Penulis
KOMPAS.com - Kabupaten Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai wilayah dengan kondisi geografis menantang. Topografinya kering, tandus, dan memiliki sumber air yang sangat terbatas.
Selama berabad-abad, posisi pulau yang terisolasi dari daratan besar seperti Kupang memaksa masyarakat setempat adaptif terhadap keterbatasan alam tersebut.
Namun, di tengah keterbatasan alam ekstrem ini, bentang alam Sabu Raijua justru melahirkan narasi adaptasi kearifan ekologis yang kokoh tentang "pohon kehidupan", pohon lontar (Borassus flabellifer).
Bagi masyarakat Sabu (Do Hawu), lontar bukanlah sekadar vegetasi yang tumbuh liar. Ia adalah detak jantung, ibu yang mengasuh, dan pusat kosmologi yang mengikat seluruh dimensi kehidupan.
Hubungan intim antara manusia, pohon kehidupan, dan produk turunannya, Gula Sabu, menjadi bukti bagaimana sebuah komunitas mampu membangun resiliensi luar biasa di tengah ancaman krisis pangan.
Narasi ekologis kearifan lokal ini menjadi benang merah penelitian disertasi doktoral dosen Fakultas Ilmu Budaya UI, Daniel Hariman Jakob bertajuk "Perubahan dan Pemertahanan Identitas Kultural Sabu Dalam Tradisi Pengelolaan Pohon Lontar dan Gula Sabu" di Kampus UI, Depok, Jawa Barat (4/7/2026).
"Orang Sabu (Do Hawu) memandang pohon lontar yang dalam bahasa Sabu 'Kepue Due’, sebagai pohon kehidupan karena seluruh aspek kehidupan mereka tidak terlepas dari pohon lontar," tutur Daniel.
"Pohon lontar menjadi sumber pangan lewat gula sabu dan sumber papan untuk rumah tinggal. Ketergantungan orang Sabu pada lontar merupakan suatu bentuk harmoni kehidupan antara masyarakat Sabu Raijua dan lingkungan alamnya," jelasnya.
Baca juga: Wonosobo Night Fashion Carnival 2026, Panggung Kreativitas yang Angkat Budaya dan Kearifan Lokal
Tidak berhenti sampai di situ, Daniel menambahkan, lontar juga menjadi jembatan penghubung dengan Sang Ilahi yang disebut Deo Ama.
"Oleh karena itu, orang Sabu memperlakukan pohon lontar layaknya Ibu sekaligus identitas keberadaan mereka, yakni Rai Hawu, Rai Due nga Donahu (Pulau Sabu, Pulau Lontar, dan Gula)," ujar Daniel.
Pengolahan nira menjadi gula sabu menciptakan ruang komunal yang membagi peran jender secara adil dan harmonis.Bagi orang Sabu, sebatang pohon lontar diperlakukan layaknya seorang ibu. Hubungan ini melampaui logika ekonomi pragmatis.
Ada sebuah ikatan batin transendental yang meyakini pohon lontar memiliki jiwa, sehingga proses interaksi dengannya menuntut penghormatan yang penuh takzim.
Saat musim panas tiba, suasana mistis sekaligus penuh syukur menyelimuti pulau. Sebelum panen dimulai, Mone Ama (Dewan Adat) akan menggelar ritual khusus untuk menyambut datangnya nira.
Ritual pemanggilan nira ini menjadi jembatan penghubung antara masyarakat dengan sang Ilahi, Deo Ama, serta para leluhur. Keunikan interaksi ini terekam jelas di atas mahkota-mahkota lontar yang menjulang tinggi.
Ketika para lelaki Sabu memanjat untuk menyadap nira di pagi buta, keheningan alam akan pecah oleh senandung Alure Due.
"Pada saat orang Sabu menyadap nira lontar, mereka akan bernyanyi sebagai penghibur kepada pohon lontar dan juga diri mereka sendiri," jelas Daniel yang pernah menjadi dosen tamu di Tokyo University of Foreign Studies.
"Dengan bernyanyi selama menyadap, ia menjadikan pohon lontar seperti ibu mereka, sehingga mereka dapat menyucikan diri melalui ungkapan hati yang dirasakan."
Begitu sakralnya nira ini bagi kehidupan, masyarakat Sabu bahkan memiliki perumpamaan yang mendalam. “Meminum air nira lontar sama dengan meminum darah bumi (Ra Rai)”.
Baca juga: Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Filosofi ekologi ini terangkum indah dalam ungkapan adat, “Lontar do donahu, do mai’a rai, do mi’a nawu” yang berarti "pohon lontar memberi kehidupan bagi tanah dan manusia".
Sebuah analogi yang menegaskan bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan tak terpisahkan.
Proses pembuatan gula sabu bukan sekadar teknik produksi, melainkan sebuah kearifan lokal yang meliputi penyadapan nira, perebusan dengan tungku kayu, sampai pencetakan menjadi kepingan berwarna cokelat.Jika pohon lontar adalah ibu, maka gula sabu adalah air susu yang menghidupi seluruh anggota keluarga di Pulau Sabu.
Di masa lampau, produk budaya ini bahkan menjadi pangan utama yang membuat orang Sabu mampu bertahan hidup di tengah isolasi geografis, hanya bermodalkan gula sabu dan hasil laut.
"Kehadiran gula sabu sebagai warisan leluhur merepresentasikan nilai-nilai kearifan lokal, kerja keras, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam dalam kehidupan sehari-hari," tegas Daniel.
Menariknya, pengolahan nira menjadi gula sabu menciptakan ruang komunal yang membagi peran jender secara adil dan harmonis.
Laki-laki memegang peran yang menuntut keberanian, disiplin, dan ketangkasan fisik untuk memanjat pohon-pohon lontar yang tinggi guna menyadap nira.
Sementara itu, kaum perempuan memegang otoritas di bumi, memasak nira di atas tungku kayu, mengental dan mengkristalkannya, hingga mendistribusikan Donahu Hawu secara bijak untuk kebutuhan pangan keluarga sepanjang tahun.
Keterikatan emosional masyarakat Sabu terhadap gula ini sudah ditanamkan sejak detik pertama manusia menghirup napas di bumi melalui ritual Dab’ba Ana.
Bayi yang baru lahir di Sabu, ketika lahir harus dioleskan gula sabu di bibirnya. Maksudnya, supaya anak ini manis di dalam tingkah laku, tindakan, dan perkataan, dan tahu bagaimana menjaga hubungan baik.
Gula sabu diberikan sebagai lambang kesejahteraan dan kemakmuran, yang menjadi salah satu filosofi dalam kehidupan orang Sabu. Diharapkan, anak ini akan tumbuh sehat, ketika besar hidupnya sejahtera, jadi orang sukses, baik, dan berbakti kepada orangtua.
Ilustrasi kearifan lokal pohon lontar bagi masyarakat Sabu, NTT.
Proses pembuatan gula sabu bukan sekadar teknik produksi, melainkan sebuah kearifan lokal yang meliputi penyadapan nira, perebusan dengan tungku kayu, sampai pencetakan menjadi kepingan berwarna cokelat.
Mereka membuat gula sabu tanpa bahan pengawet dan pewarna. Semuanya dilakukan atau menggunakan bahan-bahan dari alam. Pengetahuan dan kearifan lokal ini bertahan hingga saat ini.
"Gula sabu adalah simbol identitas budaya dan hasil kearifan lokal warisan leluhur yang mencerminkan identitas budaya, ekonomi, dan sosial masyarakat Sabu Raijua. Gula sabu mengikat masyarakat dalam tradisi sekaligus memperkenalkan Pulau Sabu kepada dunia luar," terang Daniel.
Berdasarkan kondisi topografi Pulau Sabu Raijua yang kering dan minim sumber air, pohon lontar menjadi sumber kehidupan yang paling vital bagi masyarakat setempat.
Di tengah lingkungan yang tandus, pohon lontar tumbuh subur tanpa perawatan intensif, menjadikannya simbol daya lenting ekologis masyarakat Sabu.
Pohon ini tidak hanya menopang kehidupan secara ekonomi melalui produksi nira, gula, dan bahan bangunan, tetapi juga menjadi simbol spiritual dan identitas kultural yang terintegrasi dalam sistem kepercayaan dan etika hidup orang Sabu.
Secara historis, masyarakat Sabu Raijua membangun sistem ekologinya melalui praktik budaya yang bersifat kolektif.
Aktivitas penyadapan nira, pembuatan gula, dan ritual penghormatan terhadap pohon lontar tidak hanya merupakan aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang sosial yang mempererat solidaritas komunitas.
Baca juga: Kearifan Lokal yang Membahayakan di Perlintasan Kereta Api
Dalam sistem ini, kerja sama (gotong royong), kebersamaan, dan keberlanjutan menjadi prinsip dasar kehidupan.
Penelitian disertasi doktoral dosen Fakultas Ilmu Budaya UI, Daniel Hariman Jakob bertajuk Perubahan dan Pemertahanan Identitas Kultural Sabu Dalam Tradisi Pengelolaan Pohon Lontar dan Gula Sabu di Kampus UI, Depok, Jawa Barat (4/7/2026).Daniel kembali menegaskan, "pohon lontar dan gula sabu bukan lagi sekadar komoditas bernilai jual, melainkan pilar utama yang mengikat dimensi ekologis, kultural, dan sosial masyarakat setempat."
Sejauh pengamatannya, sepanjang tahun 2020–2025 bentang geografis di enam kecamatan Kabupaten Sabu Raijua yang mencakup struktur mata pencaharian, tatanan sosial-budaya, dan aktivitas ekonomi berbasis komoditas lontar, telah berintegrasi menjadi satu kesatuan ekosistem kehidupan solid.
"Atas dasar tersebut, arah pembangunan ke depan Kabupaten Sabu Raijua wajib berpijak pada regulasi dan sistem data yang memprioritaskan kearifan lokal," pesannya.
Pendekatan ini sangat penting demi memastikan arus modernisasi tidak mengikis keselarasan hubungan antara manusia, alam, serta tradisi warisan leluhur.
Pohon lontar dan gula sabu yang telah menjadi identitas orang Sabu hingga saat ini, perlu menjadi perhatian agar dapat memberikan nilai tambah buat masyarakat Sabu Raijua.
Daniel memberikan catatan, di tengah modernisasi, tradisi ini harus terus diwariskan dengan menerapkan berbagai inovasi yang bernilai ekonomis.
Perlakuan masyarakat Sabu Raijua terhadap pohon lontar bukan hanya bentuk pragmatis, melainkan berakar pada sistem nilai yang terstruktur dalam budaya, memori kolektif, dan identitas etnis mereka.
Baca juga: Pariwisata Sumba Barat Daya Digenjot, Bupati Tegaskan Kearifan Lokal Tak Boleh Tergerus
Lebih dari sekadar makanan, gula sabu adalah simbol kemandirian yang memiliki daya tahan simpan hingga puluhan tahun, sehingga membentuk karakter tangguh masyarakat setempat dalam menghadapi ancaman krisis pangan di wilayah yang gersang.
"Budaya harus dijaga, tradisi harus lestari, kultur jangan luntur," pungkasnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya