KOMPAS.com - Suhu panas ekstrem menjadi salah satu ancaman terbesar bagi produksi pangan dunia.
Menurut laporan bersama dari FAO dan WMO, kondisi ini membahayakan hasil panen, hewan ternak, sektor perikanan, serta mata pencaharian miliaran orang di bumi.
Melansir Down to Earth, Selasa (7/7/2026) laporan yang diterbitkan pada April 2026 ini menyatakan bahwa suhu di atas 30 derajat Celsius sudah mulai menurunkan hasil panen tanaman-tanaman pokok.
Selain itu, hawa panas yang terus meningkat juga mengancam keselamatan para pekerja tani, kesehatan hewan ternak, kelestarian ikan di laut, hutan, serta pendapatan di sektor pertanian.
Kabar buruk ini muncul di saat sebagian besar wilayah Eropa, Amerika Utara, Asia, dan Timur Tengah sedang dihantam gelombang panas yang sangat terik. Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas ini terjadi lebih sering, berlangsung lebih lama, dan dampaknya jauh lebih parah.
Laporan tersebut menggambarkan peningkatan suhu bumi sebagai pelipat ganda risiko bagi sektor pertanian, karena memperparah kekeringan, meningkatkan risiko kebakaran hutan, serta memicu kekacauan yang lebih luas di seluruh sistem pangan.
"Dampak buruk dari panas ekstrem terhadap pertanian sudah terlihat jelas di seluruh dunia," tulis laporan itu berdasarkan tinjauan bukti ilmiah global dan berbagai studi kasus.
Baca juga: Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi
Laporan mengungkapkan sebagian besar tanaman pangan utama mulai mengalami penurunan hasil panen begitu suhu udara melewati 30 derajat Celsius.
Diperkirakan bahwa hasil panen jagung telah turun sebesar 7,5 persen untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat Celsius, gandum turun 6 persen, dan kedelai turun 6,8 persen.
Melihat ke masa depan, laporan pun memperingatkan bahwa hasil panen jagung dan gandum bisa merosot hingga 10 persen lebih banyak lagi untuk setiap kenaikan suhu satu derajat Celsius berikutnya.
Penurunan hasil tani akibat cuaca panas telah mengubah cara manusia menggunakan lahan bumi. Antara tahun 1992 hingga 2020, lahan pertanian di 110 negara terpaksa diperluas hingga menambah sekitar 88 juta hektar lahan baru. Hal ini dilakukan demi menutupi kekurangan makanan akibat gagal panen yang disebabkan oleh hawa panas dan kekeringan.
Laporan menyatakan pula bahwa pembukaan lahan baru ini menghasilkan sekitar 21,8 miliar ton emisi gas rumah kaca. Angka ini menyumbang hampir 19 persen dari total polusi akibat perubahan fungsi lahan di negara-negara tersebut.
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan yang merusak: perubahan iklim membuat hasil tani merosot, manusia menebang hutan untuk menambah lahan tani agar jumlah makanan tetap cukup, pembukaan lahan tersebut membuang lebih banyak polusi, dan akhirnya perubahan iklim menjadi makin parah.
Suhu yang makin panas juga merusak gabungan modal, tenaga kerja, dan hasil dari bertani. Sejak tahun 1961, tekanan hawa panas telah menurunkan produktivitas pertanian dunia sekitar 21 persen. Dampak buruk ini menghapus jerih payah kemajuan teknologi pertanian yang telah dibangun selama hampir tujuh tahun.
Laporan mencatat bahwa hampir tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa produksi biji-bijian seperti bahan pangan pokok menjadi lebih kuat dalam menghadapi panas ekstrem selama 50 tahun terakhir.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya