KOMPAS.com - Sebagian hasil panen tambak di Desa Bebatu, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, mulai diolah menjadi produk bernilai tambah melalui pelatihan pengolahan petis udang bagi kelompok perempuan pesisir.
Pelatihan yang diikuti 11 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Baru tersebut merupakan bagian dari Sekolah Lapang Livelihood yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal sekaligus mendukung pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan.
Baca juga: Di Pesisir Kalimantan, Rehabilitasi Mangrove Tak Lagi Sekadar Menanam
Ketua KWT Bina Baru Rukiah mengatakan, selama ini hasil tambak di Desa Bebatu lebih banyak dipasarkan dalam kondisi segar. Melalui pelatihan tersebut, kelompoknya mulai mempelajari cara mengolah hasil panen menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
"Selama ini distribusi produk kami hanya menjangkau wilayah Desa Bebatu dan kabupaten. Ke depan, kami berharap ada keberlanjutan agar dapat semakin mendorong perekonomian ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok kami," ujar Rukiah dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026).
Selain teknik pembuatan petis udang, peserta juga memperoleh pelatihan mengenai standar kebersihan produksi, pengemasan secara higienis, pelabelan produk, hingga dasar-dasar keamanan pangan.
Menurut Rukiah, pelatihan tersebut membuka wawasan bahwa hasil tambak tidak harus selalu dijual sebagai bahan mentah. Dengan pengolahan dan pengemasan yang baik, produk olahan berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas.
Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Bebatu Sri Kamariah mengatakan, pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan di desa.
Ia menilai perempuan memiliki peran penting dalam menopang ekonomi keluarga. Karena itu, pemerintah desa terus mendukung kelompok masyarakat yang mengembangkan usaha melalui pendampingan, termasuk dalam penyusunan proposal dan pengembangan program pemberdayaan.
PPIU Manager Kalimantan Utara Program M4CR Akhmad Ashar Sarif mengatakan, Sekolah Lapang Livelihood merupakan bagian dari upaya menghubungkan rehabilitasi mangrove dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Desa Bebatu menerapkan sistem silvofishery, yaitu model budidaya tambak yang dipadukan dengan pelestarian mangrove sehingga aktivitas ekonomi tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan fungsi ekologis kawasan pesisir.
"Pelatihan sekolah lapang ini merupakan komitmen kami bersama dalam melestarikan mangrove dan meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan," ujar Sarif.
Menurut dia, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari meningkatnya kualitas ekosistem, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Baca juga: Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
Karena itu, peningkatan kapasitas perempuan menjadi bagian penting dalam membangun ekonomi pesisir yang lebih tangguh. Perempuan tidak hanya berperan dalam mengurus rumah tangga, tetapi juga mengolah hasil perikanan, mendukung kegiatan tambak, hingga mengembangkan usaha mikro berbasis potensi desa.
Sarif mengatakan, ketika ekosistem mangrove tetap terjaga melalui penerapan silvofishery dan masyarakat memiliki keterampilan mengolah hasil tambak menjadi produk bernilai tambah, manfaat konservasi dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat pesisir.
"Ketika ekosistem mangrove tetap terjaga melalui penerapan silvofishery, sementara perempuan memperoleh kesempatan meningkatkan kapasitas dan mengembangkan produk olahan, maka terbentuk fondasi yang lebih kuat bagi terwujudnya ekonomi pesisir yang tangguh dan berkelanjutan," ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya