KOMPAS.com - Lembah Kering McMurdo atau McMurdo Dry Valleys di Antartika adalah salah satu tempat paling terpencil dan alami di Bumi, namun tanahnya kini tak lagi bebas dari sampah plastik.
Melansir Earth, Rabu (22/7/2026) para peneliti menemukan mikroplastik dan nanoplastik pada sampel tanah yang diambil dari wilayah Antartika, termasuk partikel yang sudah terkubur di bawah permukaan tanah.
Temuan ini menunjukkan betapa luasnya penyebaran polusi plastik, hingga mampu menjangkau wilayah yang paling terisolasi di planet ini.
Penemuan tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai dampaknya terhadap ekosistem kutub yang sangat rentan.
Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh Lancaster University.
Sampel tanah yang diambil pada Januari 2023 menunjukkan adanya berbagai jenis plastik di tanah Dry Valleys.
Para peneliti menemukan polipropilena, polietilena, PET, polivinil klorida (PVC), polistirena, hingga partikel remahan ban bekas.
Baca juga: Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Polusi plastik sudah menjadi masalah global yang tercatat dengan jelas selama bertahun-tahun, dan para ilmuwan sebelumnya telah menemukan plastik ukuran besar maupun mikroplastik di perairan sekitar Antartika.
Namun, hal yang selama ini kurang mendapat perhatian adalah kondisi daratannya. Tanah Antartika sempat menjadi area yang luput dari penelitian.
Tanah Antartika adalah wilayah yang paling mendekati lingkungan yang benar-benar belum tersentuh oleh kegiatan manusia.
Namun, plastik ditemukan di lapisan tanah paling atas di 13 titik sampel yang berbeda, dan nanoplastik secara khusus muncul di 54 persen dari sampel tanah bagian atas tersebut.
Saat menggali lebih dalam, para peneliti juga menemukan nanoplastik di lapisan tanah bawah pada separuh dari lokasi yang diuji, meskipun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang ada di permukaan.
Temuan ini menjadi ajang pembuktian bahwa polusi plastik memang sudah tidak memiliki batas lagi, tapi sekaligus pertanyaan masih adakah sudut-sudut Bumi yang berhasil bertahan dan tetap bersih.
Semua temuan ini sebenarnya tidak akan bisa terdeteksi tanpa adanya kemajuan teknologi laboratorium baru-baru ini.
Tim peneliti menggunakan metode baru yang canggih untuk menguji sampel tanah tersebut.
Teknologi ini mampu mendeteksi partikel plastik yang ukurannya sangat kecil, jenis plastik yang pasti akan lolos dan tidak terdeteksi oleh alat penguji versi lama.
Lebih lanjut, belum ada yang tahu pasti bagaimana plastik-plastik ini bisa sampai di sana. Namun, para peneliti menduga pencemaran ini kemungkinan berasal dari gabungan beberapa sumber.
Sebagian pencemaran mungkin berasal dari stasiun-stasiun penelitian yang ada di Antartika sendiri. Sementara itu, partikel lainnya kemungkinan telah terbawa angin melintasi jarak yang sangat jauh melalui atmosfer sebelum akhirnya mengendap di dalam tanah.
Untuk mengetahui secara pasti berapa banyak kontribusi dari masing-masing sumber tersebut, serta apa dampaknya bagi ekosistem yang sebelumnya hampir tidak pernah tersentuh plastik, masih diperlukan lebih banyak penelitian lanjutan.
"Bukti ini menunjukkan bahwa tanah di salah satu lingkungan paling murni di Bumi pun tidak bebas dari pencemaran plastik," ujar Nhu Phan, penulis utama studi.
"Temuan ini menegaskan perlunya penelitian mendesak mengenai ke mana arah pergerakan plastik, bagaimana cara berpindahnya, serta apa dampaknya bagi ekosistem di wilayah kutub," paparnya.
Para peneliti benar-benar khawatir tentang apa arti temuan ini bagi ekosistem Antartika.
Lingkungan kutub sebenarnya bisa jadi jauh lebih rentan terhadap pencemaran plastik dibandingkan wilayah yang lebih hangat. Hewan tak bertulang belakang seperti serangga kecil atau cacing yang hidup di sana memiliki metabolisme dan pertumbuhan yang cenderung lebih lambat.
Ciri-ciri tersebut membuat hewan-hewan di Antartika lebih sulit beradaptasi dan lebih mudah terkena dampak zat kimia berbahaya yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya.
"Temuan kami meningkatkan kekhawatiran mengenai sejauh mana jangkauan pencemaran plastik di seluruh dunia," kata salah satu penulis penelitian, Crispin Halsall dari Lancaster University.
"Masih belum jelas apakah partikel nanoplastik yang sangat halus ini terbawa oleh angin dari tempat yang sangat jauh, atau berasal dari sampah plastik besar di pantai Antartika yang hancur terkikis cuaca," katanya lagi.
Jika sebagian besar plastiknya berasal dari lokal, membersihkan stasiun penelitian dan memperketat aturan sampah di Antartika tentu bisa sangat membantu.
Namun, jika plastik tersebut terbawa angin dari berbagai belahan dunia, pembersihan di tingkat lokal saja tidak akan pernah cukup.
Solusinya harus dilakukan dalam skala yang jauh lebih besar, yaitu dari tempat mana pun plastik itu berasal sejak awal.
Baca juga: Kerugian akibat Polusi Plastik Diperkirakan Capai Rp 44.340 Triliun Per Tahun
Para peneliti menegaskan bahwa hasil temuan mereka menunjukkan perlunya kerja sama internasional yang mendesak untuk mengurangi sampah plastik di seluruh dunia.
Mereka juga mendesak aturan pengelolaan sampah yang lebih ketat di wilayah Antartika itu sendiri.
Dua langkah pencegahan ini sangat masuk akal mengingat apa yang mereka temukan. Penemuan polusi plastik seperti ini tidak akan berhenti di satu lembah terpencil di Antartika saja.
Ini adalah tanda peringatan betapa plastiknya sudah benar-benar meresap ke dalam sistem Bumi, bahkan telah mencapai tempat-tempat yang mungkin tak akan pernah diinjak oleh kebanyakan orang.
Penemuan ini menunjukkan bahwa polusi plastik bukan lagi masalah lokal.
Polusi ini telah menjadi bagian permanen dari dunia modern, sebuah masalah yang bahkan tak bisa lagi dihindari oleh sudut-sudut Bumi yang paling terisolasi dan tertutup es.
Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Scientific Reports.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya