Penulis
KLATEN, KOMPAS.com - Anemia defisiensi besi atau Iron Deficiency Anemia (IDA) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia.
Pakar gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dian Novita Chandra mengatakan, secara global IDA memengaruhi hampir 40 persen anak di bawah usia 5 tahun dan sekitar 30 persen ibu hamil.
Di Indonesia, angka prevalensinya memang sedikit lebih rendah, yaitu 23,8 persen pada anak dan 27,7 persen pada ibu hamil.
Baca juga: Ini Alasan Mengapa Jus Jambu Biji Efektif Membantu Redakan Gejala Anemia
Namun dengan jumlah penduduk yang besar, proporsi satu berbanding empat itu tetap berarti jutaan orang terdampak.
"Penyebab tersering dari anemia adalah defisiensi besi, dan kondisi ini paling banyak terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan, periode yang justru sangat krusial untuk pertumbuhan, imunitas, dan perkembangan anak," kata Dian di Pabrik Danone Specialized Nutrition, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026).
Menurut Dian, yang juga Sekretaris Ikatan Ahli Gizi Indonesia (INA), IDA kerap disebut sebagai silent condition atau kondisi yang diam-diam karena gejalanya tidak khas dan mudah terabaikan.
Prosesnya berjalan bertahap, dimulai dari menipisnya cadangan zat besi dalam tubuh, hingga akhirnya kadar hemoglobin turun dan anemia benar-benar terjadi.
Baca juga: Anemia Berat, Jemaah Haji Kloter 13 Embarkasi Padang Batal Berangkat
Gejala yang muncul, seperti pucat, lemas, susah makan, hingga sering mengalami infeksi berulang, sering kali baru disadari orangtua setelah kondisinya berlangsung lama.
Karena itu, Dian menekankan pentingnya edukasi dan deteksi dini sebelum gejala klinis muncul, bukan menunggu anak dibawa ke dokter setelah anemia terjadi.
Ia juga menyoroti faktor yang memengaruhi penyerapan zat besi dalam tubuh, salah satunya kandungan fitat yang justru menghambat penyerapan zat besi.
Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia, Ray Wagiu Basrowi menegaskan bahwa dampak IDA jauh melampaui persoalan medis semata.
Dia mengutip sejumlah kajian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF yang menyebut, anak dengan IDA berisiko mengalami hambatan prestasi akademik dua hingga tiga kali lipat dibanding anak yang sehat.
Baca juga: Dubes Kanada Tinjau Program Cegah Anemia Remaja Putri di SMPN 43 Bandung
Jika dibiarkan, anak tersebut berpotensi kesulitan mendapat pekerjaan yang layak setelah menempuh pendidikan.
Ray juga menyebut penelitian yang dilakukan Danone bersama sejumlah peneliti pada anak sekolah dasar.
Dalam penelitian tersebut, anak dengan anemia defisiensi besi memiliki skor working memory atau memori kerja yang lebih rendah, kemampuan yang penting untuk menjadi tenaga kerja produktif di masa depan.
"WHO dan UNICEF menyebut, kalau di suatu negara angka anemia defisiensi besinya masih di atas 20 persen, maka negara itu tidak akan maju, karena indeks human capital-nya (sumber daya manusia) ikut rendah," ujar Ray.
Ibu hamil yang mengalami anemia defisiensi besi, lanjut Ray, juga berisiko lebih tinggi melahirkan bayi prematur maupun bayi dengan berat badan lahir rendah.
Baca juga: Rentan Anemia, Pasien Penyakit Ginjal Kronik Perlu Cek Hemoglobin
Sehingga siklus masalah gizi ini bisa berlanjut ke generasi berikutnya.
"Ini menyangkut status ekonomi dan kualitas SDM (sumber daya manusia). Ini harus menjadi kampanye nasional untuk mencegah dan menurunkan anemia defisiensi besi," katanya.
Di satu sisi, salah satu tantangan terbesar dalam mengatasi anemia, menurut Ray, adalah rendahnya angka skrining.
Ia mengutip riset Universitas Gadjah Mada yang menyebut tingkat skrining pada balita di Indonesia masih di bawah 10 persen, artinya sekitar 90 persen kasus berpotensi tidak terdeteksi.
Baca juga: Ibu Hamil Perlu Tahu, Ini Tips Mencegah Anemia Defisiensi Besi pada Anak
(Kiri ke kanan) Vice President, Danone Research & Innovation, Southeast Asia, Laurent Clement, Pakar gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dian Novita Chandra, dan Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia Ray Wagiu Basrowi saat memberikan pemaparan di Pabrik Danone Specialized Nutrition, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026)Berdasarkan konsensus bersama pemerintah, universitas, dan tenaga kesehatan yang telah dipublikasikan di jurnal ilmiah bidang nutrisi, Ray menuturkan Danone Indonesia merumuskan tiga pilar strategi untuk membantu menekan angka anemia defisiensi besi di Tanah Air.
Pertama, peningkatan kesadaran atau awareness building. Dia menuturkan, Danone Indonesia menggandeng bidan untuk mengedukasi ibu hamil dan keluarga soal asupan gizi yang baik.
Kedua, penguatan riset dan kemitraan penelitian. Ray berujar, Danone Indonesia bersama universitas di sejumlah provinsi telah mempublikasikan lebih dari 40 penelitian ilmiah terkait anemia dan nutrisi.
Salah satu hasil penelitian tersebut bahkan telah diadopsi Kementerian Kesehatan RI sebagai rujukan program pencegahan anemia di tingkat sekolah.
Baca juga: Sering Mengantuk dan Suka Tidur, Benarkah Tanda Anemia? Ini Penjelasan Dokter
Ketiga, skrining yang mudah diakses. Melalui program Inutri, Ray menyebut DanoneIndonesia mengembangkan Iron Calculator, alat skrining berbasis kuesioner digital yang tidak memerlukan pengambilan sampel darah.
Alat ini telah digunakan untuk lebih dari 1 juta skrining terhadap ibu dan balita di Indonesia.
"Menyelesaikan masalah anemia defisiensi besi tidak boleh hanya dengan menyiapkan obat. Harus ada edukasi, harus ada building awareness, dan harus ada fasilitas untuk memastikan anak-anak yang berisiko sudah terdeteksi sejak awal kehidupan," kata Ray.
Baca juga: Sering Mengantuk dan Suka Tidur, Benarkah Tanda Anemia? Ini Penjelasan Dokter
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya