KOMPAS.com - Sebanyak empat dari lima rumah dan gedung perkantoran di 25 kota besar Eropa dinilai tidak memiliki tutupan pohon yang memadai untuk membantu menurunkan suhu di sekitarnya.
Kondisi ini dinilai memperbesar risiko paparan gelombang panas di kawasan perkotaan yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Temuan tersebut merupakan hasil penelitian yang dipimpin oleh peneliti Universitas RMIT Australia, Thami Croeser. Tim peneliti memetakan tutupan kanopi pohon dalam radius 60 meter dari sekitar 5,5 juta bangunan di Prancis, Spanyol, Italia, Jerman, Portugal, Yunani, dan Inggris.
Baca juga: Studi Perkirakan Gelombang Panas Juni di Eropa Renggut Nyawa 20.000 Orang
Hasilnya, sebanyak 84 persen bangunan berada di bawah ambang batas tutupan kanopi pohon yang dinilai mampu memberikan efek pendinginan secara signifikan.
Menurut Croeser, bangunan idealnya memiliki tutupan kanopi pohon lebih dari 30 persen di sekitarnya untuk mengurangi dampak *urban heat island* (UHI) atau fenomena pulau panas perkotaan.
"Lebih dari empat dari lima rumah dan tempat kerja di kota-kota yang kami analisis tidak memiliki kanopi pohon di dekatnya, yang menurut penelitian panas perkotaan dibutuhkan untuk pendinginan yang berarti. Saat cuaca sangat panas melanda, taman rindang yang berjarak tiga blok terlalu jauh untuk membantu gedung apartemen yang dikelilingi aspal panas," ujar Croeser, dikutip dari laman resmi Universitas RMIT, Senin (6/7/2026).
Ia menilai gelombang panas yang semakin sering melanda Eropa menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam perencanaan kota yang belum memberikan ruang cukup bagi vegetasi.
Dari 25 kota yang dianalisis, Cologne dan Hamburg di Jerman mencatat kondisi terbaik. Sekitar 45 persen bangunan di kedua kota tersebut telah memiliki tutupan kanopi pohon yang memadai.
Posisi berikutnya ditempati Nice, Prancis, dengan sekitar 41 persen bangunan memiliki tutupan pohon yang cukup, yang sebagian besar ditopang vegetasi alami di kawasan perbukitan.
Sebaliknya, Sevilla, Spanyol, menjadi kota dengan kondisi terburuk. Sebanyak 98 persen bangunan di kota itu berada di bawah ambang batas tutupan kanopi, padahal wilayah tersebut rutin mengalami suhu ekstrem setiap musim panas.
Untuk kota-kota besar lainnya, penelitian menunjukkan sekitar 93 persen dari 1,5 juta bangunan di London belum memiliki tutupan pohon yang memadai. Sementara itu, Paris mencapai 96 persen dan Roma sekitar 85 persen.
Menurut Croeser, defisit tutupan pohon tersebut jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan. Di banyak kota, sebagian besar bangunan bahkan hanya memiliki tutupan kanopi di bawah 10 persen.
Baca juga: Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim
"Suatu kota mungkin tampak memiliki jumlah tutupan pohon yang cukup secara keseluruhan, sementara sebagian besar rumah masih memiliki sangat sedikit naungan di sekitarnya. Pendinginan oleh pohon bersifat sangat lokal. Jika kanopi tidak dekat dengan tempat orang tinggal dan bekerja, kecil kemungkinan kanopi tersebut akan melindungi mereka di tempat mereka benar-benar mengalami panas," ujarnya.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa kawasan perkotaan dengan tingkat pendapatan lebih rendah cenderung mengalami suhu permukaan yang lebih tinggi dan memiliki tutupan pohon yang lebih sedikit.
Akibatnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menghadapi risiko yang lebih besar saat gelombang panas terjadi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya