Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kota-kota di Eropa Kekurangan Tempat Berteduh Saat Gelombang Panas Ekstrem Melanda

Kompas.com, 6 Juli 2026, 16:01 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebanyak empat dari lima rumah dan gedung perkantoran di 25 kota besar Eropa dinilai tidak memiliki tutupan pohon yang memadai untuk membantu menurunkan suhu di sekitarnya.

Kondisi ini dinilai memperbesar risiko paparan gelombang panas di kawasan perkotaan yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Temuan tersebut merupakan hasil penelitian yang dipimpin oleh peneliti Universitas RMIT Australia, Thami Croeser. Tim peneliti memetakan tutupan kanopi pohon dalam radius 60 meter dari sekitar 5,5 juta bangunan di Prancis, Spanyol, Italia, Jerman, Portugal, Yunani, dan Inggris.

Baca juga: Studi Perkirakan Gelombang Panas Juni di Eropa Renggut Nyawa 20.000 Orang

Hasilnya, sebanyak 84 persen bangunan berada di bawah ambang batas tutupan kanopi pohon yang dinilai mampu memberikan efek pendinginan secara signifikan.

Menurut Croeser, bangunan idealnya memiliki tutupan kanopi pohon lebih dari 30 persen di sekitarnya untuk mengurangi dampak *urban heat island* (UHI) atau fenomena pulau panas perkotaan.

"Lebih dari empat dari lima rumah dan tempat kerja di kota-kota yang kami analisis tidak memiliki kanopi pohon di dekatnya, yang menurut penelitian panas perkotaan dibutuhkan untuk pendinginan yang berarti. Saat cuaca sangat panas melanda, taman rindang yang berjarak tiga blok terlalu jauh untuk membantu gedung apartemen yang dikelilingi aspal panas," ujar Croeser, dikutip dari laman resmi Universitas RMIT, Senin (6/7/2026).

Ia menilai gelombang panas yang semakin sering melanda Eropa menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam perencanaan kota yang belum memberikan ruang cukup bagi vegetasi.

Kota Jerman terbaik, Sevilla terburuk

Dari 25 kota yang dianalisis, Cologne dan Hamburg di Jerman mencatat kondisi terbaik. Sekitar 45 persen bangunan di kedua kota tersebut telah memiliki tutupan kanopi pohon yang memadai.

Posisi berikutnya ditempati Nice, Prancis, dengan sekitar 41 persen bangunan memiliki tutupan pohon yang cukup, yang sebagian besar ditopang vegetasi alami di kawasan perbukitan.

Sebaliknya, Sevilla, Spanyol, menjadi kota dengan kondisi terburuk. Sebanyak 98 persen bangunan di kota itu berada di bawah ambang batas tutupan kanopi, padahal wilayah tersebut rutin mengalami suhu ekstrem setiap musim panas.

Untuk kota-kota besar lainnya, penelitian menunjukkan sekitar 93 persen dari 1,5 juta bangunan di London belum memiliki tutupan pohon yang memadai. Sementara itu, Paris mencapai 96 persen dan Roma sekitar 85 persen.

Menurut Croeser, defisit tutupan pohon tersebut jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan. Di banyak kota, sebagian besar bangunan bahkan hanya memiliki tutupan kanopi di bawah 10 persen.

Baca juga: Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim

"Suatu kota mungkin tampak memiliki jumlah tutupan pohon yang cukup secara keseluruhan, sementara sebagian besar rumah masih memiliki sangat sedikit naungan di sekitarnya. Pendinginan oleh pohon bersifat sangat lokal. Jika kanopi tidak dekat dengan tempat orang tinggal dan bekerja, kecil kemungkinan kanopi tersebut akan melindungi mereka di tempat mereka benar-benar mengalami panas," ujarnya.

Wilayah miskin lebih rentan

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa kawasan perkotaan dengan tingkat pendapatan lebih rendah cenderung mengalami suhu permukaan yang lebih tinggi dan memiliki tutupan pohon yang lebih sedikit.

Akibatnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menghadapi risiko yang lebih besar saat gelombang panas terjadi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau