Setelah disesuaikan dengan berat tubuhnya, hewan dari Samudra Hindia mengandung mikroplastik hingga 14,7 kali lipat lebih banyak.
Para peneliti menduga bahwa perbedaan aktivitas manusia di sekitar lokasi, jumlah sampah plastik yang terbawa dari sungai, serta pola arus laut yang besar menjadi penyebab perbedaan ini.
Baca juga: Potensi Tanaman Kelor, Mampu Saring Mikroplastik dalam Air
Temuan ini memberikan bukti ilmiah pertama bahwa polusi plastik yang berasal dari permukaan laut bisa terbawa hingga ribuan meter ke bawah, sampai ke salah satu ekosistem laut paling terpencil dan ekstrem di bumi.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sifat fisik hewan seperti cara mereka makan memengaruhi cara mikroplastik menumpuk di dalam tubuh, sementara kondisi lingkungan di wilayah tersebut menentukan seberapa parah tingkat pencemarannya.
Temuan-temuan ini diharapkan dapat membantu pengawasan lingkungan laut dalam di masa depan, penilaian dampak lingkungan untuk penambangan mineral di laut dalam, serta rencana penyelamatan jangka panjang bagi ekosistem laut dalam.
"Polusi plastik sekarang bahkan telah menyebar ke ekosistem ventilasi bawah laut yang dulu dianggap sebagai salah satu lingkungan paling terpencil di bumi," kata Kim, salah satu penulis utama penelitian ini.
"Temuan kami memberikan bukti ilmiah yang penting untuk membuat sistem pengawasan lingkungan dan kebijakan penyelamatan laut dalam di masa depan," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya