Poin tersebut akan sangat penting bagi pemerintah. Pembangunan pusat data telah menjadi isu politik di beberapa wilayah, karena beban jaringan listrik yang tinggi memicu kekhawatiran terkait melonjaknya biaya listrik bagi rumah tangga dan bisnis lokal.
Google menyatakan bahwa perangkat keras, perangkat lunak, efisiensi komputasi, serta pengadaan energi bersih mereka berhasil mencegah lebih dari 58 juta metrik ton emisi setara karbon dioksida pada tahun 2025.
Tanpa langkah-langkah tersebut, Google memperkirakan jejak karbonnya akan menjadi lima kali lipat lebih besar.
Laporan ini juga menyoroti peran AI di luar operasional Google sendiri. Pada tahun 2025, sembilan solusi teknologi Google berhasil membantu masyarakat, kota-kota, dan para mitra mengurangi sekitar 41 juta metrik ton emisi setara karbon dioksida.
Jumlah pengurangan tersebut sekitar tiga kali lipat dari total emisi yang dihasilkan oleh Google sendiri.
Contohnya meliputi fitur Google Earth untuk menentukan lokasi proyek tenaga surya dan angin, termostat Nest untuk menghemat energi di rumah, serta rute hemat bahan bakar di Google Maps. Google juga menunjuk sistem AI yang digunakan untuk mendeteksi kebakaran hutan, banjir, gempa bumi, dan cuaca ekstrem.
Alat AI yang berkaitan dengan alam juga makin berkembang. Google mencontohkan Perch, sebuah model suara biologi untuk data alam skala besar, dan SpeciesNet, yang dapat mengidentifikasi lebih dari 2.000 spesies hewan dari kamera pemantau liar dengan akurasi di atas 94 persen.
Laporan ini menunjukkan pula adanya batasan dalam kemajuan operasional Google. Emisi dari rantai pasok dari perusahaan ini justru melonjak 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google menjelaskan bahwa peningkatan ini disebabkan oleh pertumbuhan infrastruktur AI dan rantai pasok di wilayah Asia-Pasifik yang masih bergantung pada jaringan listrik dengan energi bersih yang terbatas. Selain itu, keterbatasan lahan, tingginya biaya konstruksi, dan hambatan kebijakan juga menjadi penyebab lainnya.
Kenaikan tersebut akan menarik perhatian para investor ESG. Emisi Scope 3 tetap menjadi salah satu area yang paling sulit dikendalikan oleh perusahaan teknologi. Isu ini juga membuat perusahaan rentan terhadap risiko kebijakan, pengadaan, dan proses transisi pemasok menuju ramah lingkungan.
Laporan Google tahun 2025 menunjukkan bahwa emisi operasional bisa diturunkan, bahkan di tengah pertumbuhan AI yang sangat pesat. Namun, jejak emisi secara keseluruhan memang lebih sulit untuk dipangkas.
Bagi para pimpinan perusahaan, kesimpulannya sangat jelas strategi AI, kebijakan jaringan listrik, dan tata kelola iklim kini saling terhubung. Perusahaan yang memperbesar kapasitas komputasi tanpa rencana energi dan rantai pasok yang jelas akan menghadapi pengawasan yang lebih ketat.
Kemajuan Google ini memberikan standar acuan bagi pasar. Namun di sisi lain, tantangan yang mereka hadapi menunjukkan seberapa besar sistem energi bersih global masih harus berubah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya