KOMPAS.com - Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa generasi muda saat ini kemungkinan menua lebih cepat secara biologis dibandingkan generasi terdahulu mereka.
Hal tersebut kemudian diduga menjadi menjadi alasan di balik melonjaknya kasus kanker di usia muda.
Melansir Live Science, Rabu (1/7/2026) belakangan ini, terjadi peningkatan jumlah kasus beberapa jenis kanker pada orang dewasa di bawah usia 50 tahun, seperti kanker payudara, usus besar, ginjal, dan rahim.
Sebuah laporan tahun 2023 menunjukkan bahwa diagnosis kanker pada usia muda melonjak hingga 25 persen di seluruh dunia antara tahun 1990 dan 2019, dan para ilmuwan masih terus menyelidiki penyebab pastinya.
"Tren meningkatnya kasus kanker pada usia yang lebih muda ini sangat nyata, dan ini bukan sekadar karena alat periksa kita sekarang lebih canggih atau karena penyakitnya terdeteksi lebih awal," kata Dr. Jyoti Nangalia, peneliti kanker dari Wellcome Sanger Institute di Inggris yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
"Ada kemungkinan tubuh kita terpapar risiko baru penyebab kanker, atau benteng pertahanan alami di dalam tubuh kita entah bagaimana telah berubah," jelasnya.
Baca juga: Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Penelitian terbaru yang diterbitkan pada 22 Juni di jurnal Nature Medicine menunjukkan bahwa generasi muda saat ini memiliki "jarak" yang lebih lebar antara usia asli mereka dan usia biologis dibandingkan dengan generasi yang lebih tua. Jarak yang semakin besar pada orang dewasa muda ini tampaknya berhubungan erat dengan tingginya risiko terkena kanker di usia dini.
Penelitian baru ini memang belum bisa membuktikan secara pasti bahwa penuaan biologis yang lebih cepat adalah penyebab langsung kanker di usia muda, tetapi temuan tersebut memberikan petunjuk baru bagi para ilmuwan yang sedang berusaha mengungkap apa yang memicu tren yang mengkhawatirkan ini.
"Ini benar-benar pembuktian dari sebuah konsep baru," kata Yin Cao, salah satu penulis penelitian dan ahli penyakit molekuler dari Washington University School of Medicine dan Siteman Cancer Center.
Usia asli sangatlah sederhana. Itu adalah jumlah tahun yang telah berlalu sejak seseorang lahir.
Namun, usia biologis bisa sangat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Istilah umum ini menggambarkan berbagai ukuran kesehatan tubuh, termasuk tanda-tanda khusus pada DNA dan di dalam aliran darah.
Hal ini sering kali diukur menggunakan "jam penuaan", alat yang bertujuan untuk mendeteksi apakah kondisi tubuh seseorang bekerja jauh lebih tua daripada usia aslinya di KTP.
Para ilmuwan semakin sering menggunakan ukuran penuaan ini untuk memahami mengapa sebagian orang lebih mudah terserang penyakit tua dibandingkan orang lainnya.
Untuk memeriksa apakah ada hubungan antara usia biologis dan melonjaknya kasus kanker di usia muda, penelitian baru ini memeriksa data lebih dari 150.000 orang dewasa di UK Biobank,sebuah proyek besar di Inggris yang telah memantau kesehatan sekitar setengah juta orang sejak pertengahan tahun 2000-an.
Peneliti memasukkan data tersebut ke dalam PhenoAge, sebuah sistem hitung digital yang bisa menebak "jarak usia" tubuh seseorang dibandingkan usia aslinya.
Analisis tersebut menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Para peserta di Inggris yang lahir antara tahun 1965 dan 1974 memiliki jarak usia tubuh yang lebih tua dibandingkan mereka yang lahir antara tahun 1950 dan 1954 pada usia asli yang sama. Berdasarkan alat ukur PhenoAge, kelompok yang lebih muda ini memiliki tingkat penuaan tubuh yang sedikit lebih cepat.
Para peneliti kemudian menerapkan cara yang sama pada sekitar 10.000 peserta di bank data Amerika Serikat.
Di sana, mereka menemukan pola yang jauh lebih parah. Orang-orang yang lahir antara tahun 1990 dan 1999 memiliki jarak penuaan tubuh yang melonjak jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang lahir antara tahun 1965 dan 1969.
Pada kelompok data di Inggris, para peneliti menemukan bahwa peserta yang usia tubuhnya menua lebih cepat lebih mudah terkena kanker tumor padat. Hubungan ini paling kuat ditemukan pada kanker paru-paru, kanker saluran pencernaan, dan kanker rahim. Temuan ini didasarkan pada catatan medis asli para pasien.
Ketika para peserta dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan usia biologis mereka, kelompok yang tubuhnya paling tua memiliki risiko terkena kanker tumor padat 15 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tubuhnya paling muda.
Untuk menyelidiki lebih dalam, para penulis menggunakan sistem hitung lain yang bisa menebak penuaan biologis pada organ dan sistem tubuh tertentu lewat protein dalam darah.
Pada hampir 20.000 peserta, mereka menemukan bahwa sistem imun yang menua sebelum waktunya berhubungan erat dengan tingginya risiko kanker paru-paru di usia muda. Begitu pula dengan jaringan lemak yang menua lebih cepat, berhubungan dengan tingginya risiko kanker usus besar di usia muda.
Apakah ini berarti generasi muda menua lebih cepat dan hal itu menyebabkan peningkatan kasus kanker? Mungkin saja, tetapi bisa juga tidak karena ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan dari temuan penelitian ini.
Baca juga: Kasus Kanker Naik 66 Persen pada 2050, Perbesar Kesenjangan Kesehatan Dunia
Pola ini menurut peneliti masih perlu dibuktikan lagi pada kumpulan data dan kelompok masyarakat yang lain.
Selain itu tes penuaan biologis, termasuk sistem PhenoAge, juga masih tergolong baru, dan dampak pastinya belum sepenuhnya dipahami. Meskipun tes ini jelas bisa menggambarkan kondisi kesehatan dan risiko penyakit pada sekelompok besar orang, hasil tes yang berbeda bisa memberikan jawaban yang sangat bertolak belakang jika digunakan pada satu orang yang sama.
Lebih lanjut, sama seperti penelitian pengamatan lainnya yang menggunakan bank data raksasa, sangat sulit untuk memisahkan antara mana yang menjadi penyebab dan mana yang menjadi akibat.
"Masalah utama dari laporan ilmiah ini adalah soal hubungan kecocokan lawan sebab-akibat," kata Cao.
"Meski begitu, penelitian ini tetap berguna. Jika ini hanya sebatas kecocokan data, ini bisa jadi cara memantau kesehatan masyarakat dan risiko kanker. Namun jika ini adalah sebab-akibat langsung, ini bisa memberi gambaran bagaimana kanker terbentuk," paparnya lagi.
Cao berharap metode yang digunakan timnya bisa menjadi alat bantu baru yang berguna untuk mencari tahu mengapa semakin banyak anak muda yang terkena kanker.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya