Secara global, tanaman seperti jagung, kedelai, dan gandum tetap sama rapuhnya terhadap suhu di atas 30 derajat Celsius seperti puluhan tahun yang lalu, meskipun dampak kerusakannya berbeda-beda di setiap wilayah.
Di beberapa negara, termasuk Brasil, tanaman pangan justru menjadi makin sensitif dan rapuh terhadap panas ekstrem.
Hal ini membawa dampak buruk yang besar bagi ketersediaan pangan, terutama di wilayah-wilayah yang pertaniannya sudah sering dilanda kekeringan, krisis air, dan sangat bergantung pada tenaga manusia.
Hewan ternak juga makin rentan terhadap hawa panas ekstrem. Laporan itu menyatakan bahwa sapi, kambing, dan domba mulai mengalami stres akibat panas ketika suhu udara melewati 25 derajat Celsius, sementara babi dan ayam sudah mulai terganggu pada suhu di atas 24 derajat Celsius.
Untuk setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celsius di atas angka 30 derajat Celsius, hewan ternak akan mengurangi porsi makan mereka sebesar 3 persen hingga 5 persen. Akibatnya, produksi susu dan telur menurun, berat badan ternak menyusut, dan kesehatan mereka makin memburuk.
Produksi susu pada sapi perah pun akhirnya turun sekitar 2 persen untuk setiap peningkatan tingkat stres akibat panas. Sementara itu, babi termasuk salah satu hewan yang paling rapuh karena mereka tidak bisa berkeringat untuk mendinginkan tubuhnya.
Suhu panas yang terjadi terus-menerus juga melemahkan daya tahan tubuh hewan, menurunkan kesuburan, meningkatkan risiko penyakit dan kematian, serta menurunkan kualitas susu, daging, telur, dan bulu wol.
Jika polusi dunia terus dibiarkan tinggi hampir separuh dari total sapi di dunia akan terus-menerus kepanasan pada akhir abad ini. Laporan memperingatkan bahwa kerugian tahunan dari produksi daging sapi dan susu bisa mendekati 40 miliar dolar AS.
Namun, jika dunia berhasil menekan polusi secara maksimal, nilai kerugian tersebut bisa dipotong hingga hampir dua pertiganya. Hal ini menunjukkan besarnya keuntungan jika kita berhasil menahan kenaikan suhu bumi.
Laporan tersebut juga menyoroti dampak buruk hawa panas ekstrem yang makin merusak sektor perikanan, kebun buah, dan hutan. Gelombang panas di dalam laut telah menyebabkan kematian massal ikan secara berulang kali dan memaksa kelompok-kelompok ikan pindah ke wilayah air yang lebih dingin. Hal ini mengacaukan industri perikanan dan merusak mata pencaharian warga di pesisir pantai.
Kebun buah dan kacang-kacangan, serta kawasan hutan, juga menjadi makin rapuh terhadap gagal panen akibat panas dan bencana kebakaran hutan yang makin sering terjadi.
Baca juga: Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai
Laporan itu menyebutkan bahwa panas ekstrem dan masalah iklim lainnya telah menurunkan produksi makanan serta pendapatan di sektor pertanian-pangan yang menjadi tumpuan hidup sekitar 1,23 miliar orang.
Laporan menambahkan bahwa kerugian di sektor pertanian bisa melonjak hingga tiga kali lipat jika hawa panas terjadi bersamaan dengan bencana lain seperti kekeringan.
Laporan FAO-WMO mendesak adanya investasi dana darurat untuk adaptasi iklim demi melindungi sistem pangan dunia. Laporan ini merekomendasikan perbaikan sistem peringatan dini, layanan informasi cuaca, penggunaan bibit tanaman yang tahan panas, pengaturan ulang jadwal menanam, pengelolaan air yang lebih baik, serta bantuan keuangan untuk melindungi komunitas petani yang miskin.
Namun, laporan mengungkapkan bahwa sekadar beradaptasi saja tidak akan cukup.
Mengingat suhu bumi saat ini sudah makin mendekati batas pemanasan 1,5 derajat Celsius yang disepakati dalam Perjanjian Paris, tindakan tegas untuk memotong polusi gas rumah kaca tetap menjadi hal yang wajib dilakukan.
Langkah ini sangat penting demi melindungi sektor pertanian dan pasokan makanan dari ancaman panas yang terus memburuk.
Tanpa adanya pengurangan polusi yang lebih cepat, risiko bahaya bagi para petani, produksi makanan, dan kehidupan masyarakat di pedesaan akan terus meningkat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya