Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laporan PBB: Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Besar bagi Pangan Dunia

Kompas.com, 8 Juli 2026, 19:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Suhu panas ekstrem menjadi salah satu ancaman terbesar bagi produksi pangan dunia.

Menurut laporan bersama dari FAO dan WMO, kondisi ini membahayakan hasil panen, hewan ternak, sektor perikanan, serta mata pencaharian miliaran orang di bumi.

Melansir Down to Earth, Selasa (7/7/2026) laporan yang diterbitkan pada April 2026 ini menyatakan bahwa suhu di atas 30 derajat Celsius sudah mulai menurunkan hasil panen tanaman-tanaman pokok.

Selain itu, hawa panas yang terus meningkat juga mengancam keselamatan para pekerja tani, kesehatan hewan ternak, kelestarian ikan di laut, hutan, serta pendapatan di sektor pertanian.

Kabar buruk ini muncul di saat sebagian besar wilayah Eropa, Amerika Utara, Asia, dan Timur Tengah sedang dihantam gelombang panas yang sangat terik. Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas ini terjadi lebih sering, berlangsung lebih lama, dan dampaknya jauh lebih parah.

Laporan tersebut menggambarkan peningkatan suhu bumi sebagai pelipat ganda risiko bagi sektor pertanian, karena memperparah kekeringan, meningkatkan risiko kebakaran hutan, serta memicu kekacauan yang lebih luas di seluruh sistem pangan.

"Dampak buruk dari panas ekstrem terhadap pertanian sudah terlihat jelas di seluruh dunia," tulis laporan itu berdasarkan tinjauan bukti ilmiah global dan berbagai studi kasus.

Baca juga: Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi

Hasil panen sudah mulai turun

Laporan mengungkapkan sebagian besar tanaman pangan utama mulai mengalami penurunan hasil panen begitu suhu udara melewati 30 derajat Celsius.

Diperkirakan bahwa hasil panen jagung telah turun sebesar 7,5 persen untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat Celsius, gandum turun 6 persen, dan kedelai turun 6,8 persen.

Melihat ke masa depan, laporan pun memperingatkan bahwa hasil panen jagung dan gandum bisa merosot hingga 10 persen lebih banyak lagi untuk setiap kenaikan suhu satu derajat Celsius berikutnya.

Penurunan hasil tani akibat cuaca panas telah mengubah cara manusia menggunakan lahan bumi. Antara tahun 1992 hingga 2020, lahan pertanian di 110 negara terpaksa diperluas hingga menambah sekitar 88 juta hektar lahan baru. Hal ini dilakukan demi menutupi kekurangan makanan akibat gagal panen yang disebabkan oleh hawa panas dan kekeringan.

Laporan menyatakan pula bahwa pembukaan lahan baru ini menghasilkan sekitar 21,8 miliar ton emisi gas rumah kaca. Angka ini menyumbang hampir 19 persen dari total polusi akibat perubahan fungsi lahan di negara-negara tersebut.

Kondisi ini menciptakan lingkaran setan yang merusak: perubahan iklim membuat hasil tani merosot, manusia menebang hutan untuk menambah lahan tani agar jumlah makanan tetap cukup, pembukaan lahan tersebut membuang lebih banyak polusi, dan akhirnya perubahan iklim menjadi makin parah.

Suhu yang makin panas juga merusak gabungan modal, tenaga kerja, dan hasil dari bertani. Sejak tahun 1961, tekanan hawa panas telah menurunkan produktivitas pertanian dunia sekitar 21 persen. Dampak buruk ini menghapus jerih payah kemajuan teknologi pertanian yang telah dibangun selama hampir tujuh tahun.

Tanaman tak bisa beradaptasi dengan cepat

Laporan mencatat bahwa hampir tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa produksi biji-bijian seperti bahan pangan pokok menjadi lebih kuat dalam menghadapi panas ekstrem selama 50 tahun terakhir.

Secara global, tanaman seperti jagung, kedelai, dan gandum tetap sama rapuhnya terhadap suhu di atas 30 derajat Celsius seperti puluhan tahun yang lalu, meskipun dampak kerusakannya berbeda-beda di setiap wilayah.

Di beberapa negara, termasuk Brasil, tanaman pangan justru menjadi makin sensitif dan rapuh terhadap panas ekstrem.

Hal ini membawa dampak buruk yang besar bagi ketersediaan pangan, terutama di wilayah-wilayah yang pertaniannya sudah sering dilanda kekeringan, krisis air, dan sangat bergantung pada tenaga manusia.

Hewan ternak juga makin rentan terhadap hawa panas ekstrem. Laporan itu menyatakan bahwa sapi, kambing, dan domba mulai mengalami stres akibat panas ketika suhu udara melewati 25 derajat Celsius, sementara babi dan ayam sudah mulai terganggu pada suhu di atas 24 derajat Celsius.

Untuk setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celsius di atas angka 30 derajat Celsius, hewan ternak akan mengurangi porsi makan mereka sebesar 3 persen hingga 5 persen. Akibatnya, produksi susu dan telur menurun, berat badan ternak menyusut, dan kesehatan mereka makin memburuk.

Produksi susu pada sapi perah pun akhirnya turun sekitar 2 persen untuk setiap peningkatan tingkat stres akibat panas. Sementara itu, babi termasuk salah satu hewan yang paling rapuh karena mereka tidak bisa berkeringat untuk mendinginkan tubuhnya.

Suhu panas yang terjadi terus-menerus juga melemahkan daya tahan tubuh hewan, menurunkan kesuburan, meningkatkan risiko penyakit dan kematian, serta menurunkan kualitas susu, daging, telur, dan bulu wol.

Jika polusi dunia terus dibiarkan tinggi hampir separuh dari total sapi di dunia akan terus-menerus kepanasan pada akhir abad ini. Laporan memperingatkan bahwa kerugian tahunan dari produksi daging sapi dan susu bisa mendekati 40 miliar dolar AS.

Namun, jika dunia berhasil menekan polusi secara maksimal, nilai kerugian tersebut bisa dipotong hingga hampir dua pertiganya. Hal ini menunjukkan besarnya keuntungan jika kita berhasil menahan kenaikan suhu bumi.

Sektor perikanan, hutan, dan mata pencaharian ikut terancam

Laporan tersebut juga menyoroti dampak buruk hawa panas ekstrem yang makin merusak sektor perikanan, kebun buah, dan hutan. Gelombang panas di dalam laut telah menyebabkan kematian massal ikan secara berulang kali dan memaksa kelompok-kelompok ikan pindah ke wilayah air yang lebih dingin. Hal ini mengacaukan industri perikanan dan merusak mata pencaharian warga di pesisir pantai.

Kebun buah dan kacang-kacangan, serta kawasan hutan, juga menjadi makin rapuh terhadap gagal panen akibat panas dan bencana kebakaran hutan yang makin sering terjadi.

Baca juga: Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai

Laporan itu menyebutkan bahwa panas ekstrem dan masalah iklim lainnya telah menurunkan produksi makanan serta pendapatan di sektor pertanian-pangan yang menjadi tumpuan hidup sekitar 1,23 miliar orang.

Laporan menambahkan bahwa kerugian di sektor pertanian bisa melonjak hingga tiga kali lipat jika hawa panas terjadi bersamaan dengan bencana lain seperti kekeringan.

Laporan FAO-WMO mendesak adanya investasi dana darurat untuk adaptasi iklim demi melindungi sistem pangan dunia. Laporan ini merekomendasikan perbaikan sistem peringatan dini, layanan informasi cuaca, penggunaan bibit tanaman yang tahan panas, pengaturan ulang jadwal menanam, pengelolaan air yang lebih baik, serta bantuan keuangan untuk melindungi komunitas petani yang miskin.

Namun, laporan mengungkapkan bahwa sekadar beradaptasi saja tidak akan cukup.

Mengingat suhu bumi saat ini sudah makin mendekati batas pemanasan 1,5 derajat Celsius yang disepakati dalam Perjanjian Paris, tindakan tegas untuk memotong polusi gas rumah kaca tetap menjadi hal yang wajib dilakukan.

Langkah ini sangat penting demi melindungi sektor pertanian dan pasokan makanan dari ancaman panas yang terus memburuk.

Tanpa adanya pengurangan polusi yang lebih cepat, risiko bahaya bagi para petani, produksi makanan, dan kehidupan masyarakat di pedesaan akan terus meningkat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau