Penulis
Gula sabu diberikan sebagai lambang kesejahteraan dan kemakmuran, yang menjadi salah satu filosofi dalam kehidupan orang Sabu. Diharapkan, anak ini akan tumbuh sehat, ketika besar hidupnya sejahtera, jadi orang sukses, baik, dan berbakti kepada orangtua.
Proses pembuatan gula sabu bukan sekadar teknik produksi, melainkan sebuah kearifan lokal yang meliputi penyadapan nira, perebusan dengan tungku kayu, sampai pencetakan menjadi kepingan berwarna cokelat.
Mereka membuat gula sabu tanpa bahan pengawet dan pewarna. Semuanya dilakukan atau menggunakan bahan-bahan dari alam. Pengetahuan dan kearifan lokal ini bertahan hingga saat ini.
"Gula sabu adalah simbol identitas budaya dan hasil kearifan lokal warisan leluhur yang mencerminkan identitas budaya, ekonomi, dan sosial masyarakat Sabu Raijua. Gula sabu mengikat masyarakat dalam tradisi sekaligus memperkenalkan Pulau Sabu kepada dunia luar," terang Daniel.
Berdasarkan kondisi topografi Pulau Sabu Raijua yang kering dan minim sumber air, pohon lontar menjadi sumber kehidupan yang paling vital bagi masyarakat setempat.
Di tengah lingkungan yang tandus, pohon lontar tumbuh subur tanpa perawatan intensif, menjadikannya simbol daya lenting ekologis masyarakat Sabu.
Pohon ini tidak hanya menopang kehidupan secara ekonomi melalui produksi nira, gula, dan bahan bangunan, tetapi juga menjadi simbol spiritual dan identitas kultural yang terintegrasi dalam sistem kepercayaan dan etika hidup orang Sabu.
Secara historis, masyarakat Sabu Raijua membangun sistem ekologinya melalui praktik budaya yang bersifat kolektif.
Aktivitas penyadapan nira, pembuatan gula, dan ritual penghormatan terhadap pohon lontar tidak hanya merupakan aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang sosial yang mempererat solidaritas komunitas.
Baca juga: Kearifan Lokal yang Membahayakan di Perlintasan Kereta Api
Dalam sistem ini, kerja sama (gotong royong), kebersamaan, dan keberlanjutan menjadi prinsip dasar kehidupan.
Penelitian disertasi doktoral dosen Fakultas Ilmu Budaya UI, Daniel Hariman Jakob bertajuk Perubahan dan Pemertahanan Identitas Kultural Sabu Dalam Tradisi Pengelolaan Pohon Lontar dan Gula Sabu di Kampus UI, Depok, Jawa Barat (4/7/2026).Daniel kembali menegaskan, "pohon lontar dan gula sabu bukan lagi sekadar komoditas bernilai jual, melainkan pilar utama yang mengikat dimensi ekologis, kultural, dan sosial masyarakat setempat."
Sejauh pengamatannya, sepanjang tahun 2020–2025 bentang geografis di enam kecamatan Kabupaten Sabu Raijua yang mencakup struktur mata pencaharian, tatanan sosial-budaya, dan aktivitas ekonomi berbasis komoditas lontar, telah berintegrasi menjadi satu kesatuan ekosistem kehidupan solid.
"Atas dasar tersebut, arah pembangunan ke depan Kabupaten Sabu Raijua wajib berpijak pada regulasi dan sistem data yang memprioritaskan kearifan lokal," pesannya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya