Penulis
Ketika para lelaki Sabu memanjat untuk menyadap nira di pagi buta, keheningan alam akan pecah oleh senandung Alure Due.
"Pada saat orang Sabu menyadap nira lontar, mereka akan bernyanyi sebagai penghibur kepada pohon lontar dan juga diri mereka sendiri," jelas Daniel yang pernah menjadi dosen tamu di Tokyo University of Foreign Studies.
"Dengan bernyanyi selama menyadap, ia menjadikan pohon lontar seperti ibu mereka, sehingga mereka dapat menyucikan diri melalui ungkapan hati yang dirasakan."
Begitu sakralnya nira ini bagi kehidupan, masyarakat Sabu bahkan memiliki perumpamaan yang mendalam. “Meminum air nira lontar sama dengan meminum darah bumi (Ra Rai)”.
Baca juga: Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Filosofi ekologi ini terangkum indah dalam ungkapan adat, “Lontar do donahu, do mai’a rai, do mi’a nawu” yang berarti "pohon lontar memberi kehidupan bagi tanah dan manusia".
Sebuah analogi yang menegaskan bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan tak terpisahkan.
Jika pohon lontar adalah ibu, maka gula sabu adalah air susu yang menghidupi seluruh anggota keluarga di Pulau Sabu.
Di masa lampau, produk budaya ini bahkan menjadi pangan utama yang membuat orang Sabu mampu bertahan hidup di tengah isolasi geografis, hanya bermodalkan gula sabu dan hasil laut.
"Kehadiran gula sabu sebagai warisan leluhur merepresentasikan nilai-nilai kearifan lokal, kerja keras, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam dalam kehidupan sehari-hari," tegas Daniel.
Menariknya, pengolahan nira menjadi gula sabu menciptakan ruang komunal yang membagi peran jender secara adil dan harmonis.
Laki-laki memegang peran yang menuntut keberanian, disiplin, dan ketangkasan fisik untuk memanjat pohon-pohon lontar yang tinggi guna menyadap nira.
Sementara itu, kaum perempuan memegang otoritas di bumi, memasak nira di atas tungku kayu, mengental dan mengkristalkannya, hingga mendistribusikan Donahu Hawu secara bijak untuk kebutuhan pangan keluarga sepanjang tahun.
Keterikatan emosional masyarakat Sabu terhadap gula ini sudah ditanamkan sejak detik pertama manusia menghirup napas di bumi melalui ritual Dab’ba Ana.
Bayi yang baru lahir di Sabu, ketika lahir harus dioleskan gula sabu di bibirnya. Maksudnya, supaya anak ini manis di dalam tingkah laku, tindakan, dan perkataan, dan tahu bagaimana menjaga hubungan baik.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya