Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perkuat Nilai Tambah Ekonomi Mangrove, Perempuan Pesisir di Kaltara Dilatih Olah Hasil Tambak

Kompas.com, 11 Juli 2026, 11:00 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebagian hasil panen tambak di Desa Bebatu, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, mulai diolah menjadi produk bernilai tambah melalui pelatihan pengolahan petis udang bagi kelompok perempuan pesisir.

Pelatihan yang diikuti 11 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Baru tersebut merupakan bagian dari Sekolah Lapang Livelihood yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR).

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal sekaligus mendukung pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan.

Baca juga: Di Pesisir Kalimantan, Rehabilitasi Mangrove Tak Lagi Sekadar Menanam

Ketua KWT Bina Baru Rukiah mengatakan, selama ini hasil tambak di Desa Bebatu lebih banyak dipasarkan dalam kondisi segar. Melalui pelatihan tersebut, kelompoknya mulai mempelajari cara mengolah hasil panen menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

"Selama ini distribusi produk kami hanya menjangkau wilayah Desa Bebatu dan kabupaten. Ke depan, kami berharap ada keberlanjutan agar dapat semakin mendorong perekonomian ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok kami," ujar Rukiah dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026).

Selain teknik pembuatan petis udang, peserta juga memperoleh pelatihan mengenai standar kebersihan produksi, pengemasan secara higienis, pelabelan produk, hingga dasar-dasar keamanan pangan.

Menurut Rukiah, pelatihan tersebut membuka wawasan bahwa hasil tambak tidak harus selalu dijual sebagai bahan mentah. Dengan pengolahan dan pengemasan yang baik, produk olahan berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas.

Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Bebatu Sri Kamariah mengatakan, pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan di desa.

Ia menilai perempuan memiliki peran penting dalam menopang ekonomi keluarga. Karena itu, pemerintah desa terus mendukung kelompok masyarakat yang mengembangkan usaha melalui pendampingan, termasuk dalam penyusunan proposal dan pengembangan program pemberdayaan.

Rehabilitasi mangrove

PPIU Manager Kalimantan Utara Program M4CR Akhmad Ashar Sarif mengatakan, Sekolah Lapang Livelihood merupakan bagian dari upaya menghubungkan rehabilitasi mangrove dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Desa Bebatu menerapkan sistem silvofishery, yaitu model budidaya tambak yang dipadukan dengan pelestarian mangrove sehingga aktivitas ekonomi tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan fungsi ekologis kawasan pesisir.

"Pelatihan sekolah lapang ini merupakan komitmen kami bersama dalam melestarikan mangrove dan meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan," ujar Sarif.

Menurut dia, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari meningkatnya kualitas ekosistem, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Baca juga: Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim

Karena itu, peningkatan kapasitas perempuan menjadi bagian penting dalam membangun ekonomi pesisir yang lebih tangguh. Perempuan tidak hanya berperan dalam mengurus rumah tangga, tetapi juga mengolah hasil perikanan, mendukung kegiatan tambak, hingga mengembangkan usaha mikro berbasis potensi desa.

Sarif mengatakan, ketika ekosistem mangrove tetap terjaga melalui penerapan silvofishery dan masyarakat memiliki keterampilan mengolah hasil tambak menjadi produk bernilai tambah, manfaat konservasi dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat pesisir.

"Ketika ekosistem mangrove tetap terjaga melalui penerapan silvofishery, sementara perempuan memperoleh kesempatan meningkatkan kapasitas dan mengembangkan produk olahan, maka terbentuk fondasi yang lebih kuat bagi terwujudnya ekonomi pesisir yang tangguh dan berkelanjutan," ujarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perkuat Nilai Tambah Ekonomi Mangrove, Perempuan Pesisir di Kaltara Dilatih Olah Hasil Tambak
Perkuat Nilai Tambah Ekonomi Mangrove, Perempuan Pesisir di Kaltara Dilatih Olah Hasil Tambak
LSM/Figur
AC Bukan Jawaban Hadapi Ancaman Suhu Bumi yang Kian Memanas
AC Bukan Jawaban Hadapi Ancaman Suhu Bumi yang Kian Memanas
Pemerintah
Perkuat Pengelolaan Hutan Desa, Belantara Foundation Salurkan Bantuan untuk KUPS
Perkuat Pengelolaan Hutan Desa, Belantara Foundation Salurkan Bantuan untuk KUPS
LSM/Figur
Dorong Inovasi Kota Berkelanjutan, 'FutureGen for Change' Ekspansi ke Tiga Kota Asia Tenggara
Dorong Inovasi Kota Berkelanjutan, "FutureGen for Change" Ekspansi ke Tiga Kota Asia Tenggara
LSM/Figur
Kasus Kanker Naik 66 Persen pada 2050, Perbesar Kesenjangan Kesehatan Dunia
Kasus Kanker Naik 66 Persen pada 2050, Perbesar Kesenjangan Kesehatan Dunia
Pemerintah
Kemandirian dan Ekosistem Jadi Daya Ungkit Ketangguhan UMKM
Kemandirian dan Ekosistem Jadi Daya Ungkit Ketangguhan UMKM
Pemerintah
OJK: Integrasi SRUK dan IDX Carbon Jadi Kunci Tingkatkan Kepercayaan Pasar Karbon Indonesia
OJK: Integrasi SRUK dan IDX Carbon Jadi Kunci Tingkatkan Kepercayaan Pasar Karbon Indonesia
Pemerintah
Peringatan WHO: 92 Persen Populasi Global Akan Terdampak Kanker
Peringatan WHO: 92 Persen Populasi Global Akan Terdampak Kanker
Pemerintah
Sangkulirang-Mangkalihat Simpan Cadangan Karbon 275 Gigaton, Selangkah Lagi Jadi Geopark Nasional
Sangkulirang-Mangkalihat Simpan Cadangan Karbon 275 Gigaton, Selangkah Lagi Jadi Geopark Nasional
LSM/Figur
Google, McKinsey, dan Tencent Investasi di Sektor Penyerapan Karbon Indonesia
Google, McKinsey, dan Tencent Investasi di Sektor Penyerapan Karbon Indonesia
Pemerintah
Simfoni Bunga dan Air, Napas Konservasi di Lereng Merapi
Simfoni Bunga dan Air, Napas Konservasi di Lereng Merapi
Swasta
RI Luncurkan Sistem Registri Unit Karbon Nasional, Empat Proyek Mulai Diperdagangkan
RI Luncurkan Sistem Registri Unit Karbon Nasional, Empat Proyek Mulai Diperdagangkan
Pemerintah
Kesenjangan Literasi Digital Masih Jadi Hambatan UMKM Adopsi AI
Kesenjangan Literasi Digital Masih Jadi Hambatan UMKM Adopsi AI
Swasta
Amazon Teken Kesepakatan Serap 2 Juta Ton Karbon Berbasis Alam
Amazon Teken Kesepakatan Serap 2 Juta Ton Karbon Berbasis Alam
Swasta
Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem
Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau