KOMPAS.com - Perusahaan penyerapan karbon berbasis alam, Thryve.Earth, mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan pembeli resmi pertama dari kalangan perusahaan besar.
Perjanjian pembelian secara terpisah ini disepakati bersama Google, McKinsey & Company --melalui kelompok Symbiosis Coalition, serta Tencent. Lewat kerja sama ini, mereka berkomitmen untuk menyerap 650.000 ton karbon.
Melansir ESG Dive, Kamis (9/7/2026) menurut laporan resmi pada 8 Juli, Google dan McKinsey secara bersama-sama akan membeli kuota penyerapan sebesar 335.000 ton karbon sebagai sesama anggota Symbiosis Coalition.
Kelompok tersebut merupakan perkumpulan para pembeli besar yang telah berjanji sejak awal untuk membeli total 20 juta ton kredit penyerapan karbon berbasis alam hingga tahun 2030 nanti.
Sementara Tencent, perusahaan besar di bidang teknologi dan hiburan, secara terpisah akan membeli kuota penyerapan sebesar 300.000 ton karbon. Tencent menyatakan bahwa kesepakatan ini merupakan pembelian kredit karbon pertama mereka yang dilakukan di luar negara China.
Baca juga: RI Luncurkan Sistem Registri Unit Karbon Nasional, Empat Proyek Mulai Diperdagangkan
Thryve, perusahaan yang memiliki proyek utama penyerapan karbon di India dan Indonesia, menjelaskan bahwa kredit karbon ini akan dihasilkan dari proyek mereka dalam memulihkan hutan hujan di Sulawesi. Kedua kesepakatan tersebut baik dengan Google dan McKinsey, maupun dengan Tencent akan berjalan selama jangka waktu 10 tahun.
Perusahaan penyerapan karbon tersebut mengatakan bahwa bantuan dana dari penjualan karbon ini sangat penting agar proyek bisa berkembang besar.
Komitmen pembelian dari perusahaan-perusahaan raksasa tersebut memberikan kepastian jumlah dan harga yang sangat dibutuhkan untuk mengumpulkan modal, sehingga proyek ini bisa diperluas hingga mencakup ribuan hektar lahan.
Lebih lanjut, Thryve menjelaskan dalam laporannya bahwa proyek ini bertujuan untuk memulihkan 6.000 hektar ekosistem. Caranya adalah dengan menggunakan sistem pertanian tumpang sari yang bisa menyerap karbon, menyuburkan kembali tanah, mengurangi risiko kebakaran, serta meningkatkan keanekaragaman hayati dan pendapatan bagi petani lokal.
Sistem pertanian yang digunakan dalam proyek ini akan membuat lapisan-lapisan tanaman dan pelindung untuk memberikan berbagai macam sumber penghasilan bagi petani, di luar penghasilan dari penjualan karbon.
Lapisan paling atas hutan akan diisi oleh pohon aren dan pohon kayu, lapisan tengah akan ditanami pepaya, alpukat, kopi, dan pisang, sedangkan di lapisan paling bawah akan ditanami cabai dan jagung. Thryve menjelaskan bahwa pohon buah dan pohon kayu yang ditanam ini akan menyimpan karbon dalam jangka panjang.
Direktur Eksekutif Symbiosis Coalition, Julia Strong, mengatakan bahwa perjanjian pembelian ini memberikan kepastian bagi Thryve untuk membangun proyek dalam skala besar. Menurutnya, hal ini adalah tanda yang tepat untuk membuka dampak nyata dari pasar karbon dan proyek seperti Thryve bagi masyarakat serta bumi.
"Proyek Thryve membuktikanbahwa dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan bukan sekadar bonus sampingan dari proyek yang jujur, melainkan faktor utama yang mendorong keberhasilan proyek tersebut,” kata Strong.
Symbiosis Coalition diluncurkan pada tahun 2024 oleh Google, Meta, Microsoft, McKinsey, dan Salesforce. Perusahaan Bain & Co. dan REI juga ikut bergabung menjadi anggota kelompok ini setelah peluncurannya.
Baca juga: Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Selain berjanji sejak awal untuk membeli kredit dari proyek penghijauan kembali, Symbiosis juga berharap kerja keras mereka bisa membantu mengatasi masalah biaya proyek yang mahal, kurangnya minat investor, atau menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap dampak sosial dan lingkungan dari proyek berbasis alam.
Kesepakatan dengan Thryve ini menjadi kontrak pembelian ketiga yang diumumkan oleh Symbiosis Coalition. Sebelumnya, pada bulan November, Google dan McKinsey sebagai anggota kelompok membeli kuota penyerapan sebesar 215.000 ton karbon dari perusahaan Mombak di Brasil.
Kemudian pada bulan Maret, kelompok ini mengumumkan bahwa Google, McKinsey, dan Meta telah mengikat kontrak untuk menyerap lebih dari 130.000 ton karbon bersama Living Carbon, sebuah perusahaan yang mengurus penghijauan kembali di wilayah pegunungan Appalachia, Amerika Serikat.
Sementara itu, Tencent memiliki target untuk mencapai bebas polusi di seluruh operasional dan jaringan bisnisnya, serta menggunakan 100 persen listrik ramah lingkungan pada tahun 2030.
Menurut situs resminya, strategi bebas emisi Tencent berfokus pada penghematan energi, penggunaan energi terbarukan, dan dukungan terhadap teknologi baru untuk menebus polusi karbon.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya