang melimpah dan terjangkau di seluruh dunia, serta mengembangkan inovasi teknologi guna menekan emisi di operasional kami maupun industri yang lebih luas.
Google tetap menjadi salah satu perusahaan pembeli energi bersih terbesar di dunia. Dari tahun 2010 hingga 2025, Google telah menandatangani lebih dari 240 kesepakatan untuk membeli hampir 35 GW energi bersih baru.
Pada tahun 2025, Google juga berhasil memenuhi 100 persen kebutuhan listriknya menggunakan energi terbarukan selama sembilan tahun berturut-turut. Menurut laporan tersebut, infrastruktur pusat data Google mengonsumsi energi tambahan 83 persen lebih hemat daripada rata-rata industri.
Efisiensi tersebut sangatlah penting. Tahun lalu, Google mencatat lonjakan beban listrik terbesar dalam sejarahnya, dengan permintaan listrik yang naik hingga 37 persen. Meski begitu, Google tetap berhasil memangkas emisi operasionalnya sebesar 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Bagi para pembeli di tingkat perusahaan, pesannya sudah sangat jelas. Pengadaan energi kini menjadi urusan penting di tingkat direksi. Pertumbuhan AI sekarang sangat bergantung pada akses listrik yang andal, terjangkau, dan rendah karbon.
Google juga menyatakan sedang berinvestasi pada penyediaan energi bersih di jaringan listrik lokal yang menyokong pusat data mereka. Perusahaan ini juga berupaya mendorong penggunaan sumber energi canggih, termasuk nuklir dan geotermal tingkat lanjut.
Selain itu, Google juga melakukan investasi jangka panjang pada energi fusi.
Pendekatan ini mencerminkan perubahan besar dalam strategi iklim perusahaan. Perusahaan-perusahaan teknologi besar kini tidak lagi sekadar membeli sertifikat energi terbarukan.
Mereka sekarang menggunakan perjanjian pembelian langsung, kemitraan dengan penyedia listrik, dan kontrak energi bersih jangka panjang untuk mengarahkan investasi pada jaringan listrik.
Google menyatakan bahwa mereka mengatur kesepakatan energinya untuk menutupi seluruh biaya listrik yang digunakannya. Perusahaan juga menyebutkan bahwa strategi pertumbuhannya berfokus pada perluasan akses ke energi yang terjangkau, andal, dan bersih bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.
Poin tersebut akan sangat penting bagi pemerintah. Pembangunan pusat data telah menjadi isu politik di beberapa wilayah, karena beban jaringan listrik yang tinggi memicu kekhawatiran terkait melonjaknya biaya listrik bagi rumah tangga dan bisnis lokal.
Google menyatakan bahwa perangkat keras, perangkat lunak, efisiensi komputasi, serta pengadaan energi bersih mereka berhasil mencegah lebih dari 58 juta metrik ton emisi setara karbon dioksida pada tahun 2025.
Tanpa langkah-langkah tersebut, Google memperkirakan jejak karbonnya akan menjadi lima kali lipat lebih besar.
Laporan ini juga menyoroti peran AI di luar operasional Google sendiri. Pada tahun 2025, sembilan solusi teknologi Google berhasil membantu masyarakat, kota-kota, dan para mitra mengurangi sekitar 41 juta metrik ton emisi setara karbon dioksida.
Jumlah pengurangan tersebut sekitar tiga kali lipat dari total emisi yang dihasilkan oleh Google sendiri.
Contohnya meliputi fitur Google Earth untuk menentukan lokasi proyek tenaga surya dan angin, termostat Nest untuk menghemat energi di rumah, serta rute hemat bahan bakar di Google Maps. Google juga menunjuk sistem AI yang digunakan untuk mendeteksi kebakaran hutan, banjir, gempa bumi, dan cuaca ekstrem.
Alat AI yang berkaitan dengan alam juga makin berkembang. Google mencontohkan Perch, sebuah model suara biologi untuk data alam skala besar, dan SpeciesNet, yang dapat mengidentifikasi lebih dari 2.000 spesies hewan dari kamera pemantau liar dengan akurasi di atas 94 persen.
Laporan ini menunjukkan pula adanya batasan dalam kemajuan operasional Google. Emisi dari rantai pasok dari perusahaan ini justru melonjak 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google menjelaskan bahwa peningkatan ini disebabkan oleh pertumbuhan infrastruktur AI dan rantai pasok di wilayah Asia-Pasifik yang masih bergantung pada jaringan listrik dengan energi bersih yang terbatas. Selain itu, keterbatasan lahan, tingginya biaya konstruksi, dan hambatan kebijakan juga menjadi penyebab lainnya.
Kenaikan tersebut akan menarik perhatian para investor ESG. Emisi Scope 3 tetap menjadi salah satu area yang paling sulit dikendalikan oleh perusahaan teknologi. Isu ini juga membuat perusahaan rentan terhadap risiko kebijakan, pengadaan, dan proses transisi pemasok menuju ramah lingkungan.
Laporan Google tahun 2025 menunjukkan bahwa emisi operasional bisa diturunkan, bahkan di tengah pertumbuhan AI yang sangat pesat. Namun, jejak emisi secara keseluruhan memang lebih sulit untuk dipangkas.
Bagi para pimpinan perusahaan, kesimpulannya sangat jelas strategi AI, kebijakan jaringan listrik, dan tata kelola iklim kini saling terhubung. Perusahaan yang memperbesar kapasitas komputasi tanpa rencana energi dan rantai pasok yang jelas akan menghadapi pengawasan yang lebih ketat.
Kemajuan Google ini memberikan standar acuan bagi pasar. Namun di sisi lain, tantangan yang mereka hadapi menunjukkan seberapa besar sistem energi bersih global masih harus berubah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya