KOMPAS.com - Kelompok pencinta lingkungan memperingatkan bahwa perubahan iklim bisa menyebabkan peristiwa kematian massal yang mengerikan pada paus abu-abu di Samudra Pasifik.
Melansir Guardian, Jumat (10/7/2026) melelehnya es di laut membuat sumber makanan mereka habis, sehingga hewan-hewan tersebut mati kelaparan.
Sementara itu, berbagai masalah lain seperti tertabrak kapal, tumpahan minyak, polusi mikroplastik, ledakan alga beracun, dan perburuan oleh Rusia kemungkinan besar ikut memperparah kematian massal ini.
Akibatnya, jumlah populasi paus tersebut berkurang hampir setengahnya. Jumlah mereka anjlok dari sekitar 20.000 ekor pada tahun 2019 menjadi kurang dari 13,000 ekor pada tahun ini, dan angka kematiannya terlihat semakin cepat.
Kelompok pencinta lingkungan telah mengajukan permohonan kepada Badan Administrasi Atmosfer dan Keautan Nasional (NOAA) untuk memasukkan kembali paus abu-abu ke dalam daftar Spesies Terancam Punah (ESA).
Baca juga: Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
Langkah ini dinilai bisa mengurangi beberapa masalah, namun peluang disetujuinya sangat kecil karena pemerintah Trump justru bergerak untuk memangkas aturan perlindungan satwa liar.
"Paus-paus ini sedang berada dalam masalah yang sangat, sangat serius," kata Rick Steiner, ahli ekologi laut dari Alaska sekaligus ketua dewan direksi Public Employees for Environmental Responsibility (PEER).
"Jumlah paus yang terdampar pada tahun lalu dan tahun ini sangat besar jika dibandingkan dengan rata-rata tahunan mereka," kata Steiner.
Terdampar adalah istilah untuk paus yang mati atau terjebak dan hanyut sampai ke tepi pantai.
Paus abu-abu, yang setiap tahun berenang jauh dari Baja California, Meksiko ke Alaska untuk mencari makan, sempat hampir punah pada tahun 1970-an, tetapi jumlahnya sempat naik kembali berkat upaya penyelamatan yang kuat.
Mereka kemudian dikeluarkan dari daftar hewan terancam punah pada tahun 1994, sebuah keputusan yang disebut Steiner sebagai kesalahan yang sangat besar.
Perkiraan dampak paling buruk terjadi pada tahun 2025 dan 2026, sekitar 2.500 hingga 8.000 ekor paus diperkirakan telah mati dalam jangka waktu ini, yang memenuhi syarat untuk disebut sebagai "peristiwa kematian massal yang mengerikan".
Menentukan jumlah pasti kematian sangatlah sulit karena para ahli biologi laut hanya bisa menghitung paus yang terdampar di pantai.
Rata-rata jumlah paus abu-abu yang terdampar dari tahun 2006 hingga 2023 adalah 43 ekor per tahun, namun jumlahnya melonjak menjadi 179 ekor pada tahun 2025. Sepanjang paruh pertama tahun ini saja, sudah ada 146 bangkai paus yang dihitung secara langsung.
Penelitian ilmiah memperkirakan perbandingan antara paus yang mati tenggelam di tengah laut dengan yang terdampar di pantai adalah antara 7 banding 1 sampai 25 banding 1.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya