JAKARTA, KOMPAS.com – Upaya mencetak sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang mampu bersaing di pasar kerja internasional terus diperkuat melalui kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri.
Salah satunya diwujudkan melalui pembukaan Program Daito Class Batch 2, hasil kerja sama PT Satria Jaya Internasional, Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), dan Daito Trust Construction Co, Ltd. (Jepang).
Program tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa Indonesia untuk memperoleh kompetensi bahasa Jepang, memahami budaya dan etika kerja, sekaligus menguasai pengetahuan teknis konstruksi sesuai kebutuhan industri di Jepang.
Inisiatif itu juga menjadi bentuk nyata dukungan terhadap Asta Cita pemerintah, khususnya penguatan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan akses pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Baca juga: Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang ketimbang Pendidikan
Program Daito Class dirancang sebagai jembatan antara perguruan tinggi dan dunia industri. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk menguasai bahasa Jepang, tetapi juga dibekali keterampilan teknis dan karakter kerja yang dibutuhkan perusahaan konstruksi di Negeri Sakura.
Tiga pilar utama program meliputi pencapaian sertifikasi Japanese Language Proficiency Test (JLPT), pembelajaran teknologi konstruksi Jepang, serta pemahaman mengenai budaya dan etika kerja.
Seluruh materi tersebut disusun untuk menjawab kebutuhan industri konstruksi Jepang yang saat ini menghadapi kekurangan tenaga kerja usia produktif.
Rektor Unsika Ade Maman Suherman mengatakan, Daito Class bukan sekadar program pendidikan, melainkan langkah strategis untuk membawa mahasiswa Indonesia tampil di panggung internasional.
"Hari ini kita menyaksikan tonggak penting. Ini bukan sekadar program pendidikan biasa, melainkan wujud nyata cita-cita agar mahasiswa Indonesia mampu hadir dan bersaing di tingkat internasional," ujar Ade saat meresmikan program Daito Class Batch 1 di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Baca juga: Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Ia menjelaskan, gagasan tersebut mulai diwujudkan melalui Batch 1 pada 2024 yang kemudian berjalan sepanjang 2025. Kini, pembukaan Batch 2 menunjukkan komitmen seluruh pihak dalam menjaga keberlanjutan program.
Untuk diketahui, jumlah peserta program Batch 2 mencapai 31 mahasiswa. Sementara, pada Batch 1, sebanyak 25 mahasiswa terpilih mengikuti program ini.
Menurut Ade, kemitraan antara Unsika, PT Satria Jaya Internasional, serta Daito Trust Construction merupakan hubungan yang saling menguatkan antara perguruan tinggi dan dunia industri.
"Program itu sejalan dengan arah kebijakan pendidikan tinggi nasional, semangat pendidikan berdampak, serta pencapaian indikator kinerja utama, khususnya dalam mempersiapkan lulusan memasuki dunia kerja dengan pengalaman belajar berstandar internasional," katanya.
Ia menambahkan, mahasiswa yang nantinya bekerja di Jepang tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama Karawang, Jawa Barat, bahkan Indonesia.
Rektor Universitas Singaperbangsa Karawang Ade Maman Suherman membuka program Daito Class Batch 2 di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Kamis (16/7/2026).Sebagai daerah yang berkembang sebagai kawasan industri dan manufaktur, Karawang dinilai memiliki peluang besar untuk menghasilkan tenaga kerja yang mampu berkiprah di perusahaan global.
Oleh karena itu, Unsika berkomitmen memastikan kesempatan mengikuti program tersebut dapat diakses lebih luas oleh mahasiswa.
"Tugas kami sebagai lembaga pendidikan tinggi adalah memastikan keterbatasan biaya tidak menjadi penghalang bagi mahasiswa yang bersungguh-sungguh. Kesempatan ini harus adil dan terjangkau bagi semua," ujar Ade.
Baca juga: Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Ia juga berpesan kepada peserta Batch 2 agar menjaga disiplin selama mengikuti program, mengingat budaya kerja Jepang identik dengan ketepatan waktu, tanggung jawab, dan konsistensi.
Selain itu, mahasiswa juga diminta fokus mengejar target sertifikasi JLPT sebagai salah satu bekal utama memasuki dunia kerja internasional.
"Jaga nama baik kampus di mana pun kalian berada. Kalian adalah duta Unsika yang menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki integritas dan dapat diandalkan," tuturnya.
Sementara itu, Pejabat Eksekutif Daito Trust Construction Co., Ltd., Nobuyoshi Takahashi, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan penyelenggaraan Batch 1 yang menjadi fondasi bagi pengembangan program pada tahun berikutnya.
Menurutnya, selama satu tahun terakhir, para mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam mempelajari bahasa Jepang, teknologi konstruksi, serta budaya kerja Jepang.
"Kami sangat terkesan melihat semangat belajar dan kesungguhan para mahasiswa dalam mengikuti program ini," ujarnya.
Baca juga: Kisah Teuku Feroz Menjembatani Akses Pendidikan Tinggi untuk Anak-anak Aceh
Ia juga mengapresiasi dukungan dari Unsika, PT Satria Jaya Internasional, serta pemerintah Indonesia yang turut mendorong terlaksananya kolaborasi tersebut.
Memasuki Batch 2, Daito Trust berkomitmen terus meningkatkan kualitas pembelajaran agar peserta memiliki kesempatan berkembang lebih jauh dan siap menghadapi kebutuhan industri konstruksi Jepang.
"Berbagai pencapaian pada tahun pertama menjadi landasan bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas program sehingga mahasiswa dapat berkembang dalam lingkungan belajar yang semakin baik," katanya.
Takahashi menilai, hubungan persahabatan Indonesia dan Jepang yang telah terjalin selama puluhan tahun perlu terus diperkuat melalui pengembangan sumber daya manusia.
Ia berharap, lulusan Daito Class tidak hanya mampu bekerja di Jepang, tetapi juga menjadi jembatan kolaborasi kedua negara dalam bidang industri dan pembangunan.
"Kami berharap, semakin banyak sumber daya manusia yang mampu menjadi penghubung Indonesia dan Jepang, sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat dan negaranya masing-masing," ujarnya.
Pengalaman mengikuti Batch 1 turut dibagikan oleh mahasiswa Program Studi Teknik Industri Unsika, Nawang Natalia Putri. Ia mengaku sempat ragu mendaftar karena harus membagi waktu antara kuliah, organisasi, dan belajar bahasa Jepang.
Namun, setelah mengetahui besarnya kebutuhan kompetensi tambahan di dunia kerja serta mahalnya biaya pelatihan bahasa Jepang, ia akhirnya memutuskan mengikuti program tersebut.
"Saya menyadari, persaingan kerja sekarang tidak hanya membutuhkan IPK tinggi, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, pengalaman, dan penguasaan bahasa asing. Program ini menjadi kesempatan yang sangat berharga," katanya.
Baca juga: 17 Tahun Siapkan Kopi untuk Dosen, Kini Pramu Bakti Unsika Jadi ASN
Nawang menuturkan, saat pertama kali mengikuti kelas, ia bahkan belum mampu membaca huruf Hiragana.
Melalui proses belajar selama satu tahun bersama para pengajar dan dukungan sesama peserta, kini ia telah mampu membaca, menulis, serta berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang.
"Bagi sebagian orang (pencapaian tersebut) mungkin hal itu biasa, tetapi bagi saya itu adalah bukti bahwa usaha yang dilakukan secara konsisten pasti membuahkan hasil," ujarnya.
Tidak hanya kemampuan bahasa, ia juga memperoleh pemahaman mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3), filosofi Kaizen, konsep 5S Jepang, serta cara berpikir sistematis dalam menyelesaikan masalah.
Menurutnya, seluruh materi tersebut sangat relevan dengan kebutuhan dunia industri dan menjadi bekal penting bagi mahasiswa teknik.
"Perubahan terbesar yang saya rasakan bukan hanya pada kemampuan bahasa, melainkan pada cara berpikir. Saya belajar bahwa dunia kerja membutuhkan orang yang terus mau belajar, mampu beradaptasi, berani keluar dari zona nyaman, dan tidak takut mengambil kesempatan," katanya.
Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran Picu Kenaikan Tarif Penerbangan hingga Ganggu Pendidikan
Kepada peserta Batch 2, Nawang berpesan agar tidak takut memulai meskipun merasa belum memiliki kemampuan yang cukup.
"Keberanian adalah tetap melangkah meskipun kita belum tahu bagaimana hasilnya. Setiap proses yang dijalani mulai hari ini akan menjadi bekal yang sangat berharga untuk masa depan," ujarnya.
Melalui Daito Class Batch 2, kolaborasi antara PT Satria Jaya Internasional, Unsika, dan Daito Trust Construction menunjukkan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri mampu menghadirkan pendidikan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan global.
Program tersebut diharapkan tidak hanya membuka peluang karier bagi mahasiswa Indonesia di Jepang, tetapi juga memperkuat kualitas SDM nasional sebagai modal pembangunan menghadapi tantangan dunia kerja.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya