Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Soroti Ancaman Sampah Antariksa yang Makin Mengkhawatirkan

Kompas.com, 22 Juli 2026, 07:52 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di tengah gencarnya misi penjelajahan ke Bulan, PBB mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk memastikan bahwa kembalinya manusia ke Bulan tidak mengorbankan planet Bumi maupun kelestarian jangka panjang antariksa.

“Aktivitas antariksa yang melonjak cepat selama puluhan tahun menunjukkan bahwa setiap peluncuran roket meninggalkan jejak kerusakan lingkungan, dan butuh waktu lama untuk bisa memahami dampaknya secara penuh. Inilah mengapa sangat penting untuk memikirkan kelestarian program-program ini sejak awal,” kata Jason Jabbour, Pejabat Senior di Program Lingkungan PBB (UNEP).

Melansir laman resmi United Nations, Senin (20/7/2026) eksplorasi luar angkasa menjadi penting untuk dibahas mengingat sampah antariksa bertambah sangat cepat di sekitar Bumi. Polusi dari satelit tersebut dapat merusak lapisan atmosfer dan ozon.

Perjanjian PBB mendorong penjelajahan yang bertanggung jawab dan pengurangan sampah antariksa karena melindungi ruang angkasa turut menjaga kehidupan dan ekosistem di Bumi.

Sampah luar angkasa

Meskipun sudah ada kesepakatan internasional untuk mencegah pencemaran ruang angkasa, diperkirakan ada sekitar 140 juta potongan sampah yang ukurannya lebih besar dari satu milimeter saat ini mengelilingi Bumi.

Baca juga: Perang Nuklir Skala Kecil di Wilayah Tropis Berpotensi Rusak Total Lapisan Ozon Bumi

Sebagian besar sampah ini terlalu kecil untuk dilacak, tetapi tetap berbahaya dan bisa merusak satelit maupun pesawat luar angkasa.

Namun, kekhawatiran terhadap lingkungan ini bukan cuma soal risiko tabrakan saja.

Satelit yang sudah tidak berfungsi akhirnya akan jatuh dan terbakar saat masuk kembali ke atmosfer Bumi. Proses ini melepaskan bahan-bahan logam seperti aluminium, litium, dan tembaga. Para ilmuwan sedang meneliti apakah bahan-bahan ini dapat merusak reaksi kimia di atmosfer, pembentukan awan, dan lapisan ozon.

Bagian roket yang dilepas saat peluncuran juga memperparah masalah ini. Sebagian ada yang terus melayang di luar angkasa selama bertahun-tahun sebelum akhirnya hancur atau jatuh ke Bumi, sementara sebagian lainnya pecah menjadi ribuan kepingan kecil.

Ratusan ton bangkai pesawat ruang angkasa dan roket diperkirakan jatuh ke atmosfer setiap tahunnya, dan jumlah ini diprediksi akan makin melonjak seiring bertambahnya jaringan satelit.

Benda-benda kecil sisa misi, seperti baut, penutup lensa, dan pelindung alat, turut membuat ruang angkasa makin padat. Selain itu, benturan dan ledakan yang terjadi berulang kali menghasilkan partikel-partikel mikro, yang menurut para ilmuwan kini mulai membuat langit malam tampak makin terang secara tidak alami.

Meskipun sebagian besar pesawat ruang angkasa habis terbakar saat masuk kembali ke atmosfer, komponen yang lebih besar dan tahan panas bisa bertahan dan jatuh ke Bumi. Hal ini membawa risiko bagi keselamatan manusia, bangunan di darat, hingga kehidupan laut.

Eksplorasi ke Bulan

Bulan telah memikat manusia selama ribuan tahun, menginspirasi mitos, sains, dan petunjuk arah, sekaligus secara tenang mengatur kehidupan di Bumi melalui gaya gravitasinya yang kuat.

Dari jarak hampir 400.000 kilometer, Bulan menghasilkan pasang surut air laut yang memberi oksigen ke perairan pesisir, menyebarkan nutrisi, dan menjaga kelestarian ekosistem laut, termasuk Terumbu Karang Great Barrier Reef. Para ilmuwan menyebutkan bahwa memahami Bulan juga memberikan petunjuk penting tentang asal-usul dan perkembangan tata surya kita.

Minat untuk menjelajahi Bulan melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir. Awal tahun ini, misi Artemis II milik NASA membawa empat astronot dalam perjalanan 10 hari mengelilingi Bulan, sebagai bagian dari rencana untuk menempatkan manusia di sana dalam jangka panjang pada dekade 2030-an.

China, India, Jepang, dan beberapa perusahaan swasta juga sedang gencar menjalankan program Bulan mereka masing-masing.

Baca juga: Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang

Namun, seiring makin ramainya aktivitas di luar angkasa, kekhawatiran akan dampaknya terhadap lingkungan juga makin meningkat.

Konsep kelestarian antariksa mengimbau agar semua penjelajahan dan kegiatan di luar Bumi dilakukan dengan tetap menjaga lingkungan ruang angkasa bagi generasi mendatang.

Untuk mewujudkan komitmen tersebut, negara-negara anggota PBB telah menyetujui pedoman untuk membatasi timbulnya sampah antariksa.

Cara yang dilakukan antara lain dengan mengurangi limbah yang tidak perlu, mencegah ledakan, melarang perusakan sengaja terhadap pesawat ruang angkasa, serta menyingkirkan satelit dan bagian roket yang sudah tidak terpakai dari orbit secara aman.

Di bawah Konvensi Tanggung Jawab PBB tahun 1972, negara-negara yang meluncurkan objek ke luar angkasa wajib bertanggung jawab atas kerusakan yang disebabkan oleh objek mereka di Bumi, termasuk untuk peluncuran yang dilakukan secara gabungan oleh beberapa negara.

Untuk mengatasi risiko-risiko baru ini, Badan Lingkungan PBB (UNEP) dan Kantor PBB untuk Urusan Luar Angkasa bekerja sama memperkuat pemahaman ilmiah tentang dampak kegiatan antariksa terhadap lingkungan. Kerja sama ini juga bertujuan memastikan agar perlindungan lingkungan dimasukkan ke dalam aturan tata kelola ruang angkasa di masa depan.

Saat manusia bersiap untuk kembali dan menetap di Bulan, PBB menegaskan bahwa menjaga lingkungan ruang angkasa dan Bumi harus tetap menjadi fokus utama dalam babak baru penjelajahan ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Pemerintah
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
LSM/Figur
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
LSM/Figur
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Pemerintah
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Pemerintah
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik  Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
LSM/Figur
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Pemerintah
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
Pemerintah
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Pemerintah
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
LSM/Figur
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau