Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anemia Terus Mengintai Indonesia, Bisa Ancam Kualitas SDM

Kompas.com, 11 Juli 2026, 17:30 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KLATEN, KOMPAS.com - Anemia defisiensi besi atau Iron Deficiency Anemia (IDA) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia.

Pakar gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dian Novita Chandra mengatakan, secara global IDA memengaruhi hampir 40 persen anak di bawah usia 5 tahun dan sekitar 30 persen ibu hamil. 

Di Indonesia, angka prevalensinya memang sedikit lebih rendah, yaitu 23,8 persen pada anak dan 27,7 persen pada ibu hamil. 

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Jus Jambu Biji Efektif Membantu Redakan Gejala Anemia

Namun dengan jumlah penduduk yang besar, proporsi satu berbanding empat itu tetap berarti jutaan orang terdampak.

"Penyebab tersering dari anemia adalah defisiensi besi, dan kondisi ini paling banyak terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan, periode yang justru sangat krusial untuk pertumbuhan, imunitas, dan perkembangan anak," kata Dian di Pabrik Danone Specialized Nutrition, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026).

Menurut Dian, yang juga Sekretaris Ikatan Ahli Gizi Indonesia (INA), IDA kerap disebut sebagai silent condition atau kondisi yang diam-diam karena gejalanya tidak khas dan mudah terabaikan. 

Prosesnya berjalan bertahap, dimulai dari menipisnya cadangan zat besi dalam tubuh, hingga akhirnya kadar hemoglobin turun dan anemia benar-benar terjadi.

Baca juga: Anemia Berat, Jemaah Haji Kloter 13 Embarkasi Padang Batal Berangkat

Gejala yang muncul, seperti pucat, lemas, susah makan, hingga sering mengalami infeksi berulang, sering kali baru disadari orangtua setelah kondisinya berlangsung lama. 

Karena itu, Dian menekankan pentingnya edukasi dan deteksi dini sebelum gejala klinis muncul, bukan menunggu anak dibawa ke dokter setelah anemia terjadi.

Ia juga menyoroti faktor yang memengaruhi penyerapan zat besi dalam tubuh, salah satunya kandungan fitat yang justru menghambat penyerapan zat besi.

Ancaman terhadap kualitas SDM

Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia, Ray Wagiu Basrowi menegaskan bahwa dampak IDA jauh melampaui persoalan medis semata. 

Dia mengutip sejumlah kajian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF yang menyebut, anak dengan IDA berisiko mengalami hambatan prestasi akademik dua hingga tiga kali lipat dibanding anak yang sehat.

Baca juga: Dubes Kanada Tinjau Program Cegah Anemia Remaja Putri di SMPN 43 Bandung

Jika dibiarkan, anak tersebut berpotensi kesulitan mendapat pekerjaan yang layak setelah menempuh pendidikan.

Ray juga menyebut penelitian yang dilakukan Danone bersama sejumlah peneliti pada anak sekolah dasar.

Dalam penelitian tersebut, anak dengan anemia defisiensi besi memiliki skor working memory atau memori kerja yang lebih rendah, kemampuan yang penting untuk menjadi tenaga kerja produktif di masa depan.

"WHO dan UNICEF menyebut, kalau di suatu negara angka anemia defisiensi besinya masih di atas 20 persen, maka negara itu tidak akan maju, karena indeks human capital-nya (sumber daya manusia) ikut rendah," ujar Ray.

Ibu hamil yang mengalami anemia defisiensi besi, lanjut Ray, juga berisiko lebih tinggi melahirkan bayi prematur maupun bayi dengan berat badan lahir rendah.

Baca juga: Rentan Anemia, Pasien Penyakit Ginjal Kronik Perlu Cek Hemoglobin

Sehingga siklus masalah gizi ini bisa berlanjut ke generasi berikutnya.

"Ini menyangkut status ekonomi dan kualitas SDM (sumber daya manusia). Ini harus menjadi kampanye nasional untuk mencegah dan menurunkan anemia defisiensi besi," katanya.

Di satu sisi, salah satu tantangan terbesar dalam mengatasi anemia, menurut Ray, adalah rendahnya angka skrining. 

Ia mengutip riset Universitas Gadjah Mada yang menyebut tingkat skrining pada balita di Indonesia masih di bawah 10 persen, artinya sekitar 90 persen kasus berpotensi tidak terdeteksi.

Baca juga: Ibu Hamil Perlu Tahu, Ini Tips Mencegah Anemia Defisiensi Besi pada Anak

Upaya mengatasi anemia

(Kiri ke kanan) Vice President, Danone Research & Innovation, Southeast Asia, Laurent Clement, Pakar gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dian Novita Chandra, dan Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia Ray Wagiu Basrowi saat memberikan pemaparan di Pabrik Danone Specialized Nutrition, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026)KOMPAS.com/DANUR LAMBANG PRISTIANDARU (Kiri ke kanan) Vice President, Danone Research & Innovation, Southeast Asia, Laurent Clement, Pakar gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dian Novita Chandra, dan Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia Ray Wagiu Basrowi saat memberikan pemaparan di Pabrik Danone Specialized Nutrition, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026)

Berdasarkan konsensus bersama pemerintah, universitas, dan tenaga kesehatan yang telah dipublikasikan di jurnal ilmiah bidang nutrisi, Ray menuturkan Danone Indonesia merumuskan tiga pilar strategi untuk membantu menekan angka anemia defisiensi besi di Tanah Air.

Pertama, peningkatan kesadaran atau awareness building. Dia menuturkan, Danone Indonesia menggandeng bidan untuk mengedukasi ibu hamil dan keluarga soal asupan gizi yang baik.

Kedua, penguatan riset dan kemitraan penelitian. Ray berujar, Danone Indonesia bersama universitas di sejumlah provinsi telah mempublikasikan lebih dari 40 penelitian ilmiah terkait anemia dan nutrisi. 

Salah satu hasil penelitian tersebut bahkan telah diadopsi Kementerian Kesehatan RI sebagai rujukan program pencegahan anemia di tingkat sekolah.

Baca juga: Sering Mengantuk dan Suka Tidur, Benarkah Tanda Anemia? Ini Penjelasan Dokter

Ketiga, skrining yang mudah diakses. Melalui program Inutri, Ray menyebut DanoneIndonesia mengembangkan Iron Calculator, alat skrining berbasis kuesioner digital yang tidak memerlukan pengambilan sampel darah. 

Alat ini telah digunakan untuk lebih dari 1 juta skrining terhadap ibu dan balita di Indonesia.

"Menyelesaikan masalah anemia defisiensi besi tidak boleh hanya dengan menyiapkan obat. Harus ada edukasi, harus ada building awareness, dan harus ada fasilitas untuk memastikan anak-anak yang berisiko sudah terdeteksi sejak awal kehidupan," kata Ray.

Baca juga: Sering Mengantuk dan Suka Tidur, Benarkah Tanda Anemia? Ini Penjelasan Dokter

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Anemia Terus Mengintai Indonesia, Bisa Ancam Kualitas SDM
Anemia Terus Mengintai Indonesia, Bisa Ancam Kualitas SDM
Swasta
Imbas Perubahan Iklim, Kerugian Gagal Panen Global Tembus Rp 361,6 Triliun per Tahun
Imbas Perubahan Iklim, Kerugian Gagal Panen Global Tembus Rp 361,6 Triliun per Tahun
Pemerintah
PAMA dan Bharinto Ekatama Salurkan Santunan kepada 55 Anak Yatim di Tana Tidung
PAMA dan Bharinto Ekatama Salurkan Santunan kepada 55 Anak Yatim di Tana Tidung
Pemerintah
BRIN: Limbah Industri Minyak Atsiri Berpotensi Diolah jadi Biobriket Energi Biomassa
BRIN: Limbah Industri Minyak Atsiri Berpotensi Diolah jadi Biobriket Energi Biomassa
LSM/Figur
Perkuat Nilai Tambah Ekonomi Mangrove, Perempuan Pesisir di Kaltara Dilatih Olah Hasil Tambak
Perkuat Nilai Tambah Ekonomi Mangrove, Perempuan Pesisir di Kaltara Dilatih Olah Hasil Tambak
LSM/Figur
AC Bukan Jawaban Hadapi Ancaman Suhu Bumi yang Kian Memanas
AC Bukan Jawaban Hadapi Ancaman Suhu Bumi yang Kian Memanas
Pemerintah
Perkuat Pengelolaan Hutan Desa, Belantara Foundation Salurkan Bantuan untuk KUPS
Perkuat Pengelolaan Hutan Desa, Belantara Foundation Salurkan Bantuan untuk KUPS
LSM/Figur
Dorong Inovasi Kota Berkelanjutan, 'FutureGen for Change' Ekspansi ke Tiga Kota Asia Tenggara
Dorong Inovasi Kota Berkelanjutan, "FutureGen for Change" Ekspansi ke Tiga Kota Asia Tenggara
LSM/Figur
Kasus Kanker Naik 66 Persen pada 2050, Perbesar Kesenjangan Kesehatan Dunia
Kasus Kanker Naik 66 Persen pada 2050, Perbesar Kesenjangan Kesehatan Dunia
Pemerintah
Kemandirian dan Ekosistem Jadi Daya Ungkit Ketangguhan UMKM
Kemandirian dan Ekosistem Jadi Daya Ungkit Ketangguhan UMKM
Pemerintah
OJK: Integrasi SRUK dan IDX Carbon Jadi Kunci Tingkatkan Kepercayaan Pasar Karbon Indonesia
OJK: Integrasi SRUK dan IDX Carbon Jadi Kunci Tingkatkan Kepercayaan Pasar Karbon Indonesia
Pemerintah
Peringatan WHO: 92 Persen Populasi Global Akan Terdampak Kanker
Peringatan WHO: 92 Persen Populasi Global Akan Terdampak Kanker
Pemerintah
Sangkulirang-Mangkalihat Simpan Cadangan Karbon 275 Gigaton, Selangkah Lagi Jadi Geopark Nasional
Sangkulirang-Mangkalihat Simpan Cadangan Karbon 275 Gigaton, Selangkah Lagi Jadi Geopark Nasional
LSM/Figur
Google, McKinsey, dan Tencent Investasi di Sektor Penyerapan Karbon Indonesia
Google, McKinsey, dan Tencent Investasi di Sektor Penyerapan Karbon Indonesia
Pemerintah
Simfoni Bunga dan Air, Napas Konservasi di Lereng Merapi
Simfoni Bunga dan Air, Napas Konservasi di Lereng Merapi
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau