Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 10 Juli 2026, 18:18 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Lokapasar atau e-commerce kerap dianggap sebagai daya ungkit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjangkau pasar lebih luas. Namun, seringkali kehadirannya menjadi pedang bermata dua.

Di platform media sosial, keluhan muncul dari UMKM yang merasa terbebani dengan potongan biaya layanan atau potongan komisi penjualan. Ada yang mengeluh karena margin keuntungan mereka yang sudah tipis tergerus lagi.

Fenomena ini memicu diskusi mendalam mengenai masa depan dan daya tahan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di pasar domestik. 

Hal ini mengemuka dalam seminar yang digagas Kementerian UMKM, British Academy, University of the West of England (UWE) dan Magister Ilmu Komunikasi UPH berjudul “Jakarta Hustle: Resilience and Resourcefulness beyond E-Commerce Platform” pada 8 Juli 2026 di Gedung SMESCO, Jakarta.

Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, M. Riza Damanik mengungkapkan, pasca-pandemi Covid 19 partisipasi UMKM dalam platform daring mengalami pertumbuhan signifikan.

Oleh karena itu, ia beranggapan sangat penting bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya, termasuk para pelaku UMKM, memastikan agar pasar domestik Indonesia sehat, demi meningkatkan produktivitas.

“Agar bisa sehat, perlu dibangun kebijakan yang baik untuk memastikan agar seluruh produk yang dihasilkan di Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegas Riza.

Riza juga menyampaikan, kolaborasi antara akademisi dan UMK sangat dibutuhkan mulai dari riset, inovasi, hingga pendampingan. 

Menurutnya, studi studi terhadap platform daring yang memusatkan perhatian pada pergeseran dan perubahan dalam aspek sosial dan budaya sangatlah jarang.

Baca juga: ASDP Sulap RTH Ketapang Jadi Sentra Kuliner, UMKM Didorong Naik Kelas

“Biasanya, studi-studi mengenai platform daring berfokus pada bagaimana meningkatkan partisipasi UMKM untuk masuk dalam platform, atau bagaimana para pengguna platform bisa lebih produktif,” jelas Riza.

“Penelitian ini perlu kita apresiasi karena sangat relevan dengan apa yang kita perlukan hari ini,” tutur Riza. 

Membangun ekosistem yang mendukung

Dosen Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan (UPH), Johanes Herlijanto berpandangan, ada anggapan barang-barang asal Cina yang dijual di TikTok melakukan praktik predatory pricing.

Meski pandangan ini sangat popular khususnya dalam 3 tahun terakhir ini, Johanes mengingatkan itu masih berupa wacana dan belum bisa dibuktikan secara hukum.

Meski demikian ia sependapat bahwa barang-barang asal Cina itu memang dibandrol dengan harga sangat murah, dan bahkan sempat menjadi andalan UMKM Indonesia.

Johanes menegaskan, menghadapi serbuan produk murah dari China, Indonesia tidak bisa sekadar melakukan proteksi buta karena terikat oleh hukum dan perjanjian dagang internasional.

"Solusi utamanya adalah membangun ekosistem dan regulasi yang kuat di dalam negeri, mencontoh bagaimana China menyiapkan ekosistem melalui kebijakan dan insentif yang mendukung industri mereka hingga bisa memproduksi barang dengan sangat murah," jelasnya.

"Ketika kemudian UMKM membuat satu terobosan inovatif dan berhasil menjual produk dalam negeri, produk lokal, semestinya dia harus mendapatkan semacam insentif agar mampu menjual barang lebih murah di platform itu sendiri," lanjutnya.

Ketimbang masuk dalam persaingan harga yang tidak sehat, Johanes justru menawarkan perspektif dengan membuat ekosistem yang sama efisiennya di Indonesia sambil tetap mengawasi potensi kecurangan dagang secara hukum.

Potensi pasar domestik yang besar

Seminar bertajuk Jakarta Hustle: Resilience and Resourcefulness beyond E-Commerce Platform di Jakarta 8 Juli 2026.
DOK. KEMEN UMKM Seminar bertajuk Jakarta Hustle: Resilience and Resourcefulness beyond E-Commerce Platform di Jakarta 8 Juli 2026.

Hal senada disampaikan Amore Minayora dari University of the West of England (UWE). Amore memperlihatkan bahwa fenomena banjir barang dari Cina dan negara-negara asing lain tak lantas membuat para pelaku usaha UMKM putus asa.

“Masuknya barang-barang dari Cina melalui platform perdagangan daring (e-commerce) tidak membuat pengusaha kecil dan menengah mati langkah," tegasnya.

Dia menjelaskan, ketahanan pengusaha UMKM di Jakarta berasal dari kedekatan akses dan relasi dengan jejaring lokal seperti dengan rantai pasok lokal (local supply change), hingga penyedia jasa logistik.

Ini menjadi faktor utama yang mendukung UMKM untuk mengembangkan usaha dan berkompetisi secara sehat.

Dalam riset yang dilakukan, dia menyebutkan sekitar 72 persen penghasilan UMKM masih berasal dari pasar konvensional dan bukan dari e-commerce. Sebanyak 63 UMKM mengutamakan jejaring lokal sebagai faktor utama daya saing.

Amore menyebut kondisi ini tidak serta-merta menunjukkan UMKM tertinggal. Sebaliknya, realitas ini dipandang sebagai sebuah kekuatan terstruktur. Pelaku UMKM dinilai cukup bijak karena tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang

"Mereka tahu cara mendiversifikasi kanal penjualan, mulai dari mengombinasikan jalur offline, WhatsApp, situs web mandiri, hingga platform e-commerce global,"jelasnya.

Dengan pasar domestik Indonesia yang sangat besar, dia menegaskan potensi UMKM terus berkembang dan naik kelas ke kancah global sangat terbuka lebar.

"Apalagi, pasar internasional saat ini menaruh minat yang sangat tinggi terhadap produk-produk khas Indonesia. Salah satu sektor yang menjadi primadona dan memiliki keterikatan kuat dengan budaya serta religi adalah industri fashion muslim," ungkap Amore.

Baca juga: Kesenjangan Literasi Digital Masih Jadi Hambatan UMKM Adopsi AI

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara penyedia baju muslim terbesar di dunia. Produk-fashion muslim lokal ini menjadi incaran utama bagi negara-negara di berbagai belahan dunia, seperti Maroko, kawasan Afrika, Malaysia, hingga Brunei Darussalam.

Peta jalan, inovasi hingga kolaborasi

CEO SMESCO Indonesia, Doddy A. Matondang menyampaikan di tengah terpaan luar biasa produk dari luar dan biaya layanan perdagangan daring (E-commerce) yang cukup tinggi, masih terdapat UMKM yang memiliki ketahanan luar biasa.

Dia menjelaskan terdapat tiga pilar utama menjadi kunci penting bagi bertahannya UMKM di masa depan: (1) inovasi tanpa henti, (2) kehadiran digital, dan (3) kolaborasi.

"Inovasi harus menjadi nilai dasar bagi setiap orang yang ingin mendirikan maupun mempertahankan usaha mereka. Di tengah dinamika pasar yang cepat berubah, inovasi produk dan model bisnis tidak boleh berhenti," jelas Doddy.

Di era digitalisasi ini, lanjutnya, UMKM tidak wajib selalu masuk ke dalam marketplace besar, tetapi minimal informasi mengenai produk harus dapat diakses di dunia digital.

"Jejak digital ini krusial agar mempermudah konsumen, termasuk membuka peluang promosi organik dari pelanggan itu sendiri," ujar Doddy.

Lebih jauh dia menyampaikan, pertarungan pasar hari ini bukan lagi bersifat satu lawan satu, melainkan ekosistem melawan ekosistem (many to many). "Oleh sebab itu, pelaku usaha tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi kuat dengan berbagai pemangku kepentingan," pesannya.

Baca juga: Pengemudi Ojol Berstatus UMKM, Menteri Maman: Bisa Akses KUR Lebih Mudah

Tak hanya itu, program Holding UMKM juga dibentuk untuk menjaring dan menyatukan ekosistem usaha lokal, mulai dari skala terkecil di daerah hingga mampu menembus titik pemasaran terbesar di pasar internasional.

"Roadmap-nya sudah ada, tinggal memang kan hari ini kita berbicara penerapan ini membutuhkan berproses, tidak mungkin instan. Kalau ini konsisten dan secara masif dijalankan bersama bareng, mungkin 5 atau 10 tahun lagi kita bisa merasakan dampaknya, sama seperti yang dilakukan China," pungkasnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau